-
BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pasca gempa M 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur.
-
Getaran gempa dirasakan meluas hingga Pulau Flores, Sumba, Adonara, serta wilayah Solor.
-
Wilayah Ngada utara sempat berstatus waspada sebelum BMKG memastikan kondisi perairan kembali aman.
Suara.com - BMKG resmi mencabut peringatan dini tsunami setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 menghentak wilayah Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi. Kepastian ini mengonfirmasi bahwa ancaman gelombang laut berbahaya akibat guncangan dahsyat tersebut kini telah reda sepenuhnya.
"Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa kekuatan 7,7 hari ini pukul 04.58 WIB dinyatakan telah berakhir," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto di Jakarta, Sabtu.
Keputusan pengakhiran status darurat ini membuktikan efektivitas sistem deteksi cepat Indonesia dalam merespons potensi bencana pesisir secara real-time. Warga di kawasan pesisir Flores hingga Sumba kini bisa bernapas lega setelah sempat berada dalam bayang-bayang ancaman tsunami.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menyaring informasi resmi dan tidak terpancing isu simpang siur yang beredar di media sosial. Pihak berwenang berjanji akan terus memantau pergerakan tektonik di wilayah tersebut secara berkala.
"Demikian informasi terakhir disampaikan oleh sistem peringatan dini tsunami Indonesia, kecuali ada informasi baru," kata Wijayanto.
Bagaimana Kronologi Peringatan Tsunami Diaktifkan?
Pihak BMKG awalnya mengaktifkan status peringatan dini tingkat pertama tak lama setelah gempa awal M 7,0 terdeteksi oleh sensor seismik. Wilayah Ngada bagian utara sempat menyalakan alarm waspada dengan perkiraan kedatangan gelombang air laut sekitar pukul 05.01 WIB.
Parameter guncangan kemudian diperbarui menjadi magnitudo 7,7 seiring masuknya data pendukung yang lebih akurat dari jaringan stasiun gempa. Kendati skala gempa meningkat tajam, pemantauan muka air laut tidak menunjukkan adanya lonjakan gelombang yang merusak.
Rentetan gempa susulan dilaporkan masih terus berlanjut hingga pukul 07.02 WITA di beberapa titik wilayah NTT. Getaran merata dirasakan oleh penduduk di seluruh Pulau Flores, sebagian Pulau Sumba, hingga wilayah kepulauan Adonara dan Solor.
Wilayah Nusa Tenggara Timur sendiri berada di atas zona patahan aktif yang mempertemukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Kondisi geologis inilah yang menjadikan kawasan kepulauan tersebut sangat rentan terhadap guncangan gempa dangkal berpotensi tsunami.