Guru Besar UGM Soroti Risiko MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Vania Rossa, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:25 WIB
Guru Besar UGM Soroti Risiko MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia
Ilustarsi MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia. [Suara.com/Ist/MSCI-Gemini]
baca 10 detik
  • MSCI berencana menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market akibat masalah transparansi dan likuiditas.
  • Penurunan status tersebut berpotensi memicu arus keluar dana asing serta menekan nilai tukar rupiah dan obligasi.
  • Otoritas Indonesia harus membuktikan perbaikan nyata dan memperketat pengawasan pasar sebelum April 2027.

Suara.com - Guru Besar bidang Analisis Portofolio Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Tandelilin Eduardus, menyoroti rencana penyedia indeks MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Menurutnya, rencana tersebut menjadi ujian serius bagi transparansi kepemilikan saham, likuiditas, dan kualitas pengawasan bursa di mata investor global.

Konsultasi resmi MSCI yang berlangsung hingga April 2027 menegaskan bahwa rencana penurunan status tersebut hanya bisa dibatalkan jika otoritas Indonesia mampu membuktikan perbaikan nyata dalam fungsi pasar.

Tandelilin menilai ketidakpastian ini berpotensi menekan valuasi saham, meningkatkan biaya modal korporasi, serta memicu arus keluar dana investasi asing (capital outflow).

"Persoalan ini serius karena menyangkut kepercayaan terhadap cara pasar bekerja, meskipun keputusan reklasifikasi belum final," kata Tandelilin dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

Penetapan status standalone market akan membuat saham Indonesia keluar dari indeks gabungan MSCI Emerging Markets. Dampaknya, kata dia, dapat merembet pada pelemahan nilai tukar rupiah dan pasar obligasi.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta memicu krisis sistemik, selama didukung ketahanan cadangan devisa dan daya serap investor domestik.

Transparansi Kepemilikan Saham Jadi Sorotan

Lebih jauh, Tandelilin menyoroti kualitas free float atau saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara publik. Menurutnya, pencatatan administratif saja tidak cukup jika saham yang tercatat sebagai milik publik ternyata dikuasai pihak-pihak terafiliasi tanpa kejelasan pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner).

baca juga

"Besarnya arus keluar tidak layak ditebak dari total dana asing. Perhitungannya perlu mempertimbangkan aset dana pengikut indeks, perubahan bobot, posisi yang sudah disesuaikan, serta pembelian dari investor lain," ungkapnya.

Menurut Tandelilin, sanksi administratif yang dijatuhkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap sejumlah transaksi emiten besar menunjukkan bahwa penegakan hukum telah berjalan. Namun, penindakan terhadap kasus per kasus belum memadai tanpa transparansi data kepemilikan yang menyeluruh di pasar sekunder.

OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah memperketat aturan, termasuk menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen dan mempublikasikan data kepemilikan saham di atas 1 persen.

Meski demikian, Tandelilin menilai kepatuhan emiten dan verifikasi data kepemilikan secara faktual menjadi kunci keberhasilan kebijakan tersebut.

"Dalam jangka pendek, transaksi dapat melonjak saat penyesuaian, tetapi likuiditas berkelanjutan dapat menurun bila pembeli menyusut," ujarnya.

Perlu Penguatan Pengawasan dan Investor Domestik

Tandelilin mendesak otoritas terkait memperkuat koordinasi untuk memverifikasi pemilik manfaat akhir, memantau konsentrasi kepemilikan, serta menindak tegas praktik perdagangan manipulatif secara konsisten.

Pada saat yang sama, kapasitas investor institusi domestik perlu diperkuat secara profesional agar dapat membantu menjaga stabilitas pasar.

"Hasilnya perlu dilaporkan berkala kepada publik dan dibahas dengan investor. Keputusan klasifikasi tetap menjadi kewenangan MSCI, kebijakan Indonesia harus menghasilkan bukti perbaikan yang dapat diuji," ucapnya.

Tandelilin menambahkan, pembenahan tata kelola, perlindungan investor minoritas, dan kepastian hukum merupakan syarat mutlak agar pasar modal Indonesia tetap kompetitif dan dipercaya investor internasional.

"Kepercayaan investor global menjadi hasil dari perbaikan ekonomi yang nyata," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bos BEI Buka Suara soal Tuduhan Tekanan Asing ke MSCI

Bos BEI Buka Suara soal Tuduhan Tekanan Asing ke MSCI

Bisnis | Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:02 WIB

OJK Bantah Sanksi BREN, DSSA dan CUAN setelah MSCI Lempar Ancaman

OJK Bantah Sanksi BREN, DSSA dan CUAN setelah MSCI Lempar Ancaman

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Eks Mendag Lutfi Tuduh Kepentingan Singapura di Balik MSCI, Bos OJK Tidak Ambil Pusing: Kerja Aja!

Eks Mendag Lutfi Tuduh Kepentingan Singapura di Balik MSCI, Bos OJK Tidak Ambil Pusing: Kerja Aja!

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 19:30 WIB

Terkini

PDIP Tepis Jokowi Soal Operasi Politik Isu Pemakzulan Gibran: Tak Usah Sandiwara Terlalu Panjang!

PDIP Tepis Jokowi Soal Operasi Politik Isu Pemakzulan Gibran: Tak Usah Sandiwara Terlalu Panjang!

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:26 WIB

Guru Besar UGM Soroti Risiko MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Guru Besar UGM Soroti Risiko MSCI Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:25 WIB

Mitchell Baker Makin Ganas di Amerika, Cetak Brace Bantu Georgetown Bantai Pittsburgh 6-1

Mitchell Baker Makin Ganas di Amerika, Cetak Brace Bantu Georgetown Bantai Pittsburgh 6-1

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:23 WIB

Kebakaran Landa Ruang Keuangan RSUD Kota Banjar, Begini Kronologinya

Kebakaran Landa Ruang Keuangan RSUD Kota Banjar, Begini Kronologinya

Jabar | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:23 WIB

Perkuat Literasi Anak di Sorong, Ini Pentingnya Pembelajaran Sesuai Kemampuan Siswa

Perkuat Literasi Anak di Sorong, Ini Pentingnya Pembelajaran Sesuai Kemampuan Siswa

Lifestyle | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:20 WIB

Belajar dari Kerusuhan Paris: Mengapa Krisis Biaya Hidup Bisa Memicu Amarah Massal?

Belajar dari Kerusuhan Paris: Mengapa Krisis Biaya Hidup Bisa Memicu Amarah Massal?

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:17 WIB

Sinopsis A Touch of Green, Drama China Romantis Li Xian dan Zhang Jing Yi

Sinopsis A Touch of Green, Drama China Romantis Li Xian dan Zhang Jing Yi

Your Say | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:15 WIB

YouTube Uji Coba Sembunyikan Tombol Dislike, Pengguna Harus Klik Menu Tambahan

YouTube Uji Coba Sembunyikan Tombol Dislike, Pengguna Harus Klik Menu Tambahan

Tekno | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:14 WIB

Langit Jakarta Bakal Diguyur Hujan Buatan Demi Amankan Jakarta Running Festival

Langit Jakarta Bakal Diguyur Hujan Buatan Demi Amankan Jakarta Running Festival

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:14 WIB

Mengapa Gelas Minuman Dingin Basah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Gelas Minuman Dingin Basah? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tekno | Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:13 WIB

×