- Gnassingbe Eyadema berhenti sekolah dasar, masuk militer, dan memimpin Togo dari 1967 hingga 2005.
- Idi Amin berpendidikan terbatas, melakukan kudeta pada 1971, serta memerintah dan meneror Uganda hingga 1979.
- Francisco Macias Nguema berpendidikan dasar, menjadi Presiden Guinea Khatulistiwa pada 1968, dan membangun rezim pembunuhan hingga digulingkan 1979.
Suara.com - Pendidikan formal yang terbatas tidak selalu menghalangi seseorang untuk mencapai puncak kekuasaan.
Sejarah politik Afrika mencatat sejumlah pemimpin yang tidak menempuh pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas, tetapi kemudian berhasil menguasai pemerintahan dan negara.
Tiga nama pemimpin negara itu ialah, Gnassingbe Eyadema dari Togo, Idi Amin dari Uganda, dan Francisco Macías Nguema dari Guinea Khatulistiwa.
Ketiganya memiliki latar belakang pendidikan yang terbatas.
Namun, perjalanan mereka setelah memasuki dunia militer dan politik justru membawa ketiganya ke dalam catatan sejarah yang sarat dengan kudeta, pemerintahan otoriter, kekerasan politik, serta pelanggaran hak asasi manusia.
Gnassingbe Eyadema: Berhenti Sekolah Berkuasa Hampir Empat Dekade
Gnassingbe Eyadema lahir dari keluarga petani di wilayah utara Togo. Riwayat pendidikannya relatif singkat sebelum ia memilih jalan militer.
Menurut pusat penelitian politik CIDOB, Eyadema bersekolah di sekolah misionaris hingga sekitar usia 16 tahun sebelum bergabung sebagai tentara dalam Angkatan Darat kolonial Prancis.
Ia kemudian menjalani dinas militer di Indochina dan Aljazair.
Eyadéma kemudian menjadi salah satu figur penting di balik pengambilalihan kekuasaan pada 1967.
Pada 14 April tahun itu, ia menjadi presiden sekaligus menteri pertahanan setelah militer menggulingkan Nicolas Grunitzky.
Salah satu bagian paling kontroversial dari sejarah Eyadema adalah keterlibatannya dalam kematian Presiden Sylvanus Olympio pada 1963.
The Guardian menulis bahwa terdapat bukti kuat Eyadéma menembak Olympio.
Eyadéma memimpin Togo selama hampir 38 tahun, sejak 1967 hingga meninggal dunia pada 2005.
Amnesty International pada 1993 bahkan mendokumentasikan laporan mengenai eksekusi di luar proses hukum, penyiksaan, kematian dalam tahanan serta penangkapan dan penahanan sewenang-wenang terhadap orang yang dicurigai sebagai lawan pemerintah.
Idi Amin: Pendidikan Terbatas Jadi Penguasa Uganda
Idi Amin menjadi salah satu simbol paling terkenal dari pemerintahan brutal di Afrika pada abad ke-20.
Amin lahir sekitar 1925 di Uganda. Masa kecilnya berlangsung dalam kondisi yang jauh dari pendidikan formal yang mapan.
Sejumlah catatan biografis menyebut Amin tidak memiliki pendidikan sekolah formal yang panjang.
Ia sempat memperoleh pendidikan dasar dan pendidikan agama Islam sebelum masuk ke lingkungan militer kolonial Inggris.
Pada Januari 1971, Amin menggulingkan Presiden Milton Obote melalui kudeta militer. Ia kemudian mengambil alih pemerintahan Uganda dan memimpin negara tersebut hingga 1979.
Human Rights Watch mencatat bahwa setelah berkuasa, Amin membentuk sejumlah aparat keamanan yang bertanggung jawab langsung kepadanya.
Dalam tahun pertama pemerintahannya saja, aparat tersebut diperkirakan membunuh sekitar 10.000 warga Uganda.
Francisco Macías Nguema: Pendidikan Dasar Bangun Rezim Teror
Francisco Macías Nguema menjadi presiden pertama Guinea Khatulistiwa setelah negara tersebut merdeka dari Spanyol pada 1968.
Berbeda dengan sejumlah pemimpin Afrika lain yang memiliki latar pendidikan universitas, Macías memperoleh pendidikan formal yang sangat terbatas.
Sebuah kajian akademik mengenai dinasti politik Guinea Khatulistiwa menyebut pendidikan formal Macías hanya sampai sekolah dasar Katolik di Mongomo.
Di sana ia belajar membaca dan menulis dalam bahasa Spanyol.
Dengan demikian, pendidikan formal Macías bahkan tidak mencapai jenjang SMP.
Human Rights Watch mencatat bahwa rezim tersebut sangat anti-intelektual.
Puluhan guru dan pejabat pendidikan dieksekusi antara 1969 dan 1976, sementara ratusan guru dipecat dan banyak sekolah akhirnya ditutup.
Ketika Macías akhirnya digulingkan pada 1979, Guinea Khatulistiwa berada dalam kondisi yang sangat buruk.
Human Rights Watch memperkirakan sekitar 20.000 orang telah terbunuh, sementara sekitar sepertiga dari populasi negara yang berjumlah sekitar 300.000 orang melarikan diri ke pengasingan.