- Kebakaran hutan di Kalimantan Barat memicu kabut asap hingga melumpuhkan aktivitas sekolah di Malaysia.
- Anomali iklim El Niño memicu lonjakan drastis titik panas dan mengancam habitat orangutan Kalimantan.
- Penanganan karhutla dipertanyakan akibat pemangkasan anggaran penanggulangan bencana di tingkat pusat dan daerah.
Suara.com - Persebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menyeberang ke wilayah Malaysia dan memaksa enam sekolah di Sarawak menghentikan aktivitas belajar tatap muka. Lonjakan polusi udara di kawasan perbatasan tersebut kini mencapai tingkat sangat tidak sehat akibat eskalasi titik panas yang terus meluas.
Wilayah Tebedu di Sarawak mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) melampaui angka 200 pada 12 Agustus lalu, yang memicu pemerintah setempat memberlakukan pembelajaran daring. Bahkan, lembaga pemantau kualitas udara IQAir sempat menempatkan Kota Kuching di posisi teratas sebagai kota paling berpolusi di dunia pada 11 Agustus.
Dikutip dari Mongabay, Eskalasi karhutla ini menjadi krisis lintas batas terparah musim ini seiring lonjakan drastis titik panas di wilayah Kalimantan Barat. Data resmi APIMS Malaysia mencatat setidaknya 11 kawasan di Sarawak berada pada level kualitas udara tidak sehat dalam periode yang sama.
![ILUSTRASI penampakan kebakaran hutan Kalimantan dari satelit Nasa. [NASA Worldview]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/09/15/49126-kebakaran-hutan-kalimantan.jpg)
Pemerintah Kota Pontianak telah meliburkan seluruh sekolah secara tidak terbatas demi melindungi anak-anak dari paparan asap pekat. Selain Kalimantan, wilayah Sumatra juga mulai terancam oleh kebakaran lahan gambut yang berpotensi mengirimkan asap ke Singapura.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa Indonesia baru saja memasuki puncak musim kebakaran pada Agustus dan September. Enam provinsi prioritas kini memfokuskan pemadaman pada area gambut yang sangat mudah terbakar selama musim kemarau.
Kalimantan Barat mencatatkan kerusakan terparah dengan luas area terbakar mencapai 28.680 hektar per 9 Agustus. Angka tersebut menyumbang lebih dari separuh total akumulasi kerusakan lahan di enam provinsi prioritas penanganan.
Namun, estimasi LSM Madani Berkelanjutan menunjukkan angka yang jauh lebih besar, yaitu mencapai 50.558 hektar area terindikasi terbakar di Kalimantan Barat. Peningkatan drastis ini dipicu oleh kemunculan fenomena El Niño kategori kuat yang melanda kawasan Asia Tenggara.
Analisis spasial menunjukkan bahwa lonjakan luas lahan terbakar di Indonesia meningkat hingga delapan kali lipat dari Juni ke Juli. Platform pemantau satelit FireWatch bahkan mendeteksi lebih dari 154.000 titik panas tersebar di seluruh Indonesia hingga pertengahan Agustus.
Mengapa Satwa Langka Turut Terancam Oleh Amukan Karhutla?
Amukan si jago merah kini mengancam keselamatan lebih dari 60 individu orangutan Kalimantan di pusat rehabilitasi YIARI Ketapang. Kobaran api yang berkobar hingga jarak satu kilometer dari fasilitas tersebut sempat memicu kekhawatiran besar sebelum berhasil dipadamkan.
Melalui unggahan di media sosial Instagram, pihak YIARI sempat menyampaikan keprihatinannya saat api mendekati area pusat rehabilitasi.
“Api kini sangat dekat dengan pusat rehabilitasi orangutan, dan kami khawatir angin akan membuat api semakin meluas,” kata YIARI dalam unggahan Instagram mereka.
Petugas pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan kobaran utama pada 12 Agustus dini hari, meski sisa sisa asap tebal masih menyelimuti area tersebut. Selain di Ketapang, titik panas juga terdeteksi mendekati lanskap Hutan Sungai Putri yang menjadi rumah bagi ribuan orangutan liar.
Kerusakan habitat akibat karhutla juga meluas hingga ke Pulau Jawa, tepatnya di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kebakaran yang melahap 899 hektar savana dan hutan membuat satwa seperti kera ekor panjang turun ke jalanan untuk mencari makan.
Namun, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Rudijanta Tjahja Nugraha, memberikan klarifikasi mengenai kondisi satwa liar di area konservasi tersebut.