- Arab Saudi memimpin koalisi militer 13 negara untuk melindungi jalur pelayaran Laut Merah.
- Inisiatif ini bertujuan membendung serangan Houthi sekaligus menggalang dukungan keamanan dari komunitas internasional.
- Efektivitas aliansi bergantung pada kemampuan mengubah komitmen politik menjadi aksi pertahanan nyata di laut.
Suara.com - Arab Saudi menggalang kekuatan bersama 13 negara untuk membentuk koalisi militer maritim demi mengamankan jalur pelayaran strategis Laut Merah. Langkah ini merespons meningkatnya ancaman serangan milisi Houthi terhadap kapal-kapal tanker dan fasilitas minyak di wilayah tersebut.
Inisiatif Riyadh melampaui proteksi navigasi di Selat Bab al-Mandeb dan Teluk Aden. Pemerintah Arab Saudi berusaha menggeser persepsi publik dengan mengategorikan ancaman Houthi sebagai krisis perdagangan internasional, bukan sekadar konflik bilateral.
Formasi pertahanan bersama ini menyatukan kekuatan lintas benua, mulai dari Bahrain, Mesir, Yordania, Qatar, Turkiye, hingga Bangladesh dan Somalia. Laksamana Muda Abdullah bin Salem Al-Shehri resmi ditunjuk memimpin operasional pertahanan maritim terpadu tersebut.
![Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz [Rusen dengan penyesuaian oleh Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/23/12907-selat-bab-al-mandeb-dan-selat-hormuz.jpg)
Kerja sama antarnegara anggota mencakup pertukaran intelijen, latihan militer bersama, hingga patroli pertahanan laut secara terpadu. Lebih banyak negara diperkirakan bakal bergabung mengingat memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Stabilitas kawasan kian terguncang akibat penutupan jalur Selat Hormuz pascamembuat pasokan 20 persen minyak dan gas alam dunia terhenti. Eskalasi tersebut berdampak langsung pada guncangan ekonomi global saat ini.
Apakah Koalisi Maritim Ini Mampu Bekerja Efektif?
Analis senior International Crisis Group untuk Yaman, Ahmed Nagi, menilai keampuhan aliansi ini bergantung penuh pada implementasi taktis di lapangan. Pengalaman sejarah menunjukkan banyak pakta keamanan serupa berakhir sebatas komitmen politik di atas kertas.
“Kami telah melihat beberapa inisiatif keamanan maritim sebelumnya, termasuk yang dibentuk selama krisis perompakan di Teluk Aden. Meskipun beberapa dari inisiatif ini memiliki arti penting secara politik, banyak di antaranya yang kesulitan menerjemahkan tujuan mereka menjadi hasil nyata di lapangan,” ujar Nagi kepada Al Jazeera.
“Hal yang sama berlaku untuk aliansi ini. Aliansi ini bisa menjadi penting jika mampu mengubah kesepakatan dan komitmen politik menjadi tindakan konkret yang mengatasi ancaman terhadap keamanan maritim dan kebebasan navigasi,” lanjutnya.
Skema pertahanan bersama ini dirancang untuk membagi beban keamanan agar tidak ditanggung sendirian oleh pemerintah Riyadh. Penyerangan jalur logistik maritim kini ditransformasikan menjadi perhatian kolektif masyarakat internasional.
“Dari perspektif Riyadh, respons terhadap serangan-serangan ini tidak boleh ditanggung oleh Arab Saudi saja. Sebaliknya, harus ada upaya internasional yang lebih luas untuk menangani Houthi dan gangguan yang mereka sebabkan di Laut Merah,” ungkap Nagi.
Bagaimana Skenario Operasional Koalisi Terhadap Houthi?
Aliansi militer ini untuk sementara difokuskan pada skema pertahanan pasif dan perlindungan armada niaga. Meski demikian, konstelasi operasional dapat berubah manakala intensitas pembajakan dan penembakan peluru kendali terus berlanjut.
“Belum ada indikasi bahwa aliansi ini ditujukan untuk meluncurkan operasi ofensif terhadap Houthi. Namun, bukan berarti Arab Saudi akan tetap diam jika serangan terus berlanjut,” kata Nagi.
“Pada titik tertentu, Riyadh mungkin memutuskan bahwa mereka perlu merespons secara lebih langsung,” jelasnya. Jika hal itu terjadi, aliansi ini dapat menyediakan kerangka kerja bagi Arab Saudi untuk bertindak dengan dukungan internasional yang lebih luas.
“Pada akhirnya, tujuannya adalah untuk meningkatkan dampak kerugian dari serangan Houthi dan menciptakan daya tangkal yang lebih kuat,” tambah Nagi.
“Pesan yang coba disampaikan Arab Saudi adalah bahwa serangan-serangan ini tidak hanya menargetkan kepentingan Arab Saudi. Serangan tersebut mempengaruhi pelayaran internasional dan perdagangan global, sehingga harus dilihat sebagai perhatian masyarakat internasional yang lebih luas.”
Eskalasi di perairan Yaman berakar dari pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh milisi Houthi yang disokong Iran sejak 2014. Kelompok tersebut terlibat perang saudara melawan pemerintah resmi Yaman di Aden yang didukung langsung oleh Arab Saudi.
Kondisi keamanan kian memburuk seiring meluasnya perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari. Houthi merespons ketegangan kawasan dengan mengincar kapal berbendera Arab Saudi serta instalasi minyak di sepanjang Laut Merah.