- Aliansi Anti Asap berunjuk rasa di Patung Kuda Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
- Massa menuntut pemerintah segera memadamkan kebakaran hutan, menegakkan hukum, dan memulihkan kesehatan warga terdampak.
- Aliansi mendesak pengalihan anggaran program Makan Bergizi Gratis guna membantu para korban bencana karhutla.
Suara.com - Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Anti Asap menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026). Mereka mendesak pemerintah segera menangani karhutla, memulihkan kesehatan warga terdampak, hingga mengalihkan anggaran program MBG untuk membantu para korban.
Massa yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil, buruh, dan mahasiswa itu mengecam penanganan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama hampir empat bulan terakhir.
Mereka menilai bencana asap tidak terlepas dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan industri kayu yang dinilai mengabaikan kelestarian lingkungan.
Aliansi Anti Asap turut menyoroti dampak kabut asap yang meluas dari Kalimantan dan Sumatra hingga Papua. Berdasarkan data yang disampaikan dalam aksi, sebanyak 306.309 orang terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 17 Oktober 2026, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.
“Karhutla ini bersumber pada penghancuran ekologi lewat ekspansi sawit dan konsesi perkebunan kayu industri yang memakan area gambut dan menyingkirkan masyarakat adat dan lokal yang selama ini menjadi penjaga keberlangsungan alam kita,” ujar Rizal selaku koordinator aksi.
Menurut massa, alih fungsi hutan menjadi perkebunan monokultur dalam skala besar turut mengganggu kemampuan tanah menyerap air.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko limpasan air, banjir, hingga kebakaran lahan yang dampaknya harus ditanggung masyarakat sekitar.
Bentangkan Spanduk, Desak Pemerintah Padamkan Api
Dalam aksi tersebut, peserta membentangkan spanduk, mengangkat poster kecaman, dan menyampaikan tuntutan melalui pengeras suara di hadapan aparat kepolisian yang mengawal demonstrasi.
Salah satu spanduk memuat desakan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera menyelesaikan persoalan karhutla.
“Prabowo, padamkan api atau mundur!” bunyi salah satu spanduk yang dibawa salah satu peserta aksi.
Melalui maklumat resminya, Aliansi Anti Asap mendesak pemerintah segera memadamkan api sekaligus menghentikan impunitas hukum bagi korporasi yang dinilai merusak lingkungan dan merampas tanah rakyat.
Mereka juga menuntut jaminan pemulihan kesehatan bagi warga terdampak, kompensasi yang layak bagi para penyintas, serta proses hukum terhadap pejabat publik dan pengusaha yang dinilai lalai mengantisipasi bencana.

Desak Anggaran MBG Dialihkan untuk Korban Karhutla
Tak hanya menuntut penanganan kebakaran dan penegakan hukum, massa juga mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aliansi Anti Asap meminta anggaran program tersebut dialihkan untuk mendanai pemulihan dan memberikan santunan kepada warga yang terdampak bencana ekologis di berbagai daerah.
Desakan itu menjadi salah satu tuntutan utama dalam aksi mereka, di tengah besarnya dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.
Bagi Aliansi Anti Asap, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api.
Pemerintah juga dituntut memulihkan kondisi warga terdampak, memastikan pertanggungjawaban pihak yang terbukti melanggar hukum, serta mencegah bencana serupa berulang.