- Ketua MTI Haris Muhammadun menilai KAI berpengalaman mengoperasikan KRL bekas Jepang pada Senin (28/9/2026).
- KAI mengambil opsi impor KRL bekas Jepang sebagai langkah transisi cepat untuk mengatasi penumpukan penumpang harian.
- MTI menyetujui rencana impor tersebut dengan catatan utama agar aspek keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas.
Suara.com - Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk memboyong armada Kereta Rel Listrik (KRL) bekas asal Jepang mendapat angin segar.
Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Haris Muhammadun, menilai KAI sudah teruji dan sangat berpengalaman dalam merawat serta mengoperasikan KRL bekas dari Negeri Sakura tersebut.
Langkah ini dipandang sebagai solusi paling realistis di tengah padatnya penumpuk KRL harian yang kian mendesak.
"Kebutuhan layanan pergerakan masyarakat dengan angkutan massal jenis KA ini sangat mendesak, dan jika impor baru atau beli baru, akan terlalu lama masyarakat terus berdesakan pada saat jam sibuk," kata Haris, Senin (28/9/2026).
Haris optimistis KAI sanggup mengoperasikan armadanya dengan optimal begitu izin impor disetujui.
Apalagi secara teknis, spesifikasi dan sistem perkeretaapian di Jepang dinilai sudah identik dengan infrastruktur yang ada di Tanah Air.
"Untuk jenis moda transportasi KA ini, impor atau bantuan KA bekas dari Jepang rasanya sudah sangat pengalaman dan relatif masih bisa berfungsi dengan baik," ujarnya.
Meski memberi 'lampu hijau', MTI memberikan catatan krusial agar aspek keamanan tidak dikesampingkan sedikit pun.
![Penumpang menunggu kedatangan kereta Commuterline di Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa (8/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/08/69413-commuterline-krl-kereta-rel-listrik-stasiun-manggarai.jpg)
"Untuk posisi MTI sendiri adalah setuju dengan sejumlah catatan, dan yang penting keselamatan menjadi prioritas utama," katanya menambahkan.
Solusi Transisi Penyelamat Jam Sibuk
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa opsi mengimpor KRL bekas ini diambil sebagai langkah transisi, mengingat kapasitas produksi kereta dalam negeri saat ini masih belum mencukupi kebutuhan lapangan.
"Ini sebagai transisi kita," kata Bobby saat ditanya terkait rencana impor rangkaian KRL bekas.
Bobby mengungkapkan, peremajaan armada sudah tak bisa ditawar lagi mengingat mayoritas KRL yang beroperasi saat ini sudah uzur dan menginjak usia 40 tahun ke atas.
Di sisi lain, pengadaan KRL bekas menjanjikan proses penyediaan yang jauh lebih cepat. Hanya memakan waktu satu hingga dua bulan setelah izin dikantongi, armada sudah siap didatangkan.
Angka ini jauh lebih singkat dibandingkan pengadaan KRL baru yang memakan waktu 1 hingga 2 tahun serta berpotensi mengganggu ritme produksi kereta nasional. (Antara)