Suara.com - Selama ini, kondisi laut kerap dibaca melalui angka luas kawasan, hasil tangkapan ikan, atau jumlah ekosistem yang tersisa. Namun, ada manfaat lain dari laut yang lebih sulit terlihat dalam angka, seperti kemampuan mangrove menahan abrasi, lamun menyimpan karbon, dan terumbu karang menopang kehidupan di pesisir.
Manfaat tersebut kini mulai dihitung melalui Ocean Calculator, platform berbasis geospasial yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia.
Platform ini dirancang untuk menghitung nilai ekonomi dan manfaat ekosistem laut dan pesisir dengan menggabungkan data lingkungan, ekonomi, serta sosial. Informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendukung perencanaan dan pengambilan kebijakan terkait pengelolaan sumber daya laut.
Mengubah Data Laut Menjadi Nilai

Ocean Calculator dikembangkan menggunakan pendekatan Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) atau Ocean Accounting. Sistem ini menggabungkan berbagai sumber data, seperti peta, citra satelit, penelitian, dan survei pemerintah.
Data tersebut digunakan untuk melihat kondisi serta perubahan ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang pada wilayah dan periode tertentu. Platform kemudian menghubungkan kondisi ekosistem tersebut dengan jasa yang dihasilkannya, termasuk perlindungan pesisir dan penyerapan karbon.
Artinya, perubahan ekosistem tidak hanya terlihat sebagai perubahan luas kawasan. Data juga dapat menunjukkan manfaat yang ikut berubah ketika kondisi ekosistem mengalami tekanan atau pemulihan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan Ocean Calculator diharapkan dapat memperkuat penggunaan data dalam penyusunan kebijakan.
“Harapannya, Ocean Calculator bisa terus dikembangkan sehingga dapat memperkuat pengambilan kebijakan berbasis data yang akurat, kredibel, dan komprehensif.”
Tidak Berhenti pada Data Ekosistem
Informasi dalam Ocean Calculator juga mencakup aspek kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI). Data tersebut membantu menggambarkan hubungan antara ekosistem pesisir dengan kelompok masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Pengembangan platform dimulai pada 2024 melalui kolaborasi KKP, WRI Indonesia, University of New South Wales, Universitas Riau, Universitas Mataram, dan Universitas Gadjah Mada, dengan dukungan Pemerintah Australia melalui program KONEKSI.
Pada 2026, Ocean Calculator juga diuji integrasinya dengan Sistem Database Konservasi (SIDAKO) milik KKP. Sistem tersebut memuat data konservasi ekosistem laut dan pesisir, termasuk mangrove, lamun, terumbu karang, serta karbon biru.
Dengan penggabungan berbagai jenis informasi tersebut, Ocean Calculator menyediakan cara untuk melihat laut bukan hanya sebagai hamparan wilayah, tetapi sebagai ekosistem yang memiliki fungsi lingkungan dan nilai bagi masyarakat.
Bagi pengelolaan pesisir, data semacam ini dapat menjadi dasar untuk melihat perubahan ekosistem sekaligus memperhitungkan manfaat yang perlu dipertahankan.
Penulis: Ines Dian