-
Arya Wedakarna meminta warga Bali tidak menyapa artis pembuat konten negatif tentang Bali.
-
Pelaku usaha pariwisata Bali diminta memberikan pelayanan setara tanpa diskriminasi status sosial.
-
Imbauan ini merespons polemik antara Billy Syahputra dan pengelola fasilitas Pantai Dreamland.
Suara.com - Anggota DPD RI asal Bali, Arya Wedakarna, mengimbau masyarakat lokal atau semeton untuk tidak perlu bersalaman maupun meminta foto ketika bertemu selebritas yang kerap membuat konten negatif tentang Pulau Dewata. Langkah tegas tersebut disuarakan menyusul ketegangan yang melibatkan presenter Billy Syahputra dengan pengelola fasilitas wisata di kawasan Pantai Dreamland.
Arya menekankan bahwa warga Bali tidak pernah silau terhadap kehadiran para figur publik karena privasi senantiasa menjadi prioritas utama masyarakat setempat. Menurutnya, seluruh wisatawan asing maupun domestik berhak mendapatkan standar pelayanan yang sama tanpa perlunya perlakuan istimewa berlebihan.
Tanggapan tersebut disampaikan Arya melalui unggahan video menyusul sorotan publik atas keluhan pelayanan yang sempat diutarakan Billy di media sosial. Ia menilai warga lokal sudah terbiasa bersikap biasa saja saat berpapasan dengan artis papan atas maupun mancanegara.
![Billy Syahputra ditemui di TPU Malaka, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Rabu (18/2/2026) [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/19/90394-billy-syahputra.jpg)
“Orang Bali itu enggak pernah heran sama yang namanya artis,” ujar Arya dalam videonya.
Penjelasan tersebut menegaskan keberadaan tradisi menghormati ruang pribadi yang membuat para pengagum maupun wisatawan ternama merasa tenang selama berlibur di Bali.
“Kita tidak pernah mengganggu, kita tidak pernah haus validasi, dan orang-orang Bali itu enggak seperti yang lain minta foto, minta selfie, mengganggu, enggak. Di Bali itu privacy nomor satu,” lanjutnya.
Sikap sopan santun warga lokal menurut Arya harus berjalan seimbang dengan standar pelayanan publik yang konsisten di seluruh sektor usaha pariwisata.
“Kalau ada artis dari luar negeri, dari luar Bali datang, ya biasain aja. Sama aja dengan pelayanan masyarakat biasa. Enggak usah diistimewakan, enggak usah terlalu didewa-dewakan, biasa-biasa saja sesuai dengan standar,” kata Arya.
Ia secara khusus mengingatkan generasi muda Bali agar bersikap cuek terhadap figur publik yang memiliki rekam jejak digital buruk terhadap daerah mereka.
“Kepada anak-anak muda Bali di seluruh wilayah ya, besok-besok kalau ketemu artis, ketemu apa yang punya catatan jelek, ya, maksudnya yang suka buat konten-konten negatif, yang suka berkomentar jelek-jelek tentang semeton kita gitu ya, ya udah,” ujarnya.
Ketimbang memanjakan pembuat konten yang kerap menyudutkan daerah, warga imbau untuk membiarkan mereka tanpa sapaan hangat.
“Enggak usah minta foto, enggak usah salaman, nanti kita takut mengganggu privacy katanya, privacy,” lanjut Arya.
Meskipun menyarankkan warga tidak perlu berlebihan menyambut artis bermasalah, Arya tetap meminta para pelaku usaha pariwisata menjaga profesionalisme kerja tanpa membeda-bedakan latar belakang tamu.
“Pesan saya pertama: jangan ada diskriminasi. Layani wisatawan asing, wisatawan domestik, mau ada duit, mau enggak ada duit, mau wisatawan kaya atau kere, layani dengan baik,” katanya.
Prinsip kesetaraan pelayanan ini berlaku mutlak bagi seluruh tempat wisata tanpa memandang status sosial maupun ketenaran sang pengunjung.
“Yang namanya konsumen itu jangan mentang-mentang konsumen itu adalah raja, ya enggak gitu konsepnya,” ujarnya.
Masyarakat Bali diimbau terus menjaga martabat wilayahnya agar tidak mudah direndahkan oleh narasi negatif para pendatang di media sosial.
“Mentang-mentang kita daerah pariwisata, tapi kita bisa dihina-hina, kita bisa dijelek-jelekkan, bukan gitu konsepnya. Orang Bali kan ada harga diri,” kata Arya.