- Seniman Jepang Sho Shibuya menggambar karhutla Indonesia di sampul The New York Times pada Oktober 2026.
- Karya berjudul INDONESIA tersebut menggambarkan asap tebal akibat kebakaran hutan terburuk dalam satu dekade.
- Karya ini berfungsi sebagai pengingat visual global yang kuat mengenai dampak parah krisis lingkungan tersebut.
Suara.com - Nama Sho Shibuya tengah diperbincangkan di Indonesia. Ini setelah ia menggambar kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Indonesia di cover The New York Times.
Gambarnya yang sangat powerful ini menjadi kritikan tajam secara global betapa parahnya karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia.
Nah, buat kamu yang penasaran, berikut profil Sho Shibuya, seniman Jepang yang menciptakan cover karhutla di sampul utama The New York Times.
Profil Sho Shibuya
Sho Shibuya, seniman dan desainer grafis asal Jepang yang kini menetap di Brooklyn, New York, lahir pada 1984 di Jepang. Ia dibesarkan di Chiba setelah lahir di wilayah Fukuoka atau pinggiran Tokyo.
Sosoknya dikenal luas berkat praktik seni uniknya yang mengubah halaman depan koran The New York Times menjadi kanvas. Latar belakangnya berawal dari studi arsitektur dan karier di bidang desain grafis serta editorial.
Setelah pindah ke New York pada 2011, ia sempat bekerja sebagai art director di merek koper AWAY sebelum mendirikan studio kreatif Placeholder pada 2018. Tanpa pendidikan formal seni rupa, Shibuya mulai melukis secara otodidak sekitar 2016, terinspirasi oleh seniman lettering yang melukis inisial pada produk.
Praktik yang kemudian mendefinisikan kariernya dimulai pada April 2020, di tengah lockdown pandemi Covid-19. Dari jendela apartemennya yang sempit, ia mengamati matahari terbit setiap pagi dan memutuskan untuk melukis gradasi langit tersebut di atas berita harian The New York Times. Seri yang berjudul Sunrise from a Small Window lahir sebagai cara menyeimbangkan kecemasan berita dengan ketenangan alam.
Setiap hari ia membaca koran, berlari, lalu melukis dengan cat akrilik, menutup sebagian atau seluruh teks berita, dan menyemprotkan bahan pengawet agar kertas tidak menguning. Karya-karyanya yang diposting di Instagram segera menarik perhatian dunia karena kesederhanaan sekaligus kedalaman emosionalnya.
Seiring waktu, pendekatan Shibuya berkembang. Awalnya fokus pada langit pagi yang tenang, ia kemudian merespons peristiwa besar dengan abstraksi warna dan bentuk yang mencerminkan emosinya terhadap berita. Mulai dari kematian George Floyd, pemilu Amerika Serikat, kebakaran hutan di California atau Yunani, hingga perang dan bencana alam, ia menciptakan “event paintings” yang lebih langsung.
Ia sering membiarkan headline penting tetap terlihat atau mereduksinya menjadi elemen visual minimalis, seolah membuat billboard visual tanpa perlu caption panjang.
Karyanya telah dipamerkan di berbagai tempat bergengsi, termasuk Triennale Milano, Art Basel Miami Beach berkolaborasi dengan Saint Laurent, Tokyo National Museum bersama Fondation Cartier, Unit London, dan masuk koleksi permanen seperti Fondation Cartier pour l’Art Contemporain serta 9/11 Memorial & Museum.
Shibuya menggambarkan prosesnya sebagai cara “menghapus berita dengan alam” agar tetap waras di tengah kekacauan dunia, sekaligus mencatat waktu dan perasaan manusia. Ia menekankan konsistensi: “Saya sangat pandai melanjutkan sesuatu.”
Rutinitas pagi yang disiplin—bangun dini hari, memotret matahari terbit, berlari, lalu melukis—menjadi inti dari praktik artistiknya yang kini berlangsung lebih dari enam tahun.
Sho Shibuya Menggambar Karhutla Indonesia
Dalam konteks Indonesia, nama Sho Shibuya kembali viral pada Oktober 2026 ketika ia mengunggah karya berjudul INDONESIA di akun Instagramnya, @shoshibuya. Karya tersebut menggambarkan karhutla yang melanda Kalimantan, Sumatra, dan wilayah lain.
Menggunakan gaya khasnya yang minimalis namun mengena, Shibuya menangkap suasana asap tebal, langit yang terbakar, dan dampak lingkungan yang meluas melalui gradasi warna serta elemen abstrak di atas halaman depan The New York Times.
Karhutla 2026 menjadi salah satu yang terburuk dalam lebih dari satu dekade, diperparah El Niño, kekeringan panjang, dan praktik pembukaan lahan.
Ribuan titik panas terdeteksi, ratusan ribu hektare lahan terbakar, kabut asap beracun menyelimuti wilayah Indonesia serta negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, menyebabkan ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan, penutupan sekolah, gangguan penerbangan, dan bahkan korban jiwa di kalangan petugas pemadam.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, Shibuya juga pernah merespons gelombang demonstrasi di Indonesia dengan karya gradasi merah-putih yang menyerupai bendera nasional, mencerminkan ketegangan, penderitaan, sekaligus harapan.
Kedua karya ini menunjukkan perhatiannya terhadap isu-isu global, termasuk krisis lingkungan dan sosial di Asia Tenggara, meskipun ia tinggal jauh di New York.
Melalui karya-karyanya tentang Indonesia, Sho Shibuya sekali lagi membuktikan kekuatan seni abstrak dalam menyampaikan pesan yang mendalam tanpa kata-kata berlebihan.
Ia tidak sekadar mendokumentasikan peristiwa, melainkan mengajak penonton merasakan emosi di baliknya—kepedihan atas kerusakan alam, keprihatinan terhadap kesehatan masyarakat, dan kesadaran akan krisis iklim yang bersifat lintas batas.
Dalam dunia yang dipenuhi informasi berlimpah, pendekatan minimalis Shibuya justru menciptakan ruang kontemplasi. Karya INDONESIA tentang karhutla menjadi pengingat visual yang kuat bahwa bencana lingkungan di satu negara dapat menjadi perhatian dunia, dan seni mampu menjembatani jarak geografis maupun budaya.
Hingga kini, Shibuya terus melanjutkan praktik harian tersebut, menjadikan setiap halaman koran sebagai catatan waktu, perasaan, dan kepedulian terhadap planet yang kita tinggali bersama.
Profil Sho Shibuya sebagai seniman Jepang yang berbasis di Amerika namun peka terhadap isu-isu global, termasuk di Indonesia, memperkaya diskursus seni kontemporer yang relevan dengan realitas zaman.