- Eropa dilanda gelombang panas ekstrem dengan suhu di atas 40°C yang dipicu oleh fenomena kubah panas udara.
- Pemerintah Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia mengeluarkan peringatan merah akibat risiko kesehatan serta gangguan infrastruktur yang nyata.
- Kondisi ini merupakan dampak nyata krisis iklim global yang menyebabkan suhu meningkat lebih cepat daripada rata-rata dunia.
Suara.com - Gelombang panas ekstrem membuat sejumlah kota di Eropa mencatat suhu tak biasa.
Bahkan, suhu di Paris dan kota lainnya melampaui 40°C, setara bahkan lebih panas dibandingkan Mekah yang dikenal dengan iklim gurunnya.
Pemerintah di berbagai negara seperti Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia telah mengeluarkan peringatan merah.
Risiko kesehatan, kebakaran hutan, hingga gangguan transportasi menjadi ancaman nyata di tengah suhu ekstrem.
Fenomena ini dipicu oleh heat dome atau kubah panas yang menjebak udara panas di wilayah Eropa Barat.
Selain itu, aliran udara panas dari Afrika Utara serta suhu laut yang lebih hangat turut memperparah kondisi.
![Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa kini berubah menjadi krisis mematikan. [@MarioNawfal]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/01/42952-gelombang-panas-eropa.jpg)
Data menunjukkan suhu harian di beberapa wilayah seperti Prancis barat dan Inggris melonjak hingga 12°C di atas rata-rata normal.
Para ilmuwan menilai kondisi ini sebagai bagian dari tren pemanasan global yang semakin cepat.
Eropa disebut sebagai benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia.
Sejak pertengahan 1990-an, suhu di kawasan ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata global.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya infrastruktur pendingin.
Hanya sekitar 20% rumah di Eropa yang memiliki pendingin udara, membuat masyarakat lebih rentan terhadap dampak panas ekstrem.
Berbagai langkah darurat pun dilakukan.
Di Prancis, konsumsi alkohol di ruang publik dibatasi, sementara di Madrid zona nonton Piala Dunia dibatalkan saat suhu mencapai 39°C.
Para ahli memperingatkan gelombang panas kini tidak lagi menjadi fenomena langka.
Perubahan iklim membuat suhu ekstrem datang lebih sering, lebih awal, dan berlangsung lebih lama.
Situasi ini menjadi peringatan global bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan.
Dampaknya kini nyata dan langsung dirasakan di berbagai belahan dunia.