- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat dislipidemia dan obesitas mendominasi temuan CKG Triwulan III 2026.
- Peserta yang memiliki faktor risiko penyakit tidak menular diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan.
- Dinkes DKI Jakarta mendorong perubahan gaya hidup sehat melalui program pencegahan seperti gerakan Jakarta Berjaga.
Suara.com - Hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jakarta menunjukkan sejumlah faktor risiko penyakit tidak menular masih banyak ditemukan di masyarakat. Salah satunya dislipidemia atau kondisi kadar lemak dalam darah yang tidak normal.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat dislipidemia menjadi salah satu dari lima temuan terbanyak selama pelaksanaan CKG pada Triwulan III 2026.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Octoviana Carolina mengatakan, dislipidemia ditemukan pada 67 persen dari 97.344 peserta skrining berusia 40 tahun ke atas yang memiliki hipertensi dan atau diabetes melitus.
"Dislipidemia 67 persen dari 97.344 peserta skrining berusia di atas 40 tahun dengan HT/DM (hipertensi/diabetes melitus)," kata Carolina saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu (7/10/2026), dikutip dari ANTARA.
Temuan lain juga menunjukkan persoalan berat badan dan pola hidup masih menjadi perhatian.
Obesitas berada di urutan berikutnya. Kondisi tersebut ditemukan pada sekitar 32 persen dari 2.550.391 peserta CKG berusia di atas 18 tahun.
Sementara itu, obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut ditemukan pada sekitar 30 persen peserta dari kelompok usia yang sama.
Masalah aktivitas fisik juga cukup menonjol. Sebanyak 29 persen dari 2.550.391 peserta berusia di atas 18 tahun tercatat kurang melakukan aktivitas fisik.
Adapun 12 persen peserta dalam kelompok tersebut mengalami prehipertensi, yakni kondisi tekanan darah sudah berada di atas batas normal tetapi belum masuk kategori hipertensi.
Data tersebut menjadi perhatian karena faktor-faktor risiko tersebut berkaitan dengan berbagai penyakit tidak menular yang banyak ditemukan di masyarakat.
Carolina mengatakan penyakit tidak menular beserta faktor risikonya masih menjadi salah satu perhatian dalam pelayanan kesehatan di Jakarta. Selain obesitas dan kurang aktivitas fisik, hipertensi serta diabetes juga perlu diwaspadai karena berkaitan dengan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Karena itu, peserta CKG yang ditemukan memiliki faktor risiko atau penyakit tidak langsung berhenti pada pemeriksaan. Mereka akan diarahkan untuk mendapatkan edukasi, pemeriksaan lanjutan, pengobatan, serta pemantauan di fasilitas pelayanan kesehatan.
"Khusus penderita hipertensi dan atau diabetes usia 40 tahun dan di atas 40 tahun, juga didorong dilakukan skrining risiko komplikasi organ secara lebih komprehensif," ujar Carolina.
Dorong Warga Lebih Aktif
Selain pemeriksaan, Dinkes DKI juga memperkuat upaya pencegahan melalui sejumlah program yang mendorong perubahan gaya hidup.
Salah satunya gerakan "Jakarta Berjaga" yang merupakan singkatan dari Bergerak, Bekerja, Berolahraga dan Bahagia. Program ini mengajak masyarakat menyelesaikan tantangan berjalan minimal 7.500 langkah per hari selama tiga pekan atau 21 hari berturut-turut.
Peserta juga didorong menerapkan pola makan sehat melalui konsep "Isi Piringku" serta melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari atau 150 menit dalam sepekan.
Dinkes DKI juga menjalankan tantangan "Downgrade Ukuran Bajumu" sebagai bagian dari kampanye hidup sehat. Masyarakat diajak melakukan perubahan sederhana dengan menargetkan penurunan ukuran pakaian melalui perbaikan pola makan dan aktivitas fisik.
Hingga akhir September 2026, sebanyak 4.030.702 orang telah mengikuti program CKG di Jakarta. Jumlah tersebut disebut telah melampaui target Triwulan III 2026 sebesar 36 persen.