- Kabut asap akibat kebakaran hutan di Nusa Tenggara Timur meluas hingga Timor Leste pada Oktober 2026.
- Pemerintah Timor Leste menutup sekolah selama tiga hari mulai 15 Oktober 2026 untuk melindungi kesehatan warga.
- Siswa di Dili tetap belajar di rumah menjelang ujian, sementara warga diimbau mengenakan masker saat beraktivitas.
Suara.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meluas hingga ke Timor Leste.
Pemerintah Timor Leste memutuskan menutup sekolah selama tiga hari mulai Kamis, 15 Oktober 2026, demi melindungi kesehatan siswa, guru, dan tenaga pendidikan.
Dikutip dari AFP, Kamis (15/10/2026), kabut asap tebal dari kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan kualitas udara di Timor Leste memburuk.
Di ibu kota Dili, aktivitas warga masih berlangsung seperti biasa di bawah langit yang tampak kekuningan.
Namun, sebagian besar warga terlihat mengenakan masker setelah pemerintah mengimbau masyarakat menggunakan pelindung pernapasan saat beraktivitas di luar rumah.
![335 Sekolah Ditutup akibat Kabut Asap Indonesia, ASEAN Didesak Gelar Rapat Darurat [Dok @MsiaHariIni]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/09/68589-kabut-asap-di-malaysia.jpg)
Kabut Asap Dili Memburuk, Warga Khawatirkan Kesehatan Anak
Seorang bidan berusia 30 tahun, Sonya da Costa Soares, mengatakan tingkat pencemaran udara di Dili belakangan ini sangat mengkhawatirkan.
"Baru-baru ini, polusi di Dili sangat parah," ujar Sonya kepada AFP.
Ia menambahkan, kondisi udara yang tercemar membuat matahari sulit terlihat.
Menurutnya, keputusan menutup sekolah merupakan langkah penting agar anak-anak tidak terpapar polusi yang berpotensi membahayakan kesehatan.
"Ini sangat penting agar anak-anak tidak berada dalam bahaya," katanya.
Pemerintah Timor Leste sebelumnya mengumumkan kebijakan penutupan sekolah pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Langkah tersebut diambil untuk melindungi kesehatan siswa, guru, dan seluruh komunitas pendidikan di tengah memburuknya kualitas udara.
Pemerintah juga meminta keluarga menjaga anak-anak tetap berada di dalam rumah.
Warga yang terpaksa keluar rumah dianjurkan mengenakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap.
Siswa Tetap Belajar di Rumah Jelang Ujian
Penutupan sekolah turut memengaruhi kegiatan belajar mengajar di Dili.
Meski harus belajar dari rumah, sejumlah siswa tetap berusaha mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.
Vitaliano da Costa Calapes, siswa berusia 18 tahun dari St. Ignatius Loyola College, mengatakan dirinya tetap melanjutkan belajar meskipun sekolah diliburkan sementara.
"Kami tinggal di rumah, tetapi tetap melanjutkan belajar. Kami sedang menghadapi ujian akhir," ujar Vitaliano kepada AFP.
Ia berharap kualitas udara segera membaik sehingga kegiatan sekolah dapat kembali berjalan normal dalam beberapa hari ke depan.
Harapan serupa disampaikan Felicidade Alves dos Santos Martins, yang putrinya, Febrianti, harus belajar dari rumah karena penutupan sekolah.
Menurut Felicidade, kondisi kabut asap bahkan terasa lebih buruk pada awal pekan.
Asap dari kebakaran hutan seolah menyelimuti seluruh wilayah Dili hingga kawasan pegunungan di sekitarnya.
"Polusi ini sangat berbahaya, bisa membuat kita sakit," katanya.