- Wamendiktisaintek Fauzan mengumumkan 1.000 kuota beasiswa spesialis tahun 2026/2027 untuk meratakan tenaga medis Indonesia.
- LPDP menyediakan 750 beasiswa, sementara 250 lainnya didukung pemda, kementerian, rumah sakit, dan mitra swasta.
- Pemerintah melampaui target dengan menambah 185 program studi baru PPDS hingga menjangkau 11 provinsi.
Suara.com - Pemerintah siapkan kuota 1.000 beasiswa pendidikan dokter dan dokter gigi spesialis untuk tahun akademik 2026/2027.
Dari jumlah tersebut, sekitar 750 beasiswa direncanakan melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sedangkan 250 beasiswa lainnya didukung oleh pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, rumah sakit, serta mitra swasta.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menyampaikan bahwa program tersebut untuk mempercepat pemenuhan dan pemerataan tenaga medis di Indonesia.
Selain pemberian beasiswa, Kementerian Diktisaintek juga lakukan perluasan penempatan residen tingkat mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan prioritas serta akselerasi pengembangan pendidikan kedokteran gigi di berbagai wilayah Indonesia
“Penambahan program studi harus diikuti dengan pemerataan tenaga medis dan peningkatan pelayanan kesehatan di daerah. Karena itu, program akselerasi ini perlu dilanjutkan dan diperkuat untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan pendidikan dokter spesialis,” kata Fauzan dalam acara Peluncuran Program Akselerasi Kedokteran Gigi dan Beasiswa PPDS di Kantor Kementerian Diktisaintek, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Ada pun beasiswa yang diprioritaskan untuk bidang spesialisasi yang dibutuhkan masyarakat, terutama spesialis dasar dan bidang prioritas kanker, jantung, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak (KJSU-KIA).
Sementara itu, alokasi beasiswa akan mempertimbangkan kebutuhan tenaga medis di berbagai wilayah, termasuk rencana pendayagunaan lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.
Direktur Utama LPDP, Yon Arsal, memastikam pihaknya akan memberikan dukungan berupa pembiayaan yang memadai.
"Kita memberikan dukungan pembiayaan yang mencakup keseluruhan. Tidak hanya tuition fee di universitasnya, tetapi juga mencakup biaya hidup dan juga biaya penelitian, biaya ujian kompetensi hingga berbagai kebutuhan penunjang lainnya yang dibutuhkan selama masa studi,” tutur Yon.
Sejak diluncurkan pada 22 Juli 2025, pemerintah mengklaim kalau program akselerasi pendidikan kedokteran telah menunjukkan kemajuan.
Pemerintah melampaui target pembukaan 148 program studi baru pendidikan dokter spesialis dan subspesialis (PPDS), dengan penambahan 185 program studi. Sehingga jumlah program studi PPDS meningkat dari 366 menjadi 551.
Perluasan kapasitas tersebut turut mendorong peningkatan jumlah peserta didik PPDS, menjadi sekitar 24.000 orang pada 2026.
Pembukaan program studi baru juga menjangkau 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program PPDS, termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua, serta mencakup enam bidang subspesialis baru.
Program tersebut nantinya diintegrasikan dengan sistem seleksi nasional PPDS melalui Panitia Seleksi Bersama Kemdiktisaintek dan Kemenkes.