- Kebakaran lahan warga di dekat Bandara Douw Aturure Nabire menyebabkan jarak pandang turun drastis pada Jumat.
- Plt Kepala UPBU Alrido Simanjuntak menyatakan pengelola membatalkan dua penerbangan serta menutup bandara sementara sore hari.
- Petugas pemadam kebakaran berupaya menyemprot air agar api dari luar tidak merambat masuk area bandara.
Suara.com - Aktivitas penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire, Papua Tengah, terganggu akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Jumat (21/8/2026). Kondisi tersebut membuat jarak pandang di sekitar bandara turun drastis hingga kurang dari 70 meter.
Akibat kondisi tersebut, pengelola Bandara Douw Aturure membatalkan dua penerbangan yang dijadwalkan beroperasi pada Jumat sore.
Plt Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Douw Aturure Nabire, Alrido Simanjuntak, mengatakan penerbangan yang terdampak adalah Nam Air rute Nabire-Makassar dan Wings Air rute Timika-Nabire.
“Jarak pandang tadi sudah kabur di bawah 70 meter, padahal jarak pandang untuk penerbangan seharusnya 5 kilometer. Karena kondisi tersebut, ada dua penerbangan yang terdampak akibat asap ini,” ujar Alrido di Nabire, Jumat (21/8/2027), dikutip dari ANTARA.
Penerbangan Nam Air yang sedianya berangkat dari Nabire menuju Makassar sekitar pukul 15.30 WIT dibatalkan. Sementara itu, pesawat Wings Air dari Timika yang dijadwalkan tiba di Nabire sekitar pukul 16.00 WIT juga terdampak kondisi cuaca akibat asap.
Demi keselamatan penerbangan, penumpang, dan awak pesawat, Bandara Douw Aturure kemudian ditutup sementara mulai sekitar pukul 15.30 WIT.
Jarak Pandang Membaik, Belum Aman untuk Penerbangan
Lebih dari satu jam setelah kondisi memburuk, jarak pandang di kawasan bandara mulai meningkat menjadi sekitar 100 meter. Namun, kondisi tersebut masih jauh dari batas yang dibutuhkan untuk memastikan penerbangan dapat kembali berlangsung normal.
Alrido mengatakan pihaknya juga belum dapat memastikan kondisi operasional penerbangan pada Sabtu (22/8).
“Untuk besok saya belum bisa memastikan. Petugas pemadam masih berusaha menjaga agar api tidak meluas ke area bandara,” katanya.
Gangguan penerbangan tersebut bukan disebabkan api yang sudah memasuki kawasan bandara. Menurut Alrido, sumber asap berasal dari lahan warga yang terbakar di sekitar bandara.
Lokasi kebakaran disebut hanya berjarak sekitar 70 meter dari pagar perimeter Bandara Douw Aturure. Api masih ditahan agar tidak merambat masuk ke kawasan bandara, sementara asap telah terbawa hingga ke area operasional.
“Kalau apinya tidak masuk karena teman-teman dari unit pemadam kebakaran berusaha menjaga api agar tidak masuk ke daerah runway. Asapnya yang masuk,” ujar Alrido.
Untuk mencegah api menjalar ke kawasan bandara, petugas pemadam kebakaran terus melakukan penyemprotan air, terutama pada tumbuhan yang berada di sepanjang pagar perimeter.
Penerbangan Pagi hingga Siang Masih Normal
Sebelum asap semakin tebal pada sore hari, aktivitas penerbangan di Bandara Douw Aturure masih berjalan aman. Gangguan baru terjadi ketika jarak pandang menurun secara signifikan pada sore hari.
Dalam kondisi normal, Bandara Douw Aturure melayani sekitar 40 pergerakan pesawat setiap hari atau sekitar 20 hingga 25 penerbangan. Aktivitas penerbangan biasanya dimulai sejak pukul 06.30 WIT.
Untuk mengantisipasi kebakaran lahan, pihak bandara sebelumnya telah mengimbau masyarakat di sekitar kawasan agar tidak melakukan pembakaran lahan. Imbauan disampaikan melalui kepala desa, lurah, hingga tempat-tempat ibadah.
Pengelola bandara kini masih memantau perkembangan kebakaran dan kondisi jarak pandang untuk menentukan keamanan operasional penerbangan berikutnya.