Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026

Vania Rossa

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 07:05 WIB
Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026
Konferensi pers Koalisi Indonesia Tanpa Polusi di Jakarta, Kamis (1/10/2026). (Dok. Ist)
baca 10 detik
  • Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di Indonesia mencapai 202.004,30 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026.
  • Koalisi Indonesia Tanpa Polusi menyatakan karhutla menyebabkan 113.336 kasus ISPA serta memicu polusi udara lintas negara.
  • Koalisi mendesak pemerintah memperkuat pengawasan perizinan konsesi lahan dan memperbaiki tata kelola perlindungan ekosistem gambut.

Karhutla Meluas ke Wilayah Timur

Koalisi juga menyoroti munculnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.

Direktur WALHI Sulawesi Selatan Muh Amin mengatakan kebakaran ditemukan secara sporadis di sejumlah provinsi di Sulawesi. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan perlunya kesiapan sistem pencegahan dan peringatan dini di daerah yang sebelumnya tidak masuk dalam wilayah utama penanganan karhutla.

“Ruang hidup masyarakat, kebun, dan sumber air kini berada dalam ancaman serius akibat perluasan area indikatif terbakar ini,” kata Muh Amin.

Sementara itu, Risdian Kayang dari WALHI Maluku Utara menyoroti ancaman karhutla terhadap biodiversitas serta sumber penghidupan masyarakat di wilayah kepulauan.

“Meluasnya karhutla hingga ke Maluku dan wilayah kepulauan timur lainnya adalah alarm bahaya. Hutan di wilayah kami memiliki daya dukung lingkungan yang sangat spesifik, dan ketika terbakar, ia langsung mengancam sumber pangan lokal masyarakat,” ujarnya.

Risdian juga menyoroti pembukaan lahan dan tumpang tindih izin konsesi yang menurutnya turut memperbesar risiko terhadap hutan dan ruang hidup masyarakat adat.

Koalisi Desak Perbaikan Tata Kelola

Atas kondisi tersebut, Koalisi Indonesia Tanpa Polusi mendesak pemerintah mengubah pendekatan penanganan karhutla yang dinilai masih terlalu berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi.

baca juga

Koalisi meminta pemerintah memperkuat upaya pencegahan melalui transparansi data perizinan konsesi, penghentian perusakan ekosistem gambut, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan.

Selain itu, perlindungan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan di wilayah yang terdampak polusi asap, juga diminta menjadi bagian dari penanganan karhutla.

Koalisi menyampaikan tuntutan tersebut dalam konferensi pers yang digelar di Kedai Tjikini, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kasus Karhutla: 138 Orang Ditetapkan Tersangka, 68 Perusahaan Disegel!

Kasus Karhutla: 138 Orang Ditetapkan Tersangka, 68 Perusahaan Disegel!

News | Rabu, 30 September 2026 | 20:38 WIB

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

Dear Kemenlu! Ada Nota Diplomatik dari Malaysia, Tolong Dibalas: Mau Dibantu Gak Atasi Karhutla?

News | Rabu, 30 September 2026 | 17:00 WIB

Kabut Asap Pekat, Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya

Kabut Asap Pekat, Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya

Foto | Rabu, 30 September 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Sejarah Hari Batik Nasional 2 Oktober, Ini Asal-Usulnya

Sejarah Hari Batik Nasional 2 Oktober, Ini Asal-Usulnya

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 07:06 WIB

Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026

Luas Karhutla Indonesia Capai 202 Ribu Hektare hingga Juli 2026

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 07:05 WIB

Aksi peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan di Balai Kota Malang

Aksi peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan di Balai Kota Malang

Foto | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Gus Miftah Masuk Kepengurusan PBNU Baru, Ini Misi Strategis di Baliknya

Gus Miftah Masuk Kepengurusan PBNU Baru, Ini Misi Strategis di Baliknya

Entertainment | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 06:21 WIB

Pesta 9 Gol ke Gawang Bangladesh, Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026

Pesta 9 Gol ke Gawang Bangladesh, Indonesia ke Final ASEAN Cup 2026

Foto | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Sambut Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Pertamina Siapkan Layanan Energi hingga Akomodasi

Sambut Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Pertamina Siapkan Layanan Energi hingga Akomodasi

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 05:35 WIB

KAI Tuntaskan Penutupan 172 Perlintasan Sebidang

KAI Tuntaskan Penutupan 172 Perlintasan Sebidang

Foto | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Tantang Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Herdman dan Mitchell Baker Kompak Kirim Ancaman

Tantang Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Herdman dan Mitchell Baker Kompak Kirim Ancaman

Bola | Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:50 WIB

Gagal Tragis ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia Fitnah Timnas Indonesia

Gagal Tragis ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia Fitnah Timnas Indonesia

Bola | Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Bukan Sekedar Indonesia Menang 9-2, John Herdman Sebut Ada Sesuatu yang Spesial di SUGBK

Bukan Sekedar Indonesia Menang 9-2, John Herdman Sebut Ada Sesuatu yang Spesial di SUGBK

Bola | Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:27 WIB

×