Pakar UMY Soroti Pengisian Jabatan BUMN: Loyalitas Politik Dinilai Kalahkan Meritokrasi

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:21 WIB
Pakar UMY Soroti Pengisian Jabatan BUMN: Loyalitas Politik Dinilai Kalahkan Meritokrasi
Ilustrasi jabatan BUMN (Shutterstock)
baca 10 detik
  • Pakar kebijakan publik menyoroti penempatan orang dekat kekuasaan di BUMN yang mengabaikan prinsip meritokrasi dan profesionalisme jabatan.
  • Praktik penempatan jabatan strategis tersebut memicu keraguan publik terhadap kompetensi pejabat serta memperkuat pola politik patronase di Indonesia.
  • Ketidaksesuaian antara narasi reformasi pemerintah dengan realitas di lapangan berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap tata kelola BUMN.

Suara.com - Fenomena penempatan orang-orang yang memiliki kedekatan politik maupun hubungan personal dengan lingkar kekuasaan di sejumlah posisi strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai sorotan.

Pakar Kebijakan Publik UMY, Isnaini Muallidin, menilai pola tersebut menunjukkan menguatnya praktik politik berbasis loyalitas dibanding profesionalisme. Sehingga memunculkan keraguan publik terhadap kompetensi para figur yang dipilih.

"Saya melihat ini dalam perspektif pos kolonial. Di mana mental-mental pos kolonial itu kan dicirikan pertama itu dengan bagaimana membangun gurita kekuasaan itu ya. Membangun gurita kekuasaan itu dengan segala segala lini," kata Isnaini kepada Suara.com, Selasa (30/6/2026).

Menurut Isnaini, dari sisi politik, kecenderungan menempatkan orang-orang terdekat dalam jabatan strategis bukanlah fenomena baru. Praktik tersebut merupakan bagian dari logika kekuasaan yang telah lama berlangsung di Indonesia.

Ia menilai pola tersebut membuat jabatan publik, termasuk di BUMN, lebih banyak dipengaruhi pertimbangan politik daripada kebutuhan menghadirkan sumber daya manusia yang kompeten. Kondisi itu dinilai semakin menjauhkan praktik tata kelola pemerintahan dari prinsip meritokrasi yang selama ini dikampanyekan pemerintah.

"Sebenarnya kita tidak menyalahkan siapa pun orangnya, menurut saya ya, keluarga pun kalau dia profesional enggak masalah secara politik. Kalau dia secara secara profesional dipilih dan punya track record yang bagus, itu enggak ada masalah," ungkapnya.

Ia menambahkan, persoalan utama bukan terletak pada latar belakang keluarga atau kedekatan seseorang dengan penguasa. Melainkan pada proses seleksi yang harus mengedepankan kompetensi, rekam jejak, serta profesionalisme.

Tanpa prinsip tersebut, kata Isnaini, kepercayaan publik terhadap pengelolaan BUMN akan terus menurun dan praktik politik patronase semakin mengakar.

"Meritokrasi itu bukan anti keluarga. Tetapi profesionalismenya itu yang dilihat, kemudian kesesuaian prosesnya," imbuhnya.

baca juga

Isnaini mempertanyakan apakah Presiden Prabowo Subianto benar-benar mengendalikan atau sekadar mengetahui seluruh proses penempatan orang-orang di lingkar kekuasaan tersebut.

Menurutnya, terdapat perbedaan antara gagasan yang sering disampaikan Prabowo dengan praktik politik yang berlangsung di lapangan. Sehingga memunculkan dugaan bahwa presiden lebih banyak mempercayakan keputusan kepada orang-orang di sekitarnya.

"Antara apa yang dia omongkan di forum langsung itu dengan tindakan tuh beda. Itu berarti apa? Dia sendiri itu enggak tahu apa yang dia kendalikan di dalam itu," ucapnya.

Kondisi tersebut membuat publik mempertanyakan sejauh mana Presiden merasa nyaman dengan pola pengisian jabatan yang lebih mengutamakan kedekatan politik. Jika dibiarkan, praktik tersebut dinilai berpotensi memperkuat jaringan kekuasaan sekaligus mengurangi ruang bagi figur profesional yang memiliki kapasitas memimpin BUMN.

Isnaini menyebut paradoks itu terlihat dari perbedaan antara narasi reformasi birokrasi dan meritokrasi yang disampaikan elite politik dengan praktik pengangkatan pejabat di lapangan. 

Jargon reformasi kemudian hanya menjadi simbol apabila proses seleksi tetap didominasi kepentingan politik.

"Elite itu bicaranya luar biasa, reformasi birokrasi, meritokrasi, itu kan simbol-simbol yang menyejukkan masyarakat. Tetapi apa yang dilakukan oleh praktik elite? Justru sangat jauh dari harapan," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PKB Tak Ambil Pusing Safari Politik Jokowi: Mau Gabung PSI Pun Itu Hak Beliau

PKB Tak Ambil Pusing Safari Politik Jokowi: Mau Gabung PSI Pun Itu Hak Beliau

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 14:46 WIB

Puan Maharani Pimpin Rapat Paripurna DPR RI ke-22 Hari Ini: 293 Anggota Hadir, Ini Agendanya

Puan Maharani Pimpin Rapat Paripurna DPR RI ke-22 Hari Ini: 293 Anggota Hadir, Ini Agendanya

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 11:19 WIB

Sandi Politik di Bumi Ruwa Jurai: Mengapa Jokowi Akhirnya Berseragam PSI?

Sandi Politik di Bumi Ruwa Jurai: Mengapa Jokowi Akhirnya Berseragam PSI?

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 13:16 WIB

Terkini

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Bantu UMKM Hadapi Biaya Operasional Membengkak, Toco Academy Bagikan Strategi Pecah Telur di Bogor

Jabar | Kamis, 01 Oktober 2026 | 00:45 WIB

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Mengenal Praktik Bisnis Hijau: Tren Gaya Hidup Berkelanjutan yang Kini Merambah Dunia Industri

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:57 WIB

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

Kemenko PMK Dorong Penguatan Jejaring Alumni Beasiswa untuk Talenta Nasional

News | Rabu, 30 September 2026 | 23:12 WIB

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Spin Off InfraCo Tahap 2 Rampung, Nilai Transaksi Rp 49,9 T

Bisnis | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Kuliah Hukum di Era Digital, FH Unika Atma Jaya Raih Penghargaan

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 23:01 WIB

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Kewajiban Sertifikasi Halal Makin Dekat, Industri Kosmetik dan Farmasi Siap Sambut Aturan Baru

Lifestyle | Rabu, 30 September 2026 | 22:41 WIB

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Ruang Bersama Indonesia Pertama di Palembang, Kilang Plaju Dukung Pemberdayaan Masyarakat

Sumsel | Rabu, 30 September 2026 | 22:34 WIB

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Peringatan G30S di Medan, Masyarakat Sipil Soroti Pelanggaran HAM-MBG

Sumut | Rabu, 30 September 2026 | 22:20 WIB

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

JALA PRT Soroti Pengajuan JR UU PPRT, Minta Pemohon Pahami Proses Pembentukan UU

News | Rabu, 30 September 2026 | 22:15 WIB

Gus Kikin Umumkan Susunan Pengurus PBNU: Gus Ipul Waketum, Gudfan Arif Jadi Sekjen

Gus Kikin Umumkan Susunan Pengurus PBNU: Gus Ipul Waketum, Gudfan Arif Jadi Sekjen

News | Rabu, 30 September 2026 | 21:50 WIB

×