75 Persen Rakyat Stres, Sosiolog: Wajar, Pemimpinnya Ambil Kebijakan Tanpa Kajian!

Muhamad Yasir, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:11 WIB
75 Persen Rakyat Stres, Sosiolog: Wajar, Pemimpinnya Ambil Kebijakan Tanpa Kajian!
Sejumlah relawan mengacungkan dua jari saat Konsolidasi TKD Prabowo-Gibran Provinsi Jawa Barat di The House Convention Hall, Bandung, Jawa Barat). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/YU/aa)
baca 10 detik
  • Survei CELIOS dan Kabinet Bayangan pada 15 Oktober 2026 mencatat 75 persen masyarakat mengalami stres akibat kebijakan Prabowo-Gibran.
  • Sosiolog UMY Zuly Qodir menyatakan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah dan minim kajian mendalam memperberat beban ekonomi masyarakat kecil.
  • Zuly memperingatkan akumulasi kekecewaan warga terhadap kebijakan pemerintah berpotensi memicu gelombang protes berskala besar dari mahasiswa dan masyarakat.

Suara.com - Sosiolog Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir, menilai tingginya tingkat stres masyarakat akibat kebijakan pemerintah bukan hal yang mengejutkan. Ia menilai kondisi itu merupakan konsekuensi dari kebijakan yang berubah-ubah, minim kajian mendalam, dan tidak direncanakan dengan matang.

Hal itu disampaikan Zuly merespons survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan yang mencatat 75 persen masyarakat merasa stres akibat kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran.

"Ya gimana, pemimpinnya mengambil kebijakan tanpa kajian yang mendalam, ya pasti stres masyarakatnya. Kebijakannya lompat-lompat, apa mau dia, ya pasti streslah," tegas Zuly kepada Suara.com, Kamis (15/10/2026).

Menurut Zuly, tekanan psikologis tersebut tidak bisa dilepaskan dari persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah.

Kebijakan yang membingungkan justru berpotensi memperberat beban warga yang sedang berjuang mempertahankan penghidupan.

Salah satu contohnya adalah aturan pembatasan radius warung di sekitar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Alih-alih membangun kemitraan, regulasi tersebut dinilai berisiko mematikan usaha kecil milik warga.

Di sisi lain, kesempatan kerja yang layak juga masih menjadi persoalan di tengah meningkatnya angka pengangguran.

"Kita sedang menghadapi satu turbulensi kebijakan yang agak tidak terencana dengan baik. Kalau begini terus ya makin stres nanti masyarakatnya. Kalau pejabatnya stres enggak apa-apa ya kan dia punya duit banyak, lah masyarakatnya ini," ujarnya.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mendampingi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi di Desa Timbuseng, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar, Jumat (2/10/2026) [SuaraSulsel.id/Humas Pemprov Sulsel]
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mendampingi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah dengan prevalensi stunting tinggi dan sangat tinggi di Desa Timbuseng, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar, Jumat (2/10/2026) [SuaraSulsel.id/Humas Pemprov Sulsel]

Evaluasi Kebijakan

baca juga

Kekecewaan publik, lanjut Zuly, juga dapat dipicu oleh pelaksanaan program strategis nasional yang dinilai belum menghadirkan pemerataan kesejahteraan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menjadi sorotan karena pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditengarai berkutat di sekitar elite kekuasaan dan jejaring politik mereka.

"Fakta lapangan kan terbalik, SPPG, makan bergizi gratis itu ternyata ya berkutat di sekitar di seputaran lingkaran oligarki. Jadi tidak ada perputaran keadilan dan kesejahteraan, sebenarnya ya di lingkaran itu-itu saja," ungkapnya.

Zuly menegaskan pemerintah perlu mengevaluasi arah kebijakan dengan memprioritaskan pemulihan ekonomi masyarakat dan penciptaan lapangan kerja yang nyata.

Tanpa koreksi mendasar, kekecewaan publik berpotensi semakin meluas dan menggerus kepercayaan terhadap pemerintah.

Ia juga memperingatkan akumulasi kejengkelan masyarakat dapat berkembang menjadi gelombang protes berskala besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pengamat Kritik Bakom: Jangan Cuma Jadi Corong Pemerintah, Dengar Kritik Rakyat!

Pengamat Kritik Bakom: Jangan Cuma Jadi Corong Pemerintah, Dengar Kritik Rakyat!

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 14:38 WIB

Dapat Rapor Terburuk Versi CELIOS, Bahlil Tegaskan Tetap Rangkap Jabatan: Jalankan Perintah Presiden

Dapat Rapor Terburuk Versi CELIOS, Bahlil Tegaskan Tetap Rangkap Jabatan: Jalankan Perintah Presiden

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 18:13 WIB

Masyarakat Sipil Dorong Pemakzulan Gibran Usai Putusan MK, PKS Siap Jadi Jembatan Aspirasi

Masyarakat Sipil Dorong Pemakzulan Gibran Usai Putusan MK, PKS Siap Jadi Jembatan Aspirasi

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19 WIB

Terkini

75 Persen Rakyat Stres, Sosiolog: Wajar, Pemimpinnya Ambil Kebijakan Tanpa Kajian!

75 Persen Rakyat Stres, Sosiolog: Wajar, Pemimpinnya Ambil Kebijakan Tanpa Kajian!

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:11 WIB

Maria Ulfah Blak-Blakan Minta Anggaran Komnas Perempuan Ditambah: Kewajiban Negara!

Maria Ulfah Blak-Blakan Minta Anggaran Komnas Perempuan Ditambah: Kewajiban Negara!

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:09 WIB

Gebrakan Baru Low Tuck Kwong, Tambah Porsi Saham BYAN Jadi 10,25%

Gebrakan Baru Low Tuck Kwong, Tambah Porsi Saham BYAN Jadi 10,25%

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:09 WIB

Dari Pesisir Malang Menembus Bursa Karbon Dunia: Hutan Mangrove CMC Siap Menjaring 'Cuan Biru'

Dari Pesisir Malang Menembus Bursa Karbon Dunia: Hutan Mangrove CMC Siap Menjaring 'Cuan Biru'

Malang | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:08 WIB

Ekspor Indonesia Tumbuh 4,43%, Peluang UMKM Tembus Pasar Global Terbuka

Ekspor Indonesia Tumbuh 4,43%, Peluang UMKM Tembus Pasar Global Terbuka

Bisnis | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:04 WIB

Kabut Asap Lintas Negara, Jangan Biarkan Tanggung Jawab Menguap

Kabut Asap Lintas Negara, Jangan Biarkan Tanggung Jawab Menguap

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Jangan Tunggu Melar, Intip Rahasia Rawat 'Sabuk Nyawa' CVT Motor Matik Biar Aman Di Jalan

Jangan Tunggu Melar, Intip Rahasia Rawat 'Sabuk Nyawa' CVT Motor Matik Biar Aman Di Jalan

Otomotif | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:58 WIB

Intip Lagi Souvenir VIP Konser Syahrini Tahun 2018, Dulu Harga Tiketnya Rp25 Juta

Intip Lagi Souvenir VIP Konser Syahrini Tahun 2018, Dulu Harga Tiketnya Rp25 Juta

Entertainment | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:55 WIB

Bukan Sekadar Gudang Antik: Menjadikan Museum Laboratorium Masa Depan

Bukan Sekadar Gudang Antik: Menjadikan Museum Laboratorium Masa Depan

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:55 WIB

Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah

Media Inggris Ingatkan Kebakaran Hutan Bukan Cuma di Kalimantan, Papua Juga Parah

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:53 WIB

×