-
Harga minyak dunia melonjak hingga 105 dolar AS akibat penolakan proposal damai Iran oleh Trump.
-
Rencana pembatasan ekspor diesel Amerika Serikat mengancam krisis pasokan BBM di kawasan Eropa.
-
Ekspor minyak Timur Tengah melonjak ke level tertinggi meskipun gangguan keamanan masih terus terjadi.
Suara.com - Lonjakan harga minyak mentah terjadi akibat penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian dari Iran. Kebijakan tersebut langsung mendorong harga minyak Brent melampaui angka 105 dolar AS per barel.
Ketegangan di Selat Hormuz dan belum ditemukannya kesepakatan damai menjadi pemantik utama gejolak pasar global kali ini. Pasar merespons cepat ketidakpastian diplomasi antara Washington dan Teheran pada awal pekan ini.
Gagalnya kompromi di PBB membuka mata pelaku pasar bahwa gangguan rantai pasok energi masih jauh dari kata usai. Kondisi tersebut memaksa harga minyak WTI melambung hingga mendekati angka 93 dolar AS per barel.
![Ilustrasi harga minyak bertahan di atas USD 100 meskipun AS tambah pasokan minyaknya [Suara.com/HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/07/60704-ilustrasi-harga-minyak.jpg)
Di tengah situasi yang memanas, perdagangan acuan Brent mencatat kenaikan 1,32 dolar AS atau setara 1,27 persen menuju level 105,64 dolar AS per barel.
Sementara itu, jenis West Texas Intermediate terangkat 70 sen atau 0,76 persen sehingga berada di posisi 93,11 dolar AS per barel.
Tawaran damai sebenarnya telah disodorkan utusan Teheran lewat perantara diplomatik Qatar saat Sidang Umum PBB berlangsung. Namun, Donald Trump secara tegas menolak draf kesepakatan tersebut pada akhir pekan lalu.
Meski menolak, Trump memberi sinyal bahwa utusan diplomasi Amerika Serikat bakal kembali menggelar pembicaraan lanjutan pekan ini.
Kekhawatiran pasar kian memuncak meny meny menyusul serangkaian insiden militer yang terus terjadi di sekitar kawasan Teluk.
"Risiko geopolitik tetap tinggi, karena Houthi dan Iran terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, membuat arus pasokan regional rentan," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.
Militer pimpinan Arab Saudi mengaku berhasil mencegat serangan dua rudal balistik serta dua drone miliknya kelompok Houthi.
Dinamika pekan lalu memperlihatkan tren unik di mana acuan Brent naik tipis 0,4 persen, tetapi WTI justru melemah 7,9 persen.
Penyebab penurunan acuan domestik AS adalah wacana larangan ekspor bahan bakar diesel demi mengendalikan inflasi dalam negeri.
"Dengan harga diesel AS yang mencapai rekor maka meningkatkan risiko inflasi dan kembali memicu perdebatan mengenai kemungkinan pembatasan ekspor," sebut analis ANZ.
Analis menyoroti bahwa kebijakan embargo ekspor AS justru akan membuat kelangkaan pasokan makin parah di wilayah Eropa.
Sinyal pengetatan pasokan global langsung memicu lonjakan harga di kawasan Benua Biru secara drastis.
Di sisi lain, pengiriman minyak kasar dari produsen utama Timur Tengah sebenarnya merangkak naik menyentuh 12,8 juta barel per hari.
Pencapaian ekspor September ini mencatatkan rekor tertinggi sejak perselisihan militer memuncak pada awal tahun.
Peningkatan volume pengiriman minyak terjadi seiring membaiknya lalu lintas kapal tanker di sepanjang jalur Selat Hormuz.
Laporan data Kpler mengonfirmasi pergerakan harian melalui Selat Hormuz berhasil menembus angka 7,4 juta barel per hari.
Latar belakang pergeseran logistik ini terjadi setelah serangan militer merusak pipa East-West, sehingga Arab Saudi mengalihkan jalur ekspor dari Laut Merah ke pelabuhan Ras Tanura.