Aktivis Ini Temukan 'Lubang Neraka', Penyebab Kebakaran Hutan Kalimantan Sulit Padam

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:10 WIB
Aktivis Ini Temukan 'Lubang Neraka', Penyebab Kebakaran Hutan Kalimantan Sulit Padam
Asrul Putra Nanda (@asrulputrananda)
baca 10 detik
  • Aktivis mengungkap fenomena bara bawah tanah pemicu kebakaran lahan Kalimantan.

  • Kebakaran gambut yang mengering menciptakan lubang api tersembunyi yang sulit dideteksi.

  • Petugas gabungan terus memadamkan titik api bawah tanah di Palangkaraya secara intensif.

Suara.com - Aktivis kemanusiaan ini mendadak jadi sorotan publik usai membocorkan fenomena "lubang neraka" bawah tanah yang membuat kebakaran hutan Kalimantan sulit dipadamkan. Kepungan api yang membakar lapisan gambut dalam tersebut memaksa para relawan bekerja ekstra keras menembus pekatnya asap.

Kondisi kritis ini terekam jelas di akun @asrulputrananda saat tim penyelamat berjibaku memadamkan titik api tersembunyi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Penemuan bara tersembunyi ini membuka mata publik mengapa ancaman kabut asap selalu berulang setiap musim kemarau.

Asrul Putra Nanda mengabadikan momen dramatis pertarungan para petugas di lapangan saat menembus pekatnya malam.

“Inilah disebut kebakaran bawah tanah, bara api bawah tanah, lubang api, dan ini yang terjadi di kebakaran di tanah Kalimantan,” kata dia dalam unggahannya.

Semangat pantang menyerah terus ditunjukkan oleh jajaran petugas gabungan lintas instansi yang bersiaga di lokasi.

Kebakaran subterranean ini menjalar cepat melalui penumpukan sisa bahan organik yang telah mengendap bertahun-tahun di dalam lahan gambut. Sifat dasar tanah gambut yang seharusnya kaya air mendadak berubah menjadi tumpukan bahan bakar kering siap ledak.

Cuaca ekstrem dan sistem drainase berlebihan dituding menjadi biang kerok mengeringnya lapisan organik tanah tersebut. Akibatnya, bara api menjebak panas di kedalaman tanah dan sangat sukar dideteksi dari permukaan secara kasat mata.

Secara alamiah, lahan gambut terbentuk dari pelapukan vegetasi tidak sempurna yang berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang. Karakteristik lahan basah ini sangat bergantung pada kestabilan kadar air di sekitarnya.

Ketika kekeringan melanda, kandungan zat organik yang mengering memicu bara tersembunyi yang terus membara tanpa henti. Fenomena inilah yang membuat pemadaman darat membutuhkan volume air melimpah dan waktu pemulihan yang amat lama.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kabut Asap Karhutla di Kalteng Makin Pekat, DPR Desak Pemerintah Cepat Turun Tangan

Kabut Asap Karhutla di Kalteng Makin Pekat, DPR Desak Pemerintah Cepat Turun Tangan

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:58 WIB

Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...

Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:04 WIB

Menlu Malaysia: Jarak Pandang Buruk Lumpuhkan Pemadaman Udara Kebakaran Hutan Indonesia

Menlu Malaysia: Jarak Pandang Buruk Lumpuhkan Pemadaman Udara Kebakaran Hutan Indonesia

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:46 WIB

Terkini

Catatan Kritis untuk Program MBG yang Sudah Berjalan 646 Hari Lebih

Catatan Kritis untuk Program MBG yang Sudah Berjalan 646 Hari Lebih

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:09 WIB

Jarak Pandang Hanya 100 Meter, Penerbangan dari Pekanbaru Kembali Tertunda

Jarak Pandang Hanya 100 Meter, Penerbangan dari Pekanbaru Kembali Tertunda

Riau | Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:04 WIB

Belajar Memeluk Diri Sendiri Lewat Kupeluk Diriku Sendiri Sehangat Perhatianku untuk Orang Lain

Belajar Memeluk Diri Sendiri Lewat Kupeluk Diriku Sendiri Sehangat Perhatianku untuk Orang Lain

Your Say | Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:00 WIB

2 Tahun Prabowo-Gibran: Purbaya Dinilai Menteri Terbaik, Bahlil Masuk Daftar Terbawah

2 Tahun Prabowo-Gibran: Purbaya Dinilai Menteri Terbaik, Bahlil Masuk Daftar Terbawah

Video | Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Body Butter Viva yang Paling Wangi Mana? Intip 3 Varian Aromanya

Body Butter Viva yang Paling Wangi Mana? Intip 3 Varian Aromanya

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:58 WIB

Kabut Asap Karhutla di Kalteng Makin Pekat, DPR Desak Pemerintah Cepat Turun Tangan

Kabut Asap Karhutla di Kalteng Makin Pekat, DPR Desak Pemerintah Cepat Turun Tangan

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:58 WIB

Pemerintah Siapkan Perpres Baru soal Penyelesaian Utang Whoosh

Pemerintah Siapkan Perpres Baru soal Penyelesaian Utang Whoosh

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:56 WIB

Skandal di Ruang Kelas: Dosen UPN Veteran Jatim Diduga Paksa Cium Mahasiswi Hukum

Skandal di Ruang Kelas: Dosen UPN Veteran Jatim Diduga Paksa Cium Mahasiswi Hukum

Jatim | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:55 WIB

Sekuel Dr. STONE TERRAFORMING Resmi Diproduksi, Petualangan Senku Berlanjut

Sekuel Dr. STONE TERRAFORMING Resmi Diproduksi, Petualangan Senku Berlanjut

Your Say | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:50 WIB

Beli Solar Subsidi di Lampung Diawasi Ketat: Satpol PP Bakal Tongkrongi SPBU Razia STNK dan QR Code

Beli Solar Subsidi di Lampung Diawasi Ketat: Satpol PP Bakal Tongkrongi SPBU Razia STNK dan QR Code

Lampung | Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:48 WIB

×