Kebakaran di Kawasan Bromo: Mengapa Pemulihan Ekosistem Tak Bisa Sekadar Menanam Pohon?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:49 WIB
Kebakaran di Kawasan Bromo: Mengapa Pemulihan Ekosistem Tak Bisa Sekadar Menanam Pohon?
Kawasan Gunung Bromo (dok.Pexels/ Ilham Zovanka)

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, tidak hanya mengganggu aktivitas wisata. Api yang meluas di tengah vegetasi kering dan medan yang sulit dijangkau juga berpotensi mengubah kondisi ekologis kawasan.

Akses wisata bahkan sempat ditutup untuk membantu proses pemadaman.

Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, mengatakan hilangnya sebagian biomassa akibat kebakaran merupakan konsekuensi ekologis yang sulit dihindari.

Namun, menurutnya, penanganan pascakebakaran perlu mempertimbangkan karakter ekosistem yang terdampak.

“Memahami karakteristik api dan ekosistem yang terbakar menjadi langkah penting untuk menentukan respons dan strategi pemulihan kawasan,” kata Endah.

Mengapa api cepat menyebar?

Dalam ekologi, kebakaran terjadi ketika tiga unsur tersedia secara bersamaan: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas.

Di kawasan alam seperti Bromo, bahan bakar terutama berasal dari biomassa di permukaan tanah, seperti daun, bunga, buah, dan kayu. Saat musim kemarau, material tersebut dapat mengering sehingga lebih mudah terbakar.

Kondisi ini menjadi lebih penting pada ekosistem savana yang terbuka.

baca juga

Menurut Endah, savana memang memiliki biomassa yang lebih sedikit dibandingkan hutan lebat. Namun, keterbukaannya membuat panas dan angin dapat membantu api menyebar lebih cepat, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering.

Karena itu, karakter lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan kebakaran.

Satwa kehilangan tempat berlindung

Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap ekosistem. Ekosistem memiliki kemampuan untuk merespons gangguan dan memulihkan diri.

Namun, kebakaran dapat memberikan dampak langsung terhadap tumbuhan dan satwa.

“Tumbuhan tidak bisa” menghindari api, kata Endah. Sementara itu, satwa yang mampu bergerak dapat berusaha menyelamatkan diri.

Persoalannya, satwa yang melarikan diri membutuhkan ruang aman. Jika habitat di sekitar kawasan terbakar tidak lagi menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan, satwa berpotensi bergerak ke wilayah yang berdekatan dengan permukiman.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa. Kebakaran juga dapat mengancam fasilitas pariwisata dan permukiman di sekitar kawasan terdampak.

Jangan buru-buru menanam pohon
Meski demikian, Endah mengingatkan bahwa ekosistem tidak selalu membutuhkan intervensi manusia secara langsung untuk pulih.

Ekosistem memiliki daya lenting atau resiliensi yang memungkinkannya kembali melalui proses suksesi alami. Turunnya hujan, misalnya, dapat membantu benih rumput yang masih tersimpan di dalam tanah untuk tumbuh kembali.

Karena itu, ia menyarankan pengelola mengutamakan pemulihan pasif dengan memantau proses regenerasi alami sebelum melakukan restorasi aktif.

“Satu hal yang paling penting, jangan terburu-buru melakukan penanaman massal,” ujarnya.

Menurutnya, penanaman pohon secara besar-besaran justru dapat mengubah karakter savana apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi ekologisnya.

“Kalau kita langsung intervensi dengan menanam, apalagi jika yang ditanam adalah pohon berkayu massal di area yang sejatinya savana, kita malah mengubah ekosistem savana menjadi hutan,” katanya.

Artinya, pemulihan kawasan tidak selalu berarti menanam sebanyak mungkin pohon. Yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi dan struktur ekosistem sesuai karakter alaminya.

Memetakan dampak kebakaran

Sebelum menentukan bentuk pemulihan, Endah menyarankan dilakukan asesmen untuk mengetahui luasan dan kondisi kawasan yang terbakar.

Teknologi satelit dapat digunakan untuk memetakan sebaran area terdampak secara lebih akurat. Kondisi hidrologi juga perlu diperiksa karena hilangnya vegetasi dapat mengurangi kemampuan tanah menahan dan menyerap air ketika musim hujan.

Pemantauan tersebut penting untuk mengantisipasi dampak lanjutan seperti erosi dan gangguan tata air.

Selain pemulihan, pencegahan juga perlu diperkuat. Jika aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu kebakaran, pengawasan terhadap perilaku pengunjung perlu ditingkatkan, terutama selama musim kemarau.

“Pihak taman nasional wajib memastikan tidak ada lagi aktivitas yang memicu percikan api,” kata Endah.

Bagi kawasan seperti Bromo, pemulihan pascakebakaran pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengembalikan warna hijau. Yang perlu dipulihkan adalah ekosistemnya—dengan tetap mempertahankan karakter alami yang membuat kawasan tersebut menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Hanya Jaga Laut, Terumbu Karang Bisa Jadi Sumber Cuan Warga Pesisir

Tak Hanya Jaga Laut, Terumbu Karang Bisa Jadi Sumber Cuan Warga Pesisir

Bisnis | Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:25 WIB

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Mengenal Carbon Trading: Saat Krisis Iklim Bertemu Logika Pasar

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 08:25 WIB

Karhutla Riau Makin Meluas, Ratusan Hektare Lahan Terbakar

Karhutla Riau Makin Meluas, Ratusan Hektare Lahan Terbakar

Foto | Kamis, 20 Agustus 2026 | 07:30 WIB

Terkini

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

63 Jenazah Korban Virgo Teridentifikasi, Jawa Timur Terbanyak dengan 28 Orang

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:13 WIB

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Sensasi Berburu Jajanan Viral ala Chatuchak Bangkok Kini Bisa Dirasakan di Kelapa Gading

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:07 WIB

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Memilih Produk untuk Anak, Orang Tua Perlu Melihat Lebih dari Sekadar Label

Health | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:06 WIB

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Analis Politik Ungkap Peluang Besar Dedi Mulyadi Menuju Pilpres 2029

Video | Minggu, 04 Oktober 2026 | 21:05 WIB

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Membangun Literasi Finansial Sejak Dini Melalui BRImo Junior

Bri | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:54 WIB

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Pria di Jember Ngaku Bertemu Allah dan Nabi Muhammad, Polisi Dalami dan Koordinasi dengan MUI

Pria di Jember Ngaku Bertemu Allah dan Nabi Muhammad, Polisi Dalami dan Koordinasi dengan MUI

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:37 WIB

Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif

Bukan Sekadar Belajar, Siswa SMA Ini Ubah Masalah Lingkungan Jadi Ide Inovatif

Lifestyle | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:34 WIB

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

Jasad Pria Ditemukan Mengapung di Teluk Popoh, Polisi Telusuri Petunjuk Tas Berisi Identitas

News | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:28 WIB

Kabut Asap Palembang, Pesawat dari Malaysia Gagal Mendarat hingga Penumpang Rekam Momen Putar Balik

Kabut Asap Palembang, Pesawat dari Malaysia Gagal Mendarat hingga Penumpang Rekam Momen Putar Balik

Sumsel | Minggu, 04 Oktober 2026 | 20:15 WIB

×