Karhutla di Kalimantan Kembali Meluas, Greenpeace Desak Pencegahan Diperkuat

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:10 WIB
Karhutla di Kalimantan Kembali Meluas, Greenpeace Desak Pencegahan Diperkuat
Foto udara kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Bagi Greenpeace Indonesia, kebakaran yang berulang setiap tahun menunjukkan penanganan pemerintah masih lebih banyak berfokus pada pemadaman ketika api sudah meluas, bukan mencegah kebakaran sejak awal.

Pemantauan Greenpeace pada 11–16 Agustus 2026 menemukan 592 titik sumber asap di Kalimantan. Sebanyak 455 titik di antaranya berada di kawasan lahan gambut.

Sebaran titik asap paling banyak ditemukan di Kalimantan Barat dengan 322 titik, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 181 titik dan Kalimantan Selatan 86 titik.

Asap dari kebakaran bahkan dilaporkan menyeberang hingga Sarawak, Malaysia. Greenpeace mencatat Kalimantan Barat terdampak asap selama sekitar 17 hari, sementara Sarawak terdampak selama 11 hari dalam periode pemantauan tersebut.

Kondisi ini mengingatkan pada pola penyebaran asap lintas batas yang pernah terjadi pada 2019.

Kebakaran juga terjadi di Papua Selatan

Ilustrasi Karhutla di Indonesia. [Suara.com/Syahda]
Ilustrasi Karhutla di Indonesia. [Suara.com/Syahda]

Persoalan serupa ditemukan di Papua Selatan. Greenpeace mencatat 284 titik sumber asap di wilayah tersebut, dengan 278 titik berada di Merauke.

Sebagian wilayah dataran rendah di Indonesia timur itu memiliki ekosistem lahan basah dan gambut yang luas. Ekosistem tersebut berperan dalam menyimpan karbon sekaligus mengatur tata air.

Namun, gambut menjadi rentan terbakar ketika mengalami pengeringan atau perubahan tata kelola lahan.

baca juga

Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian wilayah tersebut juga berkaitan dengan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Menurut Greenpeace, kerusakan ekosistem gambut dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika tata airnya terganggu.

Greenpeace: Modifikasi cuaca bukan solusi utama

Pemerintah sebelumnya mengarahkan sejumlah langkah penanganan karhutla, termasuk operasi modifikasi cuaca serta pengerahan helikopter dan pesawat untuk membantu pemadaman.

Namun, Peneliti Senior Greenpeace Indonesia Sapta Ananda Proklamasi menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi persoalan karhutla.

“Operasi modifikasi cuaca itu bukan jawaban yang pas. Negara punya sumber daya yang banyak bisa memberikan solusi-solusi nyata,” ujarnya.

Menurut Ananda, modifikasi cuaca merupakan bentuk respons ketika kebakaran sudah terjadi, bukan langkah pencegahan terhadap sumber masalah.

“Cara itu merupakan respons, bukan antisipasi. Seharusnya antisipasi lebih ke akar-akar masalah,” katanya.

Ia menilai pemerintah perlu memperbaiki kondisi sumber daya air, mengatasi kerentanan lahan gambut dan rawa, serta memulihkan kawasan yang telah mengalami kerusakan.

Dengan begitu, penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga mengurangi kemungkinan kebakaran kembali terjadi.

Asap mengancam kesehatan
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh ekosistem. Asap juga menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat.

Data IQAir yang dikutip Greenpeace menunjukkan kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, masuk kategori tidak sehat sejak 31 Juli 2026. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kualitas udara bahkan sempat mencapai kategori berbahaya.

Kondisi tersebut beriringan dengan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dalam satu hari, kasus ISPA dilaporkan bertambah hingga 600 kasus dan sembilan pasien harus menjalani rawat inap.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belgis Habiba mengatakan dampak tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan.

“Sudah 81 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah seharusnya tidak hanya memamerkan capaian. Kemerdekaan juga berarti memastikan rakyat terbebas dari asap, kehilangan hutan, dan bencana ekologis yang terus berulang,” katanya.

