- Industri media menghadapi tantangan besar akibat perkembangan AI, TikTok, dan penurunan anggaran iklan pemerintah.
- Perubahan perilaku audiens dan dominasi media sosial membuat trafik situs berita menurun sehingga perusahaan pers harus beradaptasi menggunakan teknologi AI serta strategi GEO.
- Media lokal didorong memperkuat laporan mendalam, membangun komunitas, dan mencari sumber pendapatan alternatif guna menjaga keberlanjutan bisnis serta kepercayaan publik.
Ia menilai media lokal memiliki peluang karena AI membutuhkan informasi berbasis komunitas yang tidak selalu dimiliki platform global.
Suwarjono juga menyoroti perubahan dalam bisnis periklanan. Menurutnya, ruang seperti kafe, lift apartemen, perkantoran, hingga layar LED berbasis AI kini mulai menjadi tujuan baru bagi pemasang iklan lokal.
“Iklan sekarang hadir di tempat-tempat yang dulu tidak kita bayangkan. Bahkan satu kafe bisa menghasilkan ruang iklan yang lebih besar daripada media lokal,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan ketergantungan media terhadap belanja pemerintah daerah.
Menurutnya di banyak media daerah, mulai menerima sinyal bahwa anggaran iklan pemerintah tahun depan akan semakin dipangkas. Bahkan, di sejumlah daerah, anggaran tersebut terancam tidak tersedia.
“Kalau dulu minta maaf karena anggaran berkurang. Sekarang minta maaf karena tahun depan anggarannya sudah tidak ada,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat media daerah perlu memikirkan sumber pendapatan lain untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

AI Bukan Musuh
Di tengah keterbatasan jumlah jurnalis, Suwarjono menilai AI dapat digunakan untuk membantu mempercepat produksi dan distribusi konten.
Ia bahkan berseloroh bahwa kini ada "dua AI", yakni Artificial Intelligence dan "anak internship".
Menurut dia, generasi muda memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membangun storytelling video. Sementara itu, redaksi senior dapat lebih fokus menjaga kualitas jurnalistik dan etika.
"Yang membedakan media dengan konten kreator nanti tinggal satu, trust," katanya.
Suwarjono juga mengemukakan, media masih mengandalkan rilis pemerintah atau informasi yang sama dari berbagai sumber.
Ia memperkirakan sekitar 80 persen konten media masih memiliki tingkat kemiripan yang tinggi. Kondisi tersebut membuat mesin pencari maupun AI cenderung memilih satu sumber utama.
Sebaliknya, media yang memiliki fokus khusus pada bidang ekonomi, teknologi, finansial, maupun komunitas lokal masih memiliki peluang untuk meningkatkan trafik.
"Breaking news sekarang dimenangkan media sosial. Kekuatan jurnalisme ada pada pertanyaan ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’, bukan sekadar ‘apa yang terjadi’,” ujarnya.
Komunitas Menjadi Kekuatan Media Lokal
Menjawab pertanyaan peserta mengenai sumber pemasukan bagi media lokal, Suwarjono mengatakan komunitas dapat menjadi salah satu kekuatan yang dikembangkan.
Berdasarkan pengalamannya, media yang sudah memiliki komunitas dapat mengembangkan peluang bisnis dengan mengoptimalkan kedekatan dengan anggota komunitas tersebut.
"Based on pengalaman, jika sudah terbentuk komunitas maka media itu bisa ‘jualan’, dengan mengoptimalkan kedekatan dengan personal di komunitas, karena kekuatan ada dalam komunitasnya,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah contoh AI generatif yang dapat digunakan oleh awak media untuk menyesuaikan konten dengan kebutuhan pembaca.
Suwarjono mengatakan sejumlah AI generatif yang di-embed memang membutuhkan biaya. Namun, terdapat pula layanan seperti Gemini yang dapat digunakan secara gratis dan memiliki fitur deep research untuk membantu proses riset.
Ia juga menyebut Google memiliki tim yang secara khusus menilai konten. Menurutnya, hal tersebut menjadi peluang bagi media lokal untuk menghasilkan konten yang memiliki manfaat lebih sehingga dapat menjangkau lebih banyak pembaca.
Kontributor : Dimas Angga Perkasa