- Festival Peh Cun dan Bacang Fest 2026 diselenggarakan di kawasan Pantjoran untuk mempromosikan produk UMKM melalui berbagai kreasi kuliner.
- Beragam kegiatan budaya seperti workshop dan kompetisi bacang dilaksanakan guna melestarikan tradisi bagi masyarakat secara lebih relevan.
- Aksi sosial pembagian 1.500 bacang halal di Kelenteng Tian Fu Gong menjadi simbol kepedulian yang melampaui batas perbedaan.
Suara.com - Perayaan Peh Cun tahun ini menghadirkan nuansa berbeda dengan menggabungkan tradisi budaya, kuliner, dan aksi sosial.
Ribuan pengunjung memadati kawasan Pantjoran dan Riverwalk Island untuk menikmati rangkaian acara yang sarat nilai kebersamaan.
Festival berlangsung meriah dengan kehadiran Bacang Fest 2026 yang menampilkan puluhan varian bacang dari pelaku UMKM.
Deretan bacang yang digantung di depan stan kuliner menjadi daya tarik utama sekaligus menggambarkan kekayaan cita rasa Nusantara.
Operational Manager Pantjoran, Stephanus Adrianta, menyebut festival ini bukan sekadar ajang kuliner.
“Bacang Fest 2026 kami hadirkan sebagai perayaan yang menghubungkan budaya, komunitas, dan kreativitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi wadah promosi bagi pelaku usaha lokal. “Kami ingin memberikan ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa bacang Nusantara,” katanya.
Kompetisi bacang turut menjadi sorotan dengan partisipasi 15 pelaku usaha. Mereka menghadirkan resep turun-temurun hingga inovasi rasa, tanpa meninggalkan ciri khas bacang berbahan ketan dengan isian gurih.
Lima pemenang terpilih, yakni Ang Huat Kembang Jaya, Bacang JJL, Hao Kitchen, Bacang Lotus, dan Bacang Oma Lili, mendapat kesempatan memperkenalkan produk mereka lebih luas kepada pengunjung.
Selain kuliner, festival juga menghadirkan beragam aktivitas budaya seperti bacang tasting, workshop kaligrafi China, hingga menghias perahu naga.
Kegiatan ini dirancang interaktif agar tradisi lebih mudah dipahami berbagai kalangan.
Kurator Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Mitha Budhyarto, menilai pendekatan tersebut efektif mengenalkan budaya.
“Kami ingin memperkenalkan tradisi Peh Cun dengan cara yang lebih dekat dan relevan bagi masyarakat masa kini,” ujarnya.
Semangat berbagi terasa kuat dalam Festival Duan Wu Jie di Kelenteng Tian Fu Gong. Sebanyak 1.500 bacang halal dibagikan kepada masyarakat, termasuk kepada jamaah Masjid Al-Ikhlas.
Pembagian bacang menjadi simbol kepedulian sosial yang melampaui batas agama. Relawan dari berbagai komunitas terlihat bekerja sama menyiapkan dan membagikan makanan kepada warga.
Di sisi lain, pertunjukan barongsai menjadi hiburan utama yang menyedot perhatian pengunjung. Atraksi lincah diiringi sorak penonton semakin meriah dengan dekorasi lampion merah di sekitar kelenteng.
Perayaan ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat.