Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, tidak hanya mengganggu aktivitas wisata. Api yang meluas di tengah vegetasi kering dan medan yang sulit dijangkau juga berpotensi mengubah kondisi ekologis kawasan.
Akses wisata bahkan sempat ditutup untuk membantu proses pemadaman.
Guru Besar Ekologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), Prof. Endah Sulistyawati, mengatakan hilangnya sebagian biomassa akibat kebakaran merupakan konsekuensi ekologis yang sulit dihindari.
Namun, menurutnya, penanganan pascakebakaran perlu mempertimbangkan karakter ekosistem yang terdampak.
“Memahami karakteristik api dan ekosistem yang terbakar menjadi langkah penting untuk menentukan respons dan strategi pemulihan kawasan,” kata Endah.
Mengapa api cepat menyebar?
Dalam ekologi, kebakaran terjadi ketika tiga unsur tersedia secara bersamaan: bahan bakar, oksigen, dan sumber panas.
Di kawasan alam seperti Bromo, bahan bakar terutama berasal dari biomassa di permukaan tanah, seperti daun, bunga, buah, dan kayu. Saat musim kemarau, material tersebut dapat mengering sehingga lebih mudah terbakar.
Kondisi ini menjadi lebih penting pada ekosistem savana yang terbuka.
Menurut Endah, savana memang memiliki biomassa yang lebih sedikit dibandingkan hutan lebat. Namun, keterbukaannya membuat panas dan angin dapat membantu api menyebar lebih cepat, terutama ketika vegetasi dalam kondisi kering.
Karena itu, karakter lanskap dan kondisi vegetasi perlu menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan kebakaran.
Satwa kehilangan tempat berlindung
Dalam perspektif ekologi, api merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap ekosistem. Ekosistem memiliki kemampuan untuk merespons gangguan dan memulihkan diri.
Namun, kebakaran dapat memberikan dampak langsung terhadap tumbuhan dan satwa.
“Tumbuhan tidak bisa” menghindari api, kata Endah. Sementara itu, satwa yang mampu bergerak dapat berusaha menyelamatkan diri.
Persoalannya, satwa yang melarikan diri membutuhkan ruang aman. Jika habitat di sekitar kawasan terbakar tidak lagi menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan, satwa berpotensi bergerak ke wilayah yang berdekatan dengan permukiman.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa. Kebakaran juga dapat mengancam fasilitas pariwisata dan permukiman di sekitar kawasan terdampak.
Jangan buru-buru menanam pohon
Meski demikian, Endah mengingatkan bahwa ekosistem tidak selalu membutuhkan intervensi manusia secara langsung untuk pulih.
Ekosistem memiliki daya lenting atau resiliensi yang memungkinkannya kembali melalui proses suksesi alami. Turunnya hujan, misalnya, dapat membantu benih rumput yang masih tersimpan di dalam tanah untuk tumbuh kembali.
Karena itu, ia menyarankan pengelola mengutamakan pemulihan pasif dengan memantau proses regenerasi alami sebelum melakukan restorasi aktif.
“Satu hal yang paling penting, jangan terburu-buru melakukan penanaman massal,” ujarnya.
Menurutnya, penanaman pohon secara besar-besaran justru dapat mengubah karakter savana apabila dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi ekologisnya.
“Kalau kita langsung intervensi dengan menanam, apalagi jika yang ditanam adalah pohon berkayu massal di area yang sejatinya savana, kita malah mengubah ekosistem savana menjadi hutan,” katanya.
Artinya, pemulihan kawasan tidak selalu berarti menanam sebanyak mungkin pohon. Yang lebih penting adalah mengembalikan fungsi dan struktur ekosistem sesuai karakter alaminya.
Memetakan dampak kebakaran
Sebelum menentukan bentuk pemulihan, Endah menyarankan dilakukan asesmen untuk mengetahui luasan dan kondisi kawasan yang terbakar.
Teknologi satelit dapat digunakan untuk memetakan sebaran area terdampak secara lebih akurat. Kondisi hidrologi juga perlu diperiksa karena hilangnya vegetasi dapat mengurangi kemampuan tanah menahan dan menyerap air ketika musim hujan.
Pemantauan tersebut penting untuk mengantisipasi dampak lanjutan seperti erosi dan gangguan tata air.
Selain pemulihan, pencegahan juga perlu diperkuat. Jika aktivitas manusia menjadi salah satu pemicu kebakaran, pengawasan terhadap perilaku pengunjung perlu ditingkatkan, terutama selama musim kemarau.
“Pihak taman nasional wajib memastikan tidak ada lagi aktivitas yang memicu percikan api,” kata Endah.
Bagi kawasan seperti Bromo, pemulihan pascakebakaran pada akhirnya bukan sekadar persoalan mengembalikan warna hijau. Yang perlu dipulihkan adalah ekosistemnya—dengan tetap mempertahankan karakter alami yang membuat kawasan tersebut menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.