-
Donald Trump menegaskan cadangan amunisi militer Amerika Serikat saat ini masih melimpah.
-
Gedung Putih membantah laporan mengenai kelangkaan rudal dan mengancam pidana para pembocor rahasia.
-
CSIS memperkirakan penggunaan ribuan rudal Patriot dan THAAD memicu ancaman defisit persenjataan.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah keras kabar guncangan pasokan senjata militer pasca-operasi di Iran dengan mengklaim bahwa cadangan amunisi nasional masih sangat melimpah. Klaim ini langsung memukul balik spekulasi publik dan media yang menyebut Pentagon mulai kehabisan stok rudal pencegat.
Langkah tegas Gedung Putih ini menjadi sinyal pembelaan politik atas kesiapan tempur militer AS di tengah eskalasi konflik luar negeri yang memakan biaya fantastis. Penegasan tersebut sekaligus memetakan ketegangan internal antara jajaran pemerintahan dengan pihak internal yang membocorkan isu kerentanan alutsista.
Sorotan kini tertuju pada efektivitas belanja pertahanan AS yang membengkak di saat keterbatasan persenjataan udara mulai memicu perdebatan panas. Pernyataan publik sang presiden hadir sebagai respons langsung untuk menenangkan kekhawatiran domestik maupun sekutu global.

Trump menegaskan bahwa persenjataan strategis negara dalam posisi aman dan rantai pasokan terus bergerak lancar. Melalui unggahan di media sosial, pimpinan Negeri Paman Sam tersebut menggaransi kelancaran manufaktur amunisi domestik.
“AS memiliki persediaan 'amunisi' dalam jumlah yang sangat besar, terutama untuk jenis-jenis tertentu. Selain itu, sejumlah besar amunisi terus diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan,” tulis Trump di platform Truth Social.
Pernyataan resmi ini membentengi pemerintah dari rumor diskusi tertutup kabinet di Camp David mengenai krisis persenjataan. Laporan media sebelumnya menyebut Trump sempat mempertanyakan ketersediaan rudal kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Juru bicara kepresidenan Karoline Leavitt merespons kabar diskusi sensitif tersebut dengan bantahan lugas. Pihak istana memastikan spekulasi keretakan stok amunisi itu sama sekali tidak berdasar.
Di sisi lain, Trump menebar ancaman serius bagi pihak-pihak yang membocorkan riak internal kabinet ke publik. Ia menegaskan bahwa “pembocor pernyataan yang bersifat mengkhianati negara ini” dapat menghadapi hukuman penjara yang panjang.
Langkah disiplin keras ini menunjukkan ketidaksenangan Gedung Putih terhadap kebocoran informasi yang dinilai merusak stabilitas nasional. Pemerintah berusaha menutup rapat celah informasi terkait kesiapan logistik tempur mereka.
Kebijakan keamanan ini berjalan beriringan dengan pengajuan anggaran militer bernilai fantastis ke parlemen. Langkah finansial tersebut diambil demi menopang seluruh kebutuhan tempur di arena internasional.
Pemerintah AS sebelumnya telah menyodorkan usulan dana tambahan sebesar 87,6 miliar dolar AS kepada Kongres pada 24 Juni. Dari total anggaran ekstra itu, Pentagon dialokasikan menerima porsi terbesar mencapai 67,15 miliar dolar AS.
Suntikan modal raksasa ini terutama dialokasikan untuk mendanai biaya operasional militer AS di wilayah Iran. Pengeluaran masif tersebut mencerminkan tingginya intensitas ketegangan geopolitik yang melibatkan pasukan Amerika.
Latar belakang guncangan stok ini berakar dari analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada akhir Juli. Lembaga kajian tersebut menyoroti pengurasan drastis alutsista pertahanan udara milik AS.
CSIS mencatat Amerika Serikat telah meluncurkan lebih dari 1.500 rudal sistem pertahanan udara Patriot. Selain itu, sekitar 200 rudal pencegat dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) juga sudah ditembakkan.
Penggunaan masif dalam kurun waktu singkat tersebut menurut CSIS memicu ancaman kelangkaan rudal yang signifikan bagi ketahanan militer AS. Kondisi inilah yang menjadi pemicu utama timbulnya polemik mengenai cadangan persenjataan Washington.