Rapor Merah 80 Tahun Polri: Berkhidmat pada Kekuasaan, Bukan Rakyat

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 02 Juli 2026 | 16:11 WIB
Rapor Merah 80 Tahun Polri: Berkhidmat pada Kekuasaan, Bukan Rakyat
Ilustrasi 80 tahun Polri. (Unsplash)
baca 10 detik
  • Dosen UMY Isnaini Muallidin memberi rapor merah bagi Polri karena krisis legitimasi serta kegagalan reformasi internal selama 80 tahun.
  • Struktur organisasi Polri dinilai masih militeristik dan tata kelola birokrasi internalnya terhambat praktik transaksional serta intervensi politik yang merusak.
  • Lemahnya kepemimpinan Kapolri dan tidak efektifnya tim reformasi menuntut perubahan total agar Polri kembali menjadi lembaga sipil profesional.

Suara.com - Dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Isnaini Muallidin, memberikan rapor merah kepada institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang baru saja memasuki usia ke-80 tahun.

Korps Bhayangkara itu disebut sedang mengalami krisis legitimasi yang sangat mendalam akibat kegagalan tata kelola internal serta belum tuntasnya agenda reformasi sejak masa awal transisi demokrasi.

Menurutnya, citra polisi di mata publik saat ini sudah berada di titik terendah akibat berbagai persoalan struktural yang tidak kunjung dibenahi.

"80 tahun ini adalah masa-masa krisis yang mega dahsyat sebenarnya dari keberadaan Polri yang harus dievaluasi secara mendasar," kata Isnaini kepada Suara.com, Kamis (2/7/2026).

Isnaini menyoroti persoalan pertama yang mengganjal reformasi kepolisian, yakni aspek organisasi. Meski secara normatif ditempatkan sebagai institusi sipil pasca-reformasi, Polri dinilai masih mempertahankan model-model militeristik yang kaku. 

Keberadaan satuan tertentu serta sistem komando terpusat membuat wajah kepolisian di lapangan kerap terlihat represif ketimbang humanis dalam menangani persoalan sosial masyarakat.

"Dari aspek organisasi, keberadaan Polri itu harusnya dia sebagai institusi sipil ya, bukan militer. Tetapi, dia juga masih semi militer dengan adanya Brimob, dengan adanya kewilayahan. Itu dia secara organisasional masih mempertahankan model-model militeristik," ujarnya.

Persoalan kedua yang menjadi rapor merah paling krusial adalah buruknya tata kelola birokrasi internal. Disampaikan Isnaini, proses rekrutmen di lembaga pendidikan kepolisian, penempatan jabatan, hingga jenjang karier sarat dengan praktik transaksional dan intervensi politik.

Dampaknya, independensi penegak hukum menjadi rapuh dan rentan berpihak pada pemilik modal.

baca juga

"Tata kelolanya buruk sekali. Mulai dari penerimaan, penempatan, sampai bagaimana dinamika kekuasaan di internal di dalam itu sangat sangat buruk gitu. Bagaimana kita melihat penerimaan mulai dari sekolah Polri itu penuh dengan harus bayar sekian, itu fenomena rahasia umum," ungkapnya.

Akibat dari rusaknya tata kelola internal tersebut, kata dia, krisis kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian tak terhindarkan. Publik kini cenderung bersikap antipati.

"Itu (Polri) kehilangan kepercayaan, distrust yang luar biasa. Rapor merahnya tuh distrust-nya itu," tegasnya.

Di sisi lain, kinerja Komisi Percepatan Reformasi Polri yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto turut mendapat sorotan tajam. Pasalnya, tim yang diisi oleh sejumlah tokoh nasional tersebut dianggap tidak memberikan hasil kerja yang substansial. 

Isnaini menduga ada resistensi atau perlawanan kuat dari pihak internal kepolisian yang membuat kerja tim reformasi tersebut menjadi tidak bergigi.

"Saya kira juga tidak bekerjanya tim reformasi kepolisian itu, itu karena ada perlawanan dari dalam juga itu. Ada negosiasi-negosiasi yang sekarang ini hampir apa yang dilakukan oleh tim itu juga enggak ada hasilnya, gigi ompong juga gitu," ucapnya.

Kritik tajam pun diarahkan langsung kepada kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kapolri dinilai tidak kapabel dalam menuntaskan berbagai skandal besar yang menjerat institusinya. 

Lemahnya kepemimpinan di pucuk pimpinan tertinggi dinilai mempercepat pembusukan institusi hingga ke level bawah. Sehingga pergantian Kapolri menjadi opsi yang relevan demi menyelamatkan lembaga.

"Sudah saatnya diganti. Karena apa? Karena beberapa masalah kepolisian besar itu di bawah beliau. Bagaimana bobroknya institusi kepolisian itu gitu," ujarnya 

Terakhir, pembahasan mengenai Undang-Undang Polri yang bergulir di parlemen dianggap cacat prosedur. Sebab dilakukan secara senyap tanpa melibatkan partisipasi publik. 

Isnaini menegaskan, jalan keluar satu-satunya bagi krisis multidimensi ini adalah melakukan reformasi kelembagaan total, menata ulang aturan main, serta mengembalikan hakikat Polri sebagai lembaga sipil yang murni melayani kepentingan rakyat.

"Berat kalau masyarakat sudah tidak percaya lagi," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan

Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 21:13 WIB

Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!

Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 19:49 WIB

Perayaan HUT ke-80 Bhayangkara di Cikeas

Perayaan HUT ke-80 Bhayangkara di Cikeas

Foto | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:21 WIB

Terkini

Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa

Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 23:16 WIB

Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib

Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib

Sumsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu

Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu

Sumsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:40 WIB

Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya

Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya

Entertainment | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:39 WIB

Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal

Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 22:02 WIB

Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes

Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:46 WIB

73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla

73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla

Kaltim | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:45 WIB

Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Jabar | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:36 WIB

Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9

Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9

Jabar | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:30 WIB

Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run

Review Unerd Beat Tempo, Sepatu Lari Rp500 Ribuan Cocok Buat Interval dan Tempo Run

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:30 WIB

×