Greenpeace mendesak pemerintah berhenti melihat karhutla sebagai bencana musiman yang hanya membutuhkan respons darurat.

Mereka mendorong pemerintah memperkuat perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut, memperbaiki tata kelola air, serta menindak pihak yang menyebabkan kerusakan hutan dan lahan.

Sebab, selama kebijakan hanya berfokus pada memadamkan api setelah kebakaran terjadi, siklus karhutla akan sulit diputus. Pencegahan harus dimulai dari menjaga ekosistem yang membuat kebakaran lebih sulit terjadi.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kirim Pasukan ke Jila, Satgas Damai Cartenz Buru Kelompok Penyandera Wanita Hamil dan 8 Warga

Kirim Pasukan ke Jila, Satgas Damai Cartenz Buru Kelompok Penyandera Wanita Hamil dan 8 Warga

News | Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:12 WIB

Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam

Kebakaran Hutan Kalimantan: Ketika Kemarau Terus Dijadikan Kambing Hitam

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Zona Merah Hukum Adat: Mendesak Perlindungan Kesakralan Mama Papua di Tengah Konflik

Zona Merah Hukum Adat: Mendesak Perlindungan Kesakralan Mama Papua di Tengah Konflik

Your Say | Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:59 WIB

Terkini

Satu Mobil, Beda Titik Jemput: Grab Group Ride Diklaim Bisa Hemat 54,6 Persen

Satu Mobil, Beda Titik Jemput: Grab Group Ride Diklaim Bisa Hemat 54,6 Persen

Tekno | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:43 WIB

BEM SI Demo di DPR! Polisi Siagakan 3.983 Personel dan Minta Warga Gunakan Jalur Alternatif

BEM SI Demo di DPR! Polisi Siagakan 3.983 Personel dan Minta Warga Gunakan Jalur Alternatif

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Sopir Towing Ngantuk di Lajur Cepat, 5 Kendaraan Tabrakan Karambol di Tol Sumo

Sopir Towing Ngantuk di Lajur Cepat, 5 Kendaraan Tabrakan Karambol di Tol Sumo

Jatim | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:34 WIB

Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan

Ulasan Buku Look! A Bear!: Tentang Persahabatan yang Melampaui Perbedaan

Your Say | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:30 WIB

Indriyanto Nugroho Ungkap 'Musuh Tersembunyi' Bisa Hancurkan Karier Pesepak Bola Muda Indonesia

Indriyanto Nugroho Ungkap 'Musuh Tersembunyi' Bisa Hancurkan Karier Pesepak Bola Muda Indonesia

Sulsel | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:26 WIB

Geruduk DPR Siang Ini, BEM SI Bawa 4 Tuntutan: Realisasikan Pendidikan Gratis Sekarang!

Geruduk DPR Siang Ini, BEM SI Bawa 4 Tuntutan: Realisasikan Pendidikan Gratis Sekarang!

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Ibu di Tanggamus Syok Pergoki Kakek 69 Tahun Cabuli Anaknya di Kamar, Terkuak Aksi Bejat Tahunan

Ibu di Tanggamus Syok Pergoki Kakek 69 Tahun Cabuli Anaknya di Kamar, Terkuak Aksi Bejat Tahunan

Lampung | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:25 WIB

Jejak Daulah Islamiyah: 11 Terduga Teroris di Enam Provinsi Termasuk Riau Ditangkap

Jejak Daulah Islamiyah: 11 Terduga Teroris di Enam Provinsi Termasuk Riau Ditangkap

Riau | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:08 WIB

Bupati Gowa Tunjukkan Video Kepala Kantor Pos Akui Salah Kirim Surat MA

Bupati Gowa Tunjukkan Video Kepala Kantor Pos Akui Salah Kirim Surat MA

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:03 WIB

Kilat Sehari Jadi: Mengapa Pergantian Kapolri Berlangsung Hanya dalam Hitungan Jam?

Kilat Sehari Jadi: Mengapa Pergantian Kapolri Berlangsung Hanya dalam Hitungan Jam?

News | Senin, 05 Oktober 2026 | 08:01 WIB

×