- Operasi militer AS terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 menyebabkan lebih dari 81 pesawat militer hancur atau rusak parah.
- Kantor Anggaran Kongres melaporkan kerugian armada udara tersebut mencapai 1,9 hingga 3,3 miliar dolar AS per 1 Agustus 2026.
- Kerugian masif itu memicu kecaman politik domestik serta penolakan usulan anggaran pertahanan 2027 oleh para senator Partai Demokrat.
Suara.com - Perang di Timur Tengah kembali memberikan pukulan telak bagi militer Amerika Serikat. Dalam kampanye militer bertajuk Operation Epic Fury yang dilancarkan Washington terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, Paman Sam harus menelan kenyataan pahit.
Lebih dari 81 pesawat militer milik Amerika Serikat, mulai dari jet tempur canggih hingga drone, dilaporkan hancur atau rusak parah dalam konflik yang memasuki bulan kedelapan ini.
Laporan terbaru dari Kantor Anggaran Kongres (Congressional Budget Office/CBO) mengungkapkan bahwa estimasi kerugian armada udara AS per 1 Agustus mencapai antara 1,9 miliar hingga 3,3 miliar dolar AS.
Jika dikonversikan dengan kurs Rp17.875 per dolar AS, nilai kerugian fantastis tersebut setara dengan Rp33,96 triliun hingga Rp58,99 triliun.
Laporan CBO merinci alutsista yang terdampak mencakup 12 unit jet tempur F-15E Strike Eagle, 1 unit jet siluman F-35A Lightning II, serta 7 unit pesawat tanker KC-135 Stratotanker.
Tak hanya itu, kehilangan terbanyak didominasi oleh teknologi udara nirawak, di mana sebanyak 45 unit drone MQ-9 Reaper dilaporkan tumbang.
Fenomena tumbangnya puluhan pesawat canggih milik militer papan atas ini memicu sorotan dari para pakar militer. Perubahan peta perang modern yang kian mengandalkan drone berbiaya murah menjadi celah kerentanan utama yang dimanfaatkan lawan.
Mantan perwira Angkatan Laut AS sekaligus Chairman Killowen Group, Harlan Ullman, memaparkan analisisnya terkait keberhasilan Iran menekan kekuatan militer AS.
Kepada Al Jazeera, Ullman menegaskan betapa senjata berbiaya terjangkau mampu merusak aset militer bernilai triliunan rupiah.

"Asimetri perang menunjukkan bahwa negara kecil dengan militer kecil sekalipun dapat menimbulkan kerusakan pada militer terbaik di dunia," ungkap Harlan Ullman.
Ullman menjelaskan bahwa Iran memiliki banyak sasaran militer AS yang terbuka di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, serangan drone berukuran kecil terbukti sangat efektif melumpuhkan aset vital.
"Iran memiliki banyak target AS yang tersedia, dan Anda bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan oleh sebuah drone kecil terhadap aset militer utama. Kita telah melihat contoh-contoh hal itu di negara-negara Teluk selama konflik," tutur Ullman.
Publik AS Berang
Kerugian besar ini pun berbuntut panjang pada konstelasi politik domestik di Washington. Presiden Donald Trump kini dibanjiri kritik usai mengajukan usulan anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar AS (sekitar Rp26.812,5 triliun) untuk tahun 2027.
Langkah tersebut memicu gelombang penolakan di Kongres, khususnya dari Partai Demokrat.
Sebanyak 45 senator Demokrat dan satu senator independen bahkan melayangkan surat terbuka kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menuntut transparansi biaya perang.
Dalam surat terbuka itu, para senator menyoroti beban finansial yang harus ditanggung rakyat.
"Masyarakat pembayar pajak di Amerika sudah mengeluarkan tambahan 100 miliar dolar AS dari kantong mereka sendiri hanya untuk harga bensin dan solar yang lebih tinggi, serta setidaknya 60 miliar dolar AS lagi untuk biaya yang lebih tinggi seperti bahan pokok, hipotek, dan tiket pesawat sebagai dampak dari perang ini," tulis para senator.
Para senator menambahkan kecaman keras atas kebijakan perang tersebut. "Kini Anda meminta mereka membayar lagi untuk membiayai perang pilihan yang tidak pernah diizinkan oleh Kongres dan diluncurkan Presiden tanpa rencana strategis," tegas mereka dalam surat tersebut.
Secara keseluruhan, CBO mencatat total biaya perang AS dengan Iran per 1 Agustus telah menyedot dana sekitar 38 miliar dolar AS atau setara Rp679,25 triliun. Angka ini mencakup penggantian amunisi, alutsista hancur, hingga lonjakan biaya operasional bahan bakar.
Saat dimintai tanggapan oleh Al Jazeera mengenai laporan kerugian armada udara ini, pihak Pentagon enggan berkomentar banyak dan menyatakan tidak ada informasi tambahan.