- Kajian Badan Pangan Nasional 2025 mencatat Jakarta menghasilkan 175.415 ton sisa pangan dengan 53.495 ton berpotensi diselamatkan.
- FoodCycle Indonesia menjalankan program Masak Bersama Berdampak untuk mengolah bahan pangan berlebih menjadi 7.000 porsi makanan siap santap sepanjang 2026.
- Pada 4 November 2026 di Jakarta Timur, karyawan PT Sahabat Intim Plasindo berpartisipasi menyalurkan ratusan porsi kepada Yayasan Al Islah.
Suara.com - Persoalan makanan terbuang atau food waste masih menjadi tantangan serius di Jakarta. Padahal, sebagian pangan yang berakhir sebagai sampah sebenarnya masih layak dikonsumsi dan dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kajian Badan Pangan Nasional pada 2025 mencatat sekitar 175.415 ton sisa pangan dan sampah makanan berasal dari sektor hotel, ritel, usaha makanan dan minuman, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lima wilayah administrasi DKI Jakarta.
Dari jumlah tersebut, sekitar 53.495 ton atau 30,5 persen masih berpotensi diselamatkan. Bahkan, sekitar 5.303 ton berpotensi didonasikan atau dipulihkan agar tidak berakhir sebagai sampah.
Salah satu upaya mengatasi persoalan ini dilakukan FoodCycle Indonesia melalui program Masak Bersama Berdampak. Program tersebut mengolah bahan pangan berlebih yang masih layak konsumsi menjadi makanan siap santap untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Prosesnya dimulai dari penyortiran bahan pangan untuk memastikan kelayakannya, dilanjutkan dengan pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan.
Sepanjang 2026, program ini telah menghasilkan sedikitnya 7.000 porsi makanan dengan melibatkan 2.280 relawan.
Kegiatan tersebut juga melibatkan perusahaan dan masyarakat sebagai relawan. Pada 4 November 2026, belasan karyawan PT Sahabat Intim Plasindo ikut berpartisipasi dalam kegiatan memasak bersama di FoodCycle Hub Matraman, Jakarta Timur.
Mereka terlibat langsung dalam penyortiran bahan pangan, memasak, mengemas, hingga mendistribusikan ratusan porsi makanan kepada Yayasan Al Islah yang menaungi ratusan lansia dan anak yatim di Jakarta Timur.
CEO sekaligus Co-Founder FoodCycle Indonesia, Astrid Paramita, mengatakan keterlibatan berbagai pihak penting untuk memperluas gerakan penyelamatan pangan.
"Kehadiran perusahaan dan para karyawannya sebagai volunteer menjadi bagian penting dalam memperluas kesadaran bahwa penyelamatan pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Dari proses memilah, memasak hingga menyalurkan makanan, setiap kontribusi membantu mengurangi pangan terbuang sekaligus memberikan manfaat kepada komunitas yang membutuhkan," ujar Astrid.
Selain melalui pengolahan surplus pangan, pengurangan food waste juga dapat dimulai dari kebiasaan rumah tangga. Masyarakat dapat membeli bahan makanan sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar, serta memanfaatkan bahan makanan secara optimal sebelum rusak atau kedaluwarsa.
Marketing Manager SHINPO, Livia Halim, mengatakan kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan sampah plastik, tetapi juga kebiasaan menghargai pangan.
"Melalui kolaborasi ini, tim SHINPO tidak hanya memberikan dukungan, tetapi ikut turun langsung sebagai relawan. Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan juga dapat dimulai dari hal sederhana, termasuk menghargai pangan, mengurangi yang terbuang, dan membagikan manfaatnya kepada mereka yang membutuhkan," kata Livia.
Dalam kegiatan tersebut, perusahaan juga mendonasikan sejumlah wadah penyimpanan makanan untuk mendukung proses penyortiran, pengolahan, dan distribusi pangan di FoodCycle Indonesia.
Menurut Livia, semakin banyak pangan yang berhasil diselamatkan, semakin besar pula manfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat.