- Kementerian Pertahanan mengevaluasi Program SPPI setelah lima peserta meninggal saat mengikuti Latihan Dasar Militer pada Juni 2026.
- BPSDM Kemhan memperketat pengawasan medis, profiling kesehatan, serta mekanisme deteksi dini untuk menjamin keselamatan seluruh peserta pelatihan.
- Metode pelatihan diubah menjadi lebih adaptif dengan mengutamakan aspek kesehatan serta psikologis peserta dibandingkan pendekatan ketegasan fisik.
Novia yang memiliki riwayat tuberkulosis me gakami gangguan kesehatan pada 22 Juni. Tim kesehatan satuanangsung memberikan penanganan.
Novian sempat menjalani perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr Esnawan Antariksa sebelum dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni.
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
Pada 25 Juni, Rifki mengalami keluhan kesehatan berupa sesak napas. Ia kemudian mendapatkan penanganan awal dari tim kesehatan satuan.
Kondisi kesehatan Rifki berangsur membaik, bahkan Ridki sempat kembali mengikuti aktivitas.
Namun, pada sore hari kondisi kesehatan Rifki kembali menurun sehingga segera dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk memperoleh penanganan medis lanjutan.
Peserta pendidikan di Satdik Yon Parako 465 segera mendapatkan penanganan medis secara intensif oleh tim dokter, termasuk perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU).Tetapi, takdir berkata lain, Rifki Renaldi dinyatakan meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.
5. Nola Diasari
Peserta dari Satuan Pendidikan Belanegara Kalimantan mengalami sesak napas dan badan panas pada 27 Juni.
Setelah mendapat penanganan awal, Nola dirujuk ke IGD Rumah Sakit Singkawang dan langsung mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis.
Nola kembali dirujuk ke Rumah Sakit Abdul Aziz Singkawang untuk memperoleh penanganan medis lanjutan.
Namun dalam proses penanganan, Nola mengalami henti jantung. Ia sempat mendapatkan resusitasi jantung dan tindakan kardiovers, sebelum dinyatakan meninggal 21.30 WIB.