- Guru Besar FEB UGM Agus Sartono menyatakan pengangguran Indonesia mencapai 7,22 juta orang per Mei 2026.
- Investasi padat modal dan penggunaan teknologi otomatisasi membuat industri gagal menyerap jutaan pencari kerja baru.
- Agus mendorong pengembangan usaha kecil di daerah serta peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa menghadapi tantangan kerja.
Suara.com - Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Agus Sartono, memberikan catatan untuk persoalan ketenagakerjaan di Indonesia.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Mei 2026 lalu sudah mencapai 7,22 juta orang.
Agus bilang besarnya nilai investasi yang masuk ke Indonesia tidak serta-merta berbanding lurus dengan jumlah lapangan kerja yang tercipta.
Investasi padat modal atau capital-intensive justru berpotensi menghasilkan penyerapan tenaga kerja terbatas ketika perusahaan mulai beroperasi.
"Jadi sebenarnya begini, investasi dari luar negeri yang masuk itu kebanyakan dari capital intensive," kata Agus dikutip, Senin (19/10/2026).
Disampaikan Agus, kemampuan industri menyerap tenaga kerja menjadi persoalan mendasar di tengah bertambahnya lulusan baru, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), serta masyarakat yang masih mencari pekerjaan.
Menurut dia, investasi padat modal dapat membutuhkan banyak tenaga kerja selama pembangunan proyek, tetapi kebutuhan tersebut belum tentu bertahan setelah operasional dimulai.
Persoalan tersebut semakin kompleks ketika pertumbuhan industri belum mampu mengimbangi besarnya pasokan tenaga kerja.
Jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja setiap tahun, sementara pencari kerja dari periode sebelumnya masih membutuhkan pekerjaan.
Persaingan pun semakin ketat, bahkan ketika lulusan perguruan tinggi harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang sebelumnya dapat diisi lulusan sekolah menengah.
"Jadi industri-industri yang menyerap kerja yang cukup besar ini, tidak cukup tumbuh untuk menampung sumber daya manusia yang besar," paparnya.
Agus menilai otomatisasi turut mempersempit kesempatan kerja karena perusahaan dapat menggantikan sejumlah fungsi pekerjaan manusia dengan teknologi.
Perubahan itu terlihat pada layanan pelanggan dan sektor perbankan, ketika pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan interaksi langsung semakin banyak dialihkan ke mesin dan layanan daring.
Di sisi lain, industri yang berpotensi menyerap banyak tenaga kerja turut menghadapi tekanan, seperti industri tekstil yang bersaing dengan produk impor.
"Memang teknologi juga membuka ruang untuk perusahaan, tapi berapa banyak orang yang bergantikan dengan mesin," tandasnya.
Keterbatasan penyerapan tenaga kerja ini, kata Agus, bukan hanya persoalan bagi pencari kerja. Melainkan juga dapat memengaruhi keberlangsungan industri.
"Kalau industri itu tidak mampu menyerap besar tenaga kerja, terus orang-orang ini tidak bekerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak punya penghasilan. Kalau dia tidak punya penghasilan, dia tidak punya daya beli, siapa yang akan membeli produk-produk industri?" paparnya.
Agus mendorong pengembangan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus memperkuat ekonomi daerah dan pasar domestik.
Aktivitas usaha kecil di desa, ia bilag, dapat menjadi salah satu sumber kesempatan kerja. Sehingga penciptaan pekerjaan tidak hanya bergantung pada investasi asing atau pembangunan industri berskala besar.
Di saat bersamaan, Agus mengingatkan perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
"Tidak apa-apa menggunakan ini, tapi menggunakan AI dan GPT itu justru akan merugikan diri sendiri, karena critical thinking skill-nya akan tergantikan oleh AI. Padahal untuk bekerja diperlukan anak seperti itu," tuturnya.
Meski kompetensi lulusan penting untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja, Agus menekankan bahwa kesiapan individu perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan kesempatan kerja.
Tanpa industri yang mampu menyerap tenaga kerja secara luas, peningkatan pendidikan dan keterampilan saja tidak cukup untuk mengatasi pengangguran.