Nasib Anak Autisme di Gaza, Suara Ledakan Bom Perparah Sistem Pertahanan Saraf

Pebriansyah Ariefana

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 11:40 WIB
Nasib Anak Autisme di Gaza, Suara Ledakan Bom Perparah Sistem Pertahanan Saraf
Serangan militer yang meluluhlantakkan Jalur Gaza tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merusak sistem pertahanan saraf anak-anak penyandang autisme. (Al Jazeera)
baca 10 detik
  • Perang Gaza menghancurkan fasilitas terapi dan memicu kejutan sensorik penderita autisme.

  • Kelangkaan obat saraf memperparah kejang dan kemunduran perilaku anak-anak berkebutuhan khusus.

  • Orang tua berjuang mandiri tanpa pendampingan medis pasca-hancurnya pusat pendidikan khusus Gaza.

Suara.com - Serangan militer yang meluluhlantakkan Jalur Gaza tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga merusak sistem pertahanan saraf anak-anak penyandang autisme. Suara ledakan yang terus-menerus memicu kejutan sensorik berat serta kepanikan luar biasa pada kelompok rentan tersebut.

Kondisi ini makin parah karena kelangkaan obat-obatan saraf dan hancurnya pusat layanan pendidikan khusus di seluruh kawasan terisolasi itu. Orang tua kini berjuang mandiri tanpa bantuan fasilitas medis yang memadai untuk menangani kejang dan tantrum buah hati mereka.

Dampak trauma ini memicu kemunduran drastis pada kemampuan komunikasi dan kemandirian yang telah dibangun anak-anak tersebut selama bertahun-tahun. Dikutip dari Al Jazeera, gangguan tidur kronis, kecenderungan menyakiti diri sendiri, hingga penurunan respons sosial menjadi ancaman nyata harian.

Sepuluh ribu warga Gaza hilang tertimbun reruntuhan akibat kegagalan evakuasi selama masa gencatan senjata. (Anadolu)
Sepuluh ribu warga Gaza hilang tertimbun reruntuhan akibat kegagalan evakuasi selama masa gencatan senjata. (Anadolu)

Ahmed Hatem al-Mahabeel, remaja 16 tahun asal Khan Younis, kini hanya bisa mengepalkan tangan di bawah dagu untuk menenangkan sistem sarafnya. Ia merindukan kamar tidur, sekolah, dan akademi sepak bola yang kini rata dengan tanah.

Sebelum konflik meluas, Ahmed menunjukkan kemajuan pesat dalam menghafal Al-Quran, menguasai bahasa Inggris, dan berolahraga secara mandiri. Ibu sang remaja menceritakan perubahan drastis yang dialami anaknya setelah ruang aman itu lenyap.

Bagaimana Suara Ledakan Merusak Kondisi Psikologis Anak Autis?

"Ahmed biasa pergi ke masjid dan klub olahraga seorang diri dengan kemajuan yang sangat baik, tetapi perang menghancurkan semua yang telah kami bangun," ujar ibunya, Umm Ahmed.

"Dia menderita sensitivitas ekstrem terhadap suara mendadak; ketika ledakan terdengar, dia mengalami serangan panik parah, menutup telinga, dan bergoyang. Dalam kondisi ketakutan ekstrem, dia menyakiti diri sendiri dengan membenturkan kepalanya ke tanah untuk melarikan diri dari suara tersebut," lanjut Umm Ahmed.

Penderitaan fisik Ahmed bertambah saat kekurangan gizi parah dan defisiensi protein menyebabkan usus buntu remaja tersebut pecah. Komplikasi infeksi luka membuat tim medis harus melakukan operasi pembedahan perut kedua untuk membersihkan infeksinya.

baca juga

"Dengan kelangkaan makanan, komplikasi menyebabkan infeksi luka, memaksa dokter melakukan operasi bedah kedua untuk membuka perut dan membersihkannya hingga dia pulih," kenang Umm Ahmed.

Kini Ahmed harus mengurung diri di dalam ruangan karena situasi Gaza yang belum sepenuhnya aman. Umm Ahmed memanjatkan harapan terbesar demi pemulihan sang anak di luar wilayah konflik.

Mengapa Kelangkaan Obat Memicu Kejutan Saraf Berat?

