- Anggota IABI Daryono mengingatkan penduduk Sumatera meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust tanpa kepanikan.
- Pergerakan Lempeng Indo-Australia menunjam Lempeng Sunda mengakibatkan akumulasi energi di zona megathrust Mentawai.
- Wilayah Sumatera Barat juga berisiko mengalami kerusakan akibat gempa darat dari sumber sesar aktif yang dangkal.
Sejarah mencatat Sumatera beberapa kali mengalami gempa besar dengan dampak serius.
Gempa kuat pernah mengguncang Bengkulu pada 2007 dan Mentawai pada 2010.
Jauh sebelumnya, gempa pada 1833 diperkirakan mencapai magnitudo 8,8 dan memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir.
Menurut Daryono, sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan tekanan yang terakumulasi di beberapa bagian zona subduksi telah mencapai atau bahkan melampaui tingkat yang pernah dilepaskan saat gempa besar pada 1797 dan 1833.
“Ini membuktikan bahwa gempa kuat di kawasan tersebut bukan sekadar ramalan berdasarkan model, tetapi bagian dari sejarah geologi pantai barat Sumatera,” katanya.
Selain ancaman gempa megathrust yang bersumber dari laut, Sumatera Barat juga menghadapi risiko gempa akibat sesar aktif di daratan.
Daryono menjelaskan, gempa yang bersumber dari sesar darat umumnya tidak sebesar gempa megathrust.
Namun, karena sumbernya lebih dangkal dan berada lebih dekat dengan permukiman, guncangannya tetap dapat terasa kuat dan menyebabkan kerusakan signifikan.