- Perusahaan Rusia, Rosatom, merancang pasokan listrik PLTN terapung berdurasi enam puluh tahun untuk Indonesia.
- Proyek strategis ini mencakup dua unit pembangkit terapung yang mengoperasikan total empat reaktor nuklir.
- Alexey Likhachev menyatakan kerja sama ini merupakan perjanjian nuklir sistematis pertama Rosatom di Asia Tenggara.
Suara.com - Perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, mengungkapkan bahwa kesepakatan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung untuk Indonesia dirancang mencakup seluruh siklus hidup pembangkit, yakni selama 60 tahun.
Kesepakatan ini menjadi langkah strategis Rusia untuk memperluas kerja sama energi nuklir di Asia Tenggara.
Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, menyampaikan detail tersebut kepada wartawan Rusia.
Likhachev menyebut kerja sama dengan Indonesia sebagai perjanjian nuklir sistematis pertama Rosatom di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Likhachev, potensi pengembangan energi nuklir di Indonesia cukup besar seiring pertumbuhan penduduk, meningkatnya kebutuhan listrik, dan perkembangan industri.

“Jumlah penduduk, pertumbuhan konsumsi energi, dan perkembangan industri menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap energi nuklir di Indonesia,” kata Likhachev dikutip dari strana-rosatom.
Likhachev juga menyoroti model kerja sama yang diterapkan dalam proyek tersebut. Menurut dia, kesepakatan ini memiliki karakteristik unik karena Rosatom akan memasok listrik kepada negara yang tidak berbatasan langsung dengan Rusia.
“Ini adalah kesepakatan penjualan listrik dengan negara yang tidak berbatasan dengan kami. Dengan kata lain, kami menjual listrik ke belahan dunia lain, secara kiasan,” ujarnya.
Ia menilai model tersebut berpotensi diterapkan kembali dalam proyek-proyek lain di masa depan. Rosatom memandang pendekatan ini sebagai solusi yang dapat memperluas peluang kerja sama energi nuklir lintas negara.
Kesepakatan dengan Indonesia juga disebut mencakup aspek harga, volume pasokan listrik, dan jadwal pelaksanaan yang dinilai sesuai dengan kepentingan Rosatom.
“Kesepakatan ini sepenuhnya memenuhi harapan kami, baik dari sisi harga dan volume listrik maupun jangka waktunya,” kata Likhachev.
Dua PLTN Terapung dengan Empat Reaktor
Dalam penjelasannya, Likhachev menyebut proyek Indonesia direncanakan mencakup sedikitnya dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir terapung yang akan mengoperasikan total empat reaktor.
Rencana tersebut melanjutkan kerja sama yang sebelumnya diumumkan Rosatom terkait penyediaan dua unit pembangkit terapung berkapasitas gabungan 200 megawatt untuk memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Teknologi pembangkit terapung dinilai berpotensi mendukung penyediaan energi di wilayah kepulauan yang membutuhkan pasokan listrik andal.
Meski demikian, realisasi proyek tetap bergantung pada tahapan kontrak, persiapan teknis, serta pemenuhan ketentuan keselamatan nuklir.
Durasi kesepakatan hingga 60 tahun menunjukkan bahwa kerja sama ini dirancang untuk jangka panjang, bukan sekadar pembangunan fasilitas pembangkit.