- Guru Besar UGM Dafri Agussalim menyatakan lambannya penanganan karhutla memicu respons negatif pasar global.
- Isu lingkungan dan karhutla di Indonesia memperkuat skeptisisme investor asing serta penolakan produk sawit oleh Uni Eropa.
- Kerusakan reputasi nasional akibat karhutla menurunkan kepercayaan internasional dan merugikan upaya menarik investasi asing ke Indonesia.
Suara.com - Ketidakmampuan pemerintah menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai tak hanya memicu krisis lingkungan. Lebih dari itu penanganan yang lamban memicu dampak berantai (multiplier effect) yang mengancam arus investasi asing ke Indonesia.
Guru Besar dalam Bidang Diplomasi HAM di ASEAN dan Kepemimpinan Politik Global UGM, Dafri Agussalim, menyatakan bahwa lambannya penanganan karhutla memiliki keterkaitan erat dengan respons negatif dan skeptisisme dari pasar serta investor global.
"Bisa jadi (memperburuk investasi asing) dan itu sebenarnya sudah terjadi kan," kata Dafri, Sabtu (17/10/2026).
Dafri menyinggung kasus penolakan minyak kelapa sawit Indonesia oleh Uni Eropa beberapa tahun silam.

Saat itu salah satu alasannya didasari oleh anggapan bahwa proses produksinya melanggar hak asasi manusia serta merusak lingkungan.
Persoalan lingkungan yang dikaitkan dengan industri perkebunan besar itu, kata dia, telah menjadi perhatian dunia selama bertahun-tahun. Maka dari itu, penanganan karhutla yang belum optimal berisiko memperkuat persepsi negatif terhadap tata kelola lingkungan Indonesia.
Kondisi tersebut mempertegas sentimen negatif investor global yang sangat sensitif terhadap isu tata kelola lingkungan, kepastian hukum, dan aspek risiko investasi.
Sebagaimana alarm penyesuaian indeks pasar modal oleh institusi global seperti indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menekankan krusialnya faktor kepercayaan (trust) dan kredibilitas negara.
"Jadi sangat merugikan Indonesia. Nah ini yang kadang-kadang tidak dipahami oleh para pemimpin yang sekarang yang mohon maaf itu kadang-kadang mereka tidak mengerti konteks isu semacam ini dengan pentingnya soft power di level internasional sana," tandasnya.
Padahal, ditambahkan Dafri bahwa citra positif negara di tingkat global merupakan modal utama dalam memperkuat posisi tawar diplomatik sekaligus menarik modal asing.
"Citra, image untuk agar kita bisa memperkuat bargaining position kita di level-level multilateral atau tadi termasuk untuk kepentingan menggaet investor-investor asing ke dalam negeri," ujarnya.
Namun lagi-lagi, dampak dari penanganan bencana karhutla yang berlarut-larut dinilai sangat masif. Tidak hanya memicu krisis kemanusiaan di wilayah terdampak seperti Kalimantan, tetapi juga merusak reputasi perekonomian nasional di mata internasional.
"Multiplier effect sangat (besar). Jadi kita itu sudah jatuh tertimpa tangga ya. Keterlaluan pemerintah ini. Kasihan masyarakat di Kalimantan, di mana-mana itu. Nah bahkan dampaknya itu tadi, ke level internasional," pungkasnya.