Mikroplastik Ditemukan pada Garam Laut di Lombok, Akankah Ganggu Keamanan Pangan?

Bimo Aria Fundrika

Jum'at, 14 Agustus 2026 | 13:55 WIB
Mikroplastik Ditemukan pada Garam Laut di Lombok, Akankah Ganggu Keamanan Pangan?
Ilustrasi Garam (dok.Pexels/Marek Kupiec)

Suara.com - Garam yang digunakan sehari-hari ternyata tidak sepenuhnya terbebas dari persoalan pencemaran plastik. Penelitian terbaru menemukan partikel mikroplastik pada seluruh sampel garam laut yang diuji dari sejumlah pasar tradisional di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Temuan ini menambah daftar penelitian yang menunjukkan bagaimana mikroplastik dapat masuk ke dalam produk pangan melalui lingkungan perairan.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang dapat terbentuk dari pecahan plastik berukuran lebih besar maupun berasal dari produk yang memang mengandung material plastik.

Di lingkungan, partikel tersebut dapat ditemukan di laut, air tawar hingga daratan. Mikroplastik juga berpotensi membawa berbagai zat pencemar, termasuk logam berat dan polutan organik persisten, yang kemudian dapat masuk ke rantai makanan.

Sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas, Indonesia menghadapi risiko pencemaran mikroplastik yang cukup besar. Sejumlah penelitian sebelumnya juga telah menemukan mikroplastik pada berbagai produk hasil laut, termasuk garam.

Penelitian terbaru yang dipimpin Anna Ida Sunaryo Purwiyanto dan sejumlah peneliti lain, yang diterbitkan dalam jurnal Regional Studies in Marine Science, secara khusus mengamati kandungan mikroplastik dalam garam laut yang beredar di Pulau Lombok.

Penelitian ini penting karena garam laut dihasilkan melalui proses penguapan air laut. Artinya, kontaminan yang terdapat dalam air laut berpotensi ikut terbawa ke dalam produk akhir.

Mikroplastik ditemukan pada seluruh sampel

Para peneliti mengambil sampel garam laut tanpa merek dari 10 pasar tradisional di Pulau Lombok.

baca juga

Garam tanpa merek yang beredar di pasar tradisional umumnya diproduksi dalam skala kecil menggunakan metode tradisional. Air laut diuapkan menggunakan tenaga matahari hingga menghasilkan kristal garam.

Namun, karena rantai pasoknya tidak resmi, peneliti tidak dapat memastikan secara pasti lokasi produksi setiap sampel.

Sebanyak 20 sampel garam, masing-masing seberat 50 gram, kemudian dianalisis. Peneliti membaginya menjadi dua kelompok, yakni garam halus dan garam kristal.

Garam halus telah melalui proses tambahan, seperti pembersihan dan penggilingan untuk menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil. Sementara itu, garam kristal diambil langsung dari tempat kristalisasi dan hanya mengalami sedikit pengolahan.

Hasil penelitian menunjukkan seluruh sampel mengandung mikroplastik.

Pada garam halus, rata-rata ditemukan 179,33 partikel mikroplastik per kilogram, sedangkan pada garam kristal jumlahnya mencapai 185,33 partikel per kilogram.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik tidak terbatas pada satu jenis garam atau lokasi produksi tertentu.

Enam jenis plastik ditemukan

Para peneliti juga mengidentifikasi jenis polimer yang terdapat dalam sampel.

Enam jenis polimer ditemukan, yakni polyethylene (PE), polyethylene terephthalate (PET), nylon-6, polypropylene (PP), polybutylene terephthalate (PBT), dan styrene-butadiene rubber (SBR).

Lima jenis pertama ditemukan pada garam halus, sementara SBR hanya ditemukan pada sampel garam kristal.

Untuk mendeteksi mikroplastik, peneliti terlebih dahulu melarutkan sampel garam dalam air suling yang telah disaring. Larutan kemudian dipanaskan secara perlahan dan disaring menggunakan saringan dengan ukuran berbeda.

Partikel yang diperoleh selanjutnya menjalani proses wet peroxide oxidation (WPO) untuk menghilangkan material organik yang masih menempel sebelum mikroplastik dianalisis.

Paparan berlangsung terus-menerus

Peneliti menduga kontaminasi tersebut berkaitan dengan metode produksi garam tradisional yang menggunakan air laut secara langsung tanpa melalui proses penyaringan awal.

Sumber pencemaran lokal dan kondisi lingkungan di sekitar lokasi produksi juga diduga berperan.

Meski begitu, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa konsumsi garam dalam jumlah normal secara langsung menimbulkan risiko kesehatan yang tinggi.

