- Menteri Haji Gus Irfan mengimbau agar Muktamar NU Agustus 2026 di Surabaya berlangsung sejuk tanpa politik uang.
- Gus Irfan meminta pihak yang sering menciptakan kegaduhan internal agar tidak mencalonkan diri dalam kepengurusan baru organisasi.
- Elite NU diharapkan meneladani sikap kiai terdahulu yang memandang jabatan sebagai amanah bukan untuk diperebutkan dengan paksaan.
Suara.com - Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyoroti dinamika yang berkembang menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) 2026.
Cucu pendiri NU itu mengingatkan agar praktik money politics dan perebutan dukungan tidak mewarnai pemilihan kepengurusan organisasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Irfan saat menerima kedatangan kloter terakhir jemaah haji 2026 di Surabaya, Rabu (1/7/2026).
Ia berharap Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang menjadi forum yang sejuk dan kembali pada nilai-nilai yang diajarkan para ulama pendahulu.
"Mudah-mudahan Muktamar tahun ini bisa menjadi Muktamar yang sejuk. Muktamar di mana para kiai saling ikhlas, tidak ada lagi money politik, tidak pula ada lagi partai politik ikut bermain di sana," kata Gus Irfan.
Ia juga meminta pihak-pihak yang selama ini dinilai membuat kegaduhan di internal NU untuk tidak lagi memaksakan diri masuk ke dalam kepengurusan.
"Dan saya berharap mereka-mereka yang selama ini, dan kita tahu semuanya, mereka yang selama ini membikin gaduh Nahdlatul Ulama, ya sudahlah, ikhlaslah. Tidak usah lagi ikut bergabung, ikut bergabung dalam kepengurusan, cukup membantu di luar kepengurusan," tuturnya.
"Berikanlah kesempatan kepada kiai-kiai lain yang InsyaAllah jauh lebih ikhlas, sehingga NU akan menjadi organisasi keagamaan, organisasi Islam yang teduh, sangat sejuk, dan bermanfaat bagi umat," tambah Gus Irfan.
Menurut Gus Irfan, dinamika menjelang Muktamar memang hal yang wajar. Namun, ia menilai persaingan tidak semestinya dilakukan dengan menghalalkan segala cara demi meraih dukungan.
"Saya sebagai menteri haji, saya sudah berkeliling ke beberapa daerah dalam rangka menyambut kedatangan jamaah haji, dan saya mendapat laporan dari banyak pihak di sana, 'Ini si ini sudah ke sini, menjanjikan ini. Si ini datang ke sini, menemui gubernur ini, minta dukungan.' Kenapa harus seperti itu?" ungkapnya.
Ia pun menegaskan bahwa seseorang yang dinilai layak memimpin tidak memerlukan praktik-praktik semacam itu untuk mendapatkan kepercayaan warga Nahdliyin.
"Kalau Nahdliyin melihat bahwa Anda memang layak, tanpa ngasih uang pun akan dipilih. Tanpa money politik pun akan dipilih. Sudahlah kita hapus jejak-jejak jelek yang pernah terjadi di NU, kita buka lembaran baru di NU supaya NU jauh lebih baik," ucap dia.
Dalam kesempatan yang sama, Gus Irfan juga mengajak para elite NU meneladani para kiai terdahulu yang memandang jabatan sebagai amanah besar, bukan sesuatu yang diperebutkan.
Muktamar NU dijadwalkan digelar pada Agustus 2026 untuk memilih kepengurusan baru organisasi. Menjelang pelaksanaannya, dinamika internal NU menjadi perhatian publik.
Dalam pernyataannya, Gus Irfan berharap Muktamar berlangsung tanpa praktik money politics maupun campur tangan kepentingan politik sehingga menghasilkan kepengurusan yang mampu menjaga NU sebagai organisasi keagamaan yang teduh dan bermanfaat bagi umat.