Suara.com - Piala Dunia 2026 diperkirakan berpotensi menjadi turnamen sepak bola dengan jejak karbon tertinggi sepanjang sejarah.
Laporan lembaga think tank New Weather Institute memperkirakan ajang yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu dapat menghasilkan sekitar 9 juta metrik ton emisi karbon dioksida ekuivalen (COe), sebagian besar berasal dari perjalanan udara tim, ofisial, dan suporter.
Laporan tersebut menyebut format baru Piala Dunia menjadi salah satu penyebab utama. Untuk pertama kalinya, turnamen akan diikuti 48 tim, naik dari 32 tim pada edisi sebelumnya, dengan pertandingan tersebar di 16 kota tuan rumah di tiga negara.
Kondisi ini diperkirakan meningkatkan kebutuhan perjalanan lintas negara dan antarkota secara signifikan.
![Rodri dinobatkan sebagai peraih Bola Emas Piala Dunia 2026 usai membawa Spanyol juara. Ia mengungguli Lionel Messi dan Kylian Mbappe dalam penghargaan individu. [Dok. FIFA]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/07/20/24602-rodri-dinobatkan-sebagai-peraih-bola-emas-piala-dunia-2026.jpg)
Peneliti menilai FIFA menghadapi tantangan besar dalam memenuhi target iklimnya sendiri. Organisasi sepak bola dunia itu sebelumnya berkomitmen memangkas emisi hingga 50 persen pada 2030 dan mencapai emisi nol bersih (net zero) pada 2040.
Namun, skala turnamen yang terus membesar dinilai membuat target tersebut semakin sulit dicapai.
Laporan itu juga menyoroti minimnya transparansi FIFA terkait pelaporan emisi. Setelah mendapat kritik atas klaim bahwa Piala Dunia Qatar 2022 merupakan turnamen netral karbon pertama, FIFA dinilai tidak lagi menetapkan target emisi secara terbuka maupun merilis data emisi turnamen secara rutin.
"Tidak ada tanda-tanda metodologi standar untuk menghitung emisi gas rumah kaca yang sebelumnya dijanjikan. Bahkan, persyaratan penilaian jejak karbon dalam proses penawaran tuan rumah justru mengalami kemunduran," kata peneliti Cool Down Sport for Climate Action Network, Freddie Daley, yang turut menyusun laporan tersebut.
Ia menambahkan bahwa target iklim FIFA bahkan belum mencakup emisi dari turnamen yang diselenggarakannya sendiri, padahal ajang tersebut merupakan sumber emisi terbesar organisasi itu.
Respons FIFA
FIFA membantah anggapan bahwa isu keberlanjutan diabaikan. Melalui juru bicaranya, organisasi tersebut mengatakan strategi keberlanjutan Piala Dunia 2026 tetap berfokus pada pengurangan emisi, efisiensi penggunaan sumber daya, dan meninggalkan dampak positif bagi kota-kota tuan rumah.
Menurut FIFA, sejumlah stadion yang digunakan telah memiliki sertifikasi bangunan berkelanjutan. Organisasi itu juga berupaya mengurangi penggunaan generator diesel, meningkatkan sistem daur ulang, serta mendorong penggunaan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda selama turnamen berlangsung.
Selain itu, FIFA menyatakan mendukung program penanaman satu juta pohon melalui proyek reboisasi dan kegiatan berbasis komunitas di seluruh Amerika Utara, termasuk di 16 kota penyelenggara.
Meski demikian, para peneliti menilai langkah-langkah tersebut belum cukup untuk mengimbangi lonjakan emisi yang diperkirakan muncul akibat bertambahnya jumlah peserta dan meningkatnya mobilitas global selama Piala Dunia 2026.
Menurut mereka, tantangan terbesar bukan hanya membuat turnamen lebih ramah lingkungan, tetapi juga memastikan ambisi iklim FIFA sejalan dengan ekspansi kompetisi yang terus berlangsung.
Penulis: Chairunisa