"Seluruh harapan kami adalah agar Ahmed mendapatkan kesempatan berobat dan rehabilitasi di luar negeri untuk merebut kembali apa yang diambil oleh perang darinya," kata ibunya.

Spesialis psikologi Diaa Abu Aoun menegaskan bahwa anak autistik sangat bergantung pada rutinitas yang tenang untuk merasa aman. Ketika harus tinggal di tenda di tengah ledakan beruntun, otak mereka menerima kejutan sensorik yang tidak sanggup diproses.

"Seorang anak dengan autisme sepenuhnya bergantung pada rutinitas dan ketenangan untuk merasa aman," jelas Diaa Abu Aoun.

"Ketika dipaksa tinggal di tenda di tengah ledakan yang terus-menerus, otak mereka menerima kejutan sensorik yang tidak dapat diproses. Ketakutan ini menjelma menjadi insomnia, masalah pencernaan, dan jeritan parah di mana anak kehilangan kendali sepenuhnya," tambah Abu Aoun.

Di kamp Nuseirat, Muneer al-Haj yang berusia 19 tahun mengepalkan tangan dan berjalan bolak-balik saat mendengar gempuran udara. Pemuda yang sebelumnya berbakat menggambar ini kini mengalami kejang dan jeritan histeris akibat pasokan obat penenang yang menipis.

Bagaimana Orang Tua Menghadapi Kemunduran Perilaku Anak?

Dosis obat Muneer terpaksa dipangkas menjadi setengah tablet sehari akibat blokade pasokan medis. Ayahnya, Abu Muneer, mengungkapkan betapa sulitnya menjaga stabilitas emosi sang anak dalam kondisi darurat.

"Dia dulunya berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya dengan jelas, tetapi perang menghabiskan segalanya… ruang aman ini larut menghadapi kesulitan dan ketakutan," kata Abu Muneer.

"Dia sekarang mengajukan pertanyaan mendesak yang tidak bisa kami jawab, memasuki serangan parah jika tidak terselesaikan. Kami mencoba menenangnkannya selama pengeboman dengan mengatakan 'Tuhan akan melindungi kita', tetapi dia menyadari apa yang terjadi, mengekspresikan penderitaannya dengan mengatakan: 'Saya tanpa tempat tinggal atau tanah air,'" ungkap Abu Muneer.

"Ketiadaan ruang aman dan habisnya obat penenang mengubah upaya kami untuk menenangkan anak-anak menjadi usaha individual yang sarat ketakutan dan kebingungan," tutur Abu Muneer.

Pemutusan obat psikiatri secara mendadak menimbulkan reaksi rebound berbahaya pada kimia otak anak. Abu Aoun memperingatkan bahwa hal tersebut memicu kejang keras dan meningkatkan dorongan menyakiti diri sendiri.

Mengapa Fasilitas Pendukung dan Alat Rehabilitasi Lenyap?

"Penghentian mendadak atau pengurangan paksa dosis obat psikiatri dan anti-kejang… menciptakan gangguan parah pada kimia otak," terang Abu Aoun.

"Ketika seorang anak dirampas obatnya atau hanya menerima setengah dosis, sistem saraf memasuki efek rebound yang parah. Kejang hebat dan konvulsi akut meningkat, mendorong tindakan menyakiti diri sendiri dan mencegah respons terhadap pelatihan perilaku," tegas Abu Aoun.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tidak ada peralatan rehabilitasi yang diizinkan masuk ke Gaza sejak Mei 2024 hingga April tahun ini. Keadaan makin memprihatinkan setelah Pusat Pendidikan Khusus Palestina hancur total dan mantan direkturnya, Arij Abu Sultan, gugur.

Kepala Program Autisme Organisasi Dolphins, Reem Jarour, menekankan bahwa rutinitas merupakan katup pengaman neurologis bagi penderita autisme. Pengungsian mendadak menghancurkan fondasi perilaku yang telah dibangun bertahun-tahun.

"Anak autis tidak dapat bertahan hidup tanpa ekosistem yang dapat diprediksi; rutinitas adalah katup pengaman neurologis," tegas Jarour.

