- Lebih dari separuh pusat data India beroperasi di wilayah krisis air tanah.
- Pengambilan air tanah di Ghaziabad mencapai 272 persen dari batas rekomendasi.
- Konsumsi air pusat data India diproyeksikan melonjak dua kali lipat pada 2030.
Suara.com - Kecerdasan buatan atua AI tak hanya bikin banyak pengangguran di dunia karena menggantikan pekerjaan manusia. Ekspansi agresif pusat data kecerdasan buatan di India kini berbenturan langsung dengan krisis air bersih warga. Lebih dari separuh fasilitas pemrosesan pusat data AI tersebut berdiri di kawasan yang mengalami krisis air parah.
Masyarakat di kawasan padat Khora, Ghaziabad, terpaksa menanggung dampak ganda dari penyedotan air tanah tak terkendali. Mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk sumur bor di tengah janji pasokan air tak terbatas bagi industri.
Janji pemerintah daerah untuk memberikan pasokan air nonstop kepada pengembang pusat data justru memperlebar jurang ketimpangan sosial. Warga lokal kini kehilangan akses prioritas atas kebutuhan air minum mendasar.

Ketua Asosiasi Warga Khora, Deepak Joshi, mengungkapkan kepasrahan warga yang telah bertahun-tahun mencari kepastian air bersih.
"Kami bergantung pada air tanah. Di beberapa wilayah, seseorang harus menggali 1.000 hingga 1.200 kaki (305-366 meter) untuk mengambil air," kata Deepak Joshi kepada DW.
Permasalahan pasokan air di pemukiman ini terus berlarut tanpa ada titik terang dari pemerintah setempat.
"Warga telah berusaha menyelesaikan masalah air di Khora selama 10 tahun terakhir, tetapi tidak ada yang berubah," ujar Joshi.
Bagaimana Pusat Data Memperparah Krisis Air Lokal?
Fasilitas server modern membutuhkan jutaan liter air dingin untuk menjaga suhu mesin tetap stabil. Lonjakan suhu dari pembuangan panas sistem pendingin pusat data bahkan menaikkan suhu mikro lingkungan sekitar.
Naeemuddin Saifi, seorang tukang kayu di Khora, mengaku terbeban oleh biaya iuran sumur bersama setiap bulannya. Saifi membayar 1.000 hingga 1.200 rupee per bulan demi menyambung kebutuhan harian.
Keterbatasan finansial memaksa banyak keluarga di Khora untuk berbagi biaya pembuatan sumur bor yang mahal.
"Saya tidak sanggup menanggung biayanya sendirian," tutur Saifi.
Pembuatan sumur bor membutuhkan modal hingga setengah juta rupee (sekitar 5.250 dolar AS) yang mustahil dijangkau warga miskin. Joshi menegaskan bahwa solusi sumur bor tetap tidak menjamin ketersediaan air jangka panjang.
Ancaman penurunan debit air tanah sewaktu-waktu membuat masa depan warga Khora kian tidak pasti.
"Bahkan sumur bor pun bukan solusi permanen. Permukaan air bisa turun kapan saja. Mungkin dalam dua bulan, atau bisa jadi enam bulan; kita tidak pernah tahu," kata Joshi.