Perhitungan Estimated Daily Intake (EDI), atau perkiraan jumlah mikroplastik yang masuk ke tubuh setiap hari melalui konsumsi garam, masih berada dalam kategori rendah.

Namun, para peneliti menyoroti karakter paparan yang berbeda. Garam dikonsumsi secara rutin sehingga paparan mikroplastik, meskipun dalam jumlah kecil, berpotensi berlangsung terus-menerus.

Kondisi tersebut membuat paparan perlu dilihat bukan hanya berdasarkan jumlah dalam satu kali konsumsi, tetapi juga sebagai kemungkinan paparan jangka panjang.

Pengelolaan sampah hingga standar keamanan pangan

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan mikroplastik pada pangan tidak dapat dilepaskan dari persoalan pencemaran di lingkungan.

Karena itu, peneliti mendorong penguatan pengelolaan sampah plastik, terutama di wilayah pesisir dan perairan yang menjadi sumber bahan baku produksi garam.

Pelaku usaha garam laut juga dinilai perlu melakukan penyaringan awal terhadap air laut sebelum memasuki proses penguapan. Langkah tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi masuknya partikel mikroplastik ke dalam produk.

Di tingkat kebijakan, peneliti mendorong adanya pedoman dan standardisasi mengenai kandungan mikroplastik dalam produk garam.

“Pemantauan mikroplastik sebaiknya dimasukkan ke dalam standar keamanan pangan dan kualitas garam nasional,” tulis tim peneliti, dikutip Jumat (14/8).

Temuan ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan mikroplastik tidak berhenti ketika sampah plastik masuk ke laut. Ketika air laut digunakan sebagai bahan baku produksi pangan, pencemaran yang terjadi di lingkungan dapat berakhir kembali di meja makan.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas

Menjaga Laut, Garam, dan Tradisi Desa Les di Tengah Modernitas

Your Say | Jum'at, 14 Agustus 2026 | 12:10 WIB

Masa Lalu Arya Wedakarna di Dunia Hiburan, Senator yang Dituding Intimidasi Wanita Lombok

Masa Lalu Arya Wedakarna di Dunia Hiburan, Senator yang Dituding Intimidasi Wanita Lombok

Entertainment | Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:35 WIB

Nelayan di Zona Perang, Mencari Ikan Ketemunya Rudal dan Ranjau Laut

Nelayan di Zona Perang, Mencari Ikan Ketemunya Rudal dan Ranjau Laut

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:05 WIB

Terkini

Selasa Pagi, Kualitas Udara Jakarta Masuk 6 Terburuk di Dunia

Selasa Pagi, Kualitas Udara Jakarta Masuk 6 Terburuk di Dunia

News | Selasa, 29 September 2026 | 07:17 WIB

7 Penyebab Parfum Terasa Menyengat Bikin Pusing di Awal Semprotan

7 Penyebab Parfum Terasa Menyengat Bikin Pusing di Awal Semprotan

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 07:14 WIB

Terbukti Sekarang di Timnas Indonesia, Ini Kelemahan Taktik John Herdman Saat Melatih Kanada

Terbukti Sekarang di Timnas Indonesia, Ini Kelemahan Taktik John Herdman Saat Melatih Kanada

Bola | Selasa, 29 September 2026 | 07:00 WIB

Jawa Timur Jadi Raja Tembakau, Produksi Tembus 148,77 Ribu Ton

Jawa Timur Jadi Raja Tembakau, Produksi Tembus 148,77 Ribu Ton

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 07:00 WIB

Reklame Roboh Timpa 3 Bangunan di Bandung, 4 Orang Sempat Terjebak

Reklame Roboh Timpa 3 Bangunan di Bandung, 4 Orang Sempat Terjebak

News | Selasa, 29 September 2026 | 06:51 WIB

4 Zodiak Beruntung 29 September 2026: Hoki dan Kelimpahan di Depan Mata

4 Zodiak Beruntung 29 September 2026: Hoki dan Kelimpahan di Depan Mata

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 06:46 WIB

Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles

Sejarah Jawa Jilid II: Masyarakat, Agama, dan Tradisi dalam Catatan Raffles

Your Say | Selasa, 29 September 2026 | 06:41 WIB

Talenta Indonesia Tak Cuma Butuh Skill, tapi Juga Akses dan Kesempatan

Talenta Indonesia Tak Cuma Butuh Skill, tapi Juga Akses dan Kesempatan

Lifestyle | Selasa, 29 September 2026 | 06:34 WIB

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Main 10 Orang, Indonesia Tahan Malaysia 0-0 di SUGBK

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 06:00 WIB

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

HUT ke-81, KAI Layani 258,9 Juta Pelanggan pada Semester I 2026

Foto | Selasa, 29 September 2026 | 05:05 WIB

×