"Apa yang kita saksikan hari ini di Gaza adalah kehancuran total fondasi perilaku yang dibangun selama bertahun-tahun. Pengungsian mendadak mengubah pemicu lingkungan menjadi ancaman akut, menyebabkan kemunduran masif dalam keterampilan berbahasa dan sosial," pungkas Jarour.

Konfrontasi bersenjata yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menelan lebih dari 73.380 korban jiwa di Gaza. Peristiwa ini menghancurkan infrastruktur sipil, termasuk fasilitas medis dan lembaga pendidikan khusus anak berkebutuhan khusus.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Indonesia Kecam Serangan Israel ke Gaza yang Ancam Gencatan Senjata

Indonesia Kecam Serangan Israel ke Gaza yang Ancam Gencatan Senjata

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:28 WIB

Aktivis Perempuan Vietnam Bikin Sejarah di Jalur Gaza Usai Lakukan Ini

Aktivis Perempuan Vietnam Bikin Sejarah di Jalur Gaza Usai Lakukan Ini

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 10:41 WIB

Jet Tempur Israel Jatuhkan Bom ke Gaza, 2 Warga Palestina Luka Parah

Jet Tempur Israel Jatuhkan Bom ke Gaza, 2 Warga Palestina Luka Parah

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:19 WIB

Terkini

Maybank Indonesia Kembangkan Bisnis Etiqa melalui Sinergi Grup Keuangan Terintegrasi

Maybank Indonesia Kembangkan Bisnis Etiqa melalui Sinergi Grup Keuangan Terintegrasi

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 19:42 WIB

Gol Justin Hubner Dianulir, Timnas Indonesia Gagal Unggul Cepat atas Malaysia

Gol Justin Hubner Dianulir, Timnas Indonesia Gagal Unggul Cepat atas Malaysia

Bola | Senin, 28 September 2026 | 19:41 WIB

Nordberg Medical Perkuat Ekspansi Global Lewat Sertifikasi MDR dan MDSAP untuk JULAINE of Sweden

Nordberg Medical Perkuat Ekspansi Global Lewat Sertifikasi MDR dan MDSAP untuk JULAINE of Sweden

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 19:38 WIB

Duel Klasik Timnas Indonesia vs Malaysia di GBK Masih Banyak Kelihatan Bangku Kosong

Duel Klasik Timnas Indonesia vs Malaysia di GBK Masih Banyak Kelihatan Bangku Kosong

Bola | Senin, 28 September 2026 | 19:36 WIB

Mangkir dari Panggilan, Kejagung Jemput Paksa Eks Sekjen ESDM di Purbalingga Dini Hari

Mangkir dari Panggilan, Kejagung Jemput Paksa Eks Sekjen ESDM di Purbalingga Dini Hari

News | Senin, 28 September 2026 | 19:32 WIB

Jangan Asal Pilih Susu Anak, Dokter Gizi Ungkap Hal yang Jauh Lebih Penting dari Sekadar Harga!

Jangan Asal Pilih Susu Anak, Dokter Gizi Ungkap Hal yang Jauh Lebih Penting dari Sekadar Harga!

Health | Senin, 28 September 2026 | 19:32 WIB

Garap  Film Sejarah Emmy, Denny Siregar Pilih Beralih ke Sisi Kemanusiaan dan Cinta

Garap Film Sejarah Emmy, Denny Siregar Pilih Beralih ke Sisi Kemanusiaan dan Cinta

Entertainment | Senin, 28 September 2026 | 19:27 WIB

Mabes Polri Resmi Ambil Alih Kasus Dugaan Pidana Tenggelamnya KM Virgo Transport 8

Mabes Polri Resmi Ambil Alih Kasus Dugaan Pidana Tenggelamnya KM Virgo Transport 8

News | Senin, 28 September 2026 | 19:25 WIB

Bolehkah Air Mawar Dicampur Langsung dengan Serum Niacinamide? Ini Cara Pakai yang Benar!

Bolehkah Air Mawar Dicampur Langsung dengan Serum Niacinamide? Ini Cara Pakai yang Benar!

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 19:25 WIB

Cegah Ancaman Sampah Laut, Aksi Daur Ulang Kemasan Diperluas hingga Bali dan NTB

Cegah Ancaman Sampah Laut, Aksi Daur Ulang Kemasan Diperluas hingga Bali dan NTB

News | Senin, 28 September 2026 | 19:22 WIB

×