- Lonjakan harga solar di Amerika Serikat mencapai rekor 6,50 dolar AS per galon pada 22 September 2026 akibat konflik di Selat Hormuz dan serangan terhadap kilang Rusia.
- Presiden Donald Trump mengatasi krisis dengan menyepakati impor solar dari Rusia dan mencabut sanksi energi Rusia hingga April 2027 melalui Departemen Keuangan AS.
- Kebijakan impor solar Rusia menuai kecaman keras serta memicu pembengkakan anggaran operasional bus sekolah hingga memaksa pemangkasan rute perjalanan siswa.
Suara.com - Lonjakan harga bahan bakar minyak jenis solar di Amerika Serikat mencapai titik didih yang memicu guncangan geopolitik dan ekonomi domestik.
Konflik militer antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran sejak Februari 2026 mengganggu jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menyentuh angka 109 dolar AS (setara Rp1.948.375) per barel.
Di pasar domestik Amerika Serikat, harga solar pun melambung tinggi hingga mencatatkan rekor sejarah senilai 6,50 dolar AS (setara Rp116.187) per galon pada 22 September.
Krisis solar global ini semakin parah akibat gelombang serangan drone Ukraina yang menghantam kilang-kilang minyak di wilayah Rusia, hingga menghentikan sebagian besar kapasitas produksi bahan bakar negara tersebut.
Manuver Ukraina Bikin Trump Kalang Kabut
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/21/79037-presiden-as-donald-trump.jpg)
Menghadapi situasi yang tak terkendali jelang pemilu sela, Presiden Donald Trump mengambil langkah menohok.
Dalam kunjungannya ke Irlandia, Trump secara terbuka mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur diesel Rusia, menurut laporan Al Jazeera.
Trump menegaskan bahwa kehancuran kilang minyak Rusia menjadi pemicu utama kelangkaan solar dunia yang membebani masyarakat global.
Sanksi Diangkat, Minyak Rusia Disikat
Demi menahan gelombang kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri, Trump mengambil keputusan drastis yang mengejutkan panggung politik internasional.
Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump mengumumkan telah menyelesaikan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam kesepakatan tersebut, Moskow menyetujui pengiriman ratusan ribu ton solar ke pasar Amerika Serikat dan internasional.
Menindaklanjuti pengumuman tersebut, Departemen Keuangan Amerika Serikat langsung menerbitkan lisensi umum yang secara resmi mencopot sanksi terhadap bahan bakar Rusia.
Lisensi ini mengizinkan penjualan, pengiriman, hingga impor solar asal Rusia masuk ke Amerika Serikat yang berlaku hingga April 2027.
Langkah ini menandai pembalikan arah kebijakan yang dramatis, mengingat Washington sebelumnya gencar menjatuhkan sanksi ekonomi pada sektor energi Rusia.
Sebelum mencopot sanksi impor tersebut, pemerintah AS bahkan sempat melonggarkan aturan penggunaan dyed diesel, yaitu solar khusus alat berat dan pertanian, agar bisa dipakai oleh kendaraan umum di jalan raya.
Zelensky Berang
Keputusan memboyong solar dari Rusia memicu reaksi keras dan kecaman meluas. Presiden Zelenskyy menuding Washington memanfaatkan negosiasi perdamaian sebagai topeng untuk melakukan transaksi energi dengan Moskow.
Di dalam negeri, para politisi Partai Demokrat seperti Senator Chuck Schumer dan Elizabeth Warren mengecam keras langkah tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap sekutu serta kegagalan diplomasi.
Bus Sekolah di AS Ikut Kena Dampak

Dampak krisis solar ini tidak hanya mengguncang peta geopolitik, tetapi juga merembet langsung ke kehidupan sehari-hari warga Amerika Serikat.
The Drive melaporkan bahwa salah satu sektor domestik yang paling terpukul adalah operasional bus sekolah. Pembengkakan tagihan bahan bakar memaksa distrik-distrik sekolah di berbagai wilayah memutar otak akibat alokasi anggaran yang jebol.
Sebagai gambaran, Distrik Sekolah Mishicot di Wisconsin melaporkan pengeluaran ekstra hingga 1.000 dolar AS (setara Rp17.875.000) per minggu hanya untuk menutupi biaya bahan bakar.
Berdasarkan riset terhadap 188 distrik sekolah di AS, sebanyak 63 persen distrik terpaksa menyedot dana dari program lain demi membayar solar, sementara sebagian lainnya terpaksa menguras dana cadangan.
Akibat keterbatasan anggaran ini, pihak sekolah terpaksa mengambil kebijakan pahit dengan memangkas rute perjalanan, mengurangi jumlah armada bus, hingga mewajibkan siswa berjalan kaki lebih jauh menuju titik pemberhentian.
Tidak hanya itu, berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang menjadi bagian penting dari kehidupan sekolah, seperti tur olahraga, kompetisi musik drumband, hingga kunjungan lapangan (field trip), kini berada di ambang pembatalan karena sekolah tak lagi memiliki dana untuk mengisi tangki solar armada mereka.