Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 23 September 2026 | 15:18 WIB
Mengapa Musin Hujan Tahun Ini Telat? El Nino Kuat Jadi Dalang di Balik Kemarau Panjang
Ilustrasi kemarau mengakibatkan tanah kering. Sumber: Magnific.com

Suara.com - Penantian akan datangnya musim hujan tampaknya harus lebih bersabar. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan musim hujan 2026/2027 bakal mundur dari jadwal biasanya di sebagian besar wilayah Tanah Air, imbas dari fenomena El Nino yang kini melejit ke level sangat kuat.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen luas daratan Indonesia harus menunggu lebih lama dari biasanya untuk merasakan hujan pertama musim ini. Bandingkan dengan wilayah yang justru beruntung lebih cepat kebagian hujan, jumlahnya tak sampai 2 persen dari total daratan Indonesia.

Penyebabnya, kata Faisal, ada dua fenomena iklim yang datang bersamaan dan saling memperkuat. Pertama, anomali suhu muka laut di kawasan Nino3.4 Samudra Pasifik yang pada akhir Agustus 2026 mencapai +2,83, dengan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September tercatat +2,63 -- angka yang mengonfirmasi status El Nino sangat kuat. Kedua, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia yang pada Agustus 2026 berada di +0,376 dan diperkirakan terus menguat ke fase positif hingga akhir tahun.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," kata Faisal dalam konferensi pers "Prediksi Musim Hujan" di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Hujan Tidak Merata di Bulan yang Sama

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, awal musim hujan tahun ini akan tiba secara bergelombang dan tidak bersamaan di setiap daerah.

Gelombang pertama diperkirakan jatuh pada November 2026, mencakup 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah, meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, sebagian kecil NTT, Sulawesi, Maluku Utara dan Maluku, hingga Papua Barat bagian utara.

Gelombang berikutnya baru menyusul Desember 2026, mencakup 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah, termasuk sebagian Lampung, mayoritas Jawa dan Bali, sebagian Kalimantan Selatan, NTB, NTT, Sulawesi, hingga Papua Selatan bagian selatan.

Puncak hujan pun tak kalah bertahap. BMKG memetakan tiga periode puncak musim hujan: Desember 2026 untuk 155 ZOM (36,94 persen), Januari 2027 untuk 162 ZOM (25,68 persen), dan Februari 2027 untuk 190 ZOM (16,79 persen) wilayah Indonesia.

baca juga

Kabar baiknya, meski telat, intensitas hujan tahun ini diperkirakan tak akan ekstrem. "Musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia," ujar Ardhasena. Namun ia mewanti-wanti 147 ZOM (18,55 persen) yang berpotensi lebih basah dari biasanya, serta 42 ZOM (11,69 persen) yang justru bakal lebih kering.

Bukan cuma telat datang, musim hujan kali ini juga diramal berumur pendek. Sebanyak 482 ZOM atau 51,90 persen wilayah bakal mengalami musim hujan lebih singkat dari kondisi normal. Hanya segelintir wilayah, yakni 60 ZOM (8,58 persen), yang justru menikmati musim hujan lebih panjang dari biasanya.

Empat Bulan Tanpa Hujan di Bantul

Sembari menanti awan hujan datang, sebagian besar Indonesia rupanya masih terjebak di tengah kemarau yang belum juga usai. Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab mencatat, hingga saat ini 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia masih berstatus musim kemarau.

Dampaknya sudah terasa nyata. Titik-titik pengamatan di 25 provinsi mencatat hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari berturut-turut. Yang paling parah terjadi di Bantul, Yogyakarta, dengan catatan HTH mencapai 131 hari -- setara lebih dari empat bulan tanpa setetes hujan pun.

"El Nino 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun," kata Fachri, merujuk pada wilayah yang biasanya tak mengenal musim kemarau panjang namun kini ikut merasakannya.

Menyikapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah agar menjadikan prediksi musim hujan ini sebagai pijakan untuk bersiap lebih awal, terutama di wilayah yang rawan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan selama masa transisi menuju musim hujan.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

BMKG Sebut Hujan Turun Berangsur Guyur Area Karhutla hingga Bulan Oktober

Video | Selasa, 22 September 2026 | 22:10 WIB

Jakarta Diguyur Hujan, Operasi Modifikasi Cuaca Akhirnya Berhasil

Jakarta Diguyur Hujan, Operasi Modifikasi Cuaca Akhirnya Berhasil

News | Selasa, 22 September 2026 | 20:41 WIB

BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur, 61 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

BMKG Prediksi Musim Hujan 2026-2027 Mundur, 61 Persen Wilayah Indonesia Terdampak

Video | Selasa, 22 September 2026 | 20:05 WIB

Terkini

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Usut Korupsi ATR/BPN, KPK Bidik Proses Perpanjangan SHGB Kota Baru Parahyangan

Bekaci | Minggu, 08 November 2026 | 12:26 WIB

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS

Bisnis | Minggu, 08 November 2026 | 12:21 WIB

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

Lantik 125 Pengurus, Ketum APKLI Sebut Penyadapan Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tak Stabil

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:19 WIB

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Kerusuhan Tatura-Nunu Tewaskan Warga, Wali Kota Palu Minta Polisi Usut Dalang

Sulsel | Minggu, 08 November 2026 | 12:15 WIB

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

Seskab Teddy Ajak Masyarakat Kunjungi Sekolah Rakyat, Lebih dari 45 Ribu Anak Kembali Bersekolah

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Seni Mengenang dan Mengikhlaskan dalam Drama The Rainbow in Our Memory

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:10 WIB

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

Serukan Boikot Raffi Ahmad, Dulu Prabowo-Gibran Endorse Artis Tapi Kini Rakyat Kecewa

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:05 WIB

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

Mensos Gus Ipul Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

News | Minggu, 08 November 2026 | 12:02 WIB

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Gaji Dipotong Pajak tapi Cari Kerja Susah, Wajar Kalau Gen Z Makin 'Galak' soal APBN!

Your Say | Minggu, 08 November 2026 | 12:00 WIB

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Punya Pisang Ambon Matang? Sulap Jadi Banana Muffin Cokelat yang Lembut dan Legit!

Sumut | Minggu, 08 November 2026 | 11:55 WIB

×