- Henry Ford menciptakan mobil dari tanaman yang minum bahan bakar nabati 80 tahun lalu.
- Inovasi brilian ini sengaja dijegal oleh lobi industri minyak, plastik, dan regulasi pemerintah.
- Kisah kegagalannya menjadi cermin dan pelajaran penting bagi program bioetanol Indonesia saat ini.
Suara.com - Di tengah gencarnya kampanye bioetanol di Indonesia untuk lepas dari jerat impor BBM, sebuah cerita dari 80 tahun lalu kembali menjadi sangat relevan.
Ini adalah kisah tentang Henry Ford, sang visioner otomotif, dengan mobilnya yang terdengar seperti fiksi ilmiah: bodinya terbuat dari tanaman, bahan bakarnya pun dari tanaman.
Jauh sebelum isu emisi karbon dan pemanasan global menjadi momok, Ford sudah punya jawabannya, namun inovasi radikalnya sengaja 'dibunuh' oleh kekuatan besar.
Kisah tragisnya adalah sebuah cermin peringatan bagi perjuangan Indonesia hari ini.
Mobil dari Ladang, Bukan Tambang
Pada 13 Agustus 1941, Henry Ford memperkenalkan sebuah prototipe yang mengguncang dunia.
Bodinya bukan dari baja yang berat, melainkan dari bioplastik hasil ramuan serat rami, gandum, dan bahan nabati lainnya.
Hasilnya adalah sebuah mobil yang 453 kg lebih ringan dari mobil baja seukurannya, namun diklaim sepuluh kali lebih kuat. Ford bahkan membuktikannya dengan menghantamkan palu godam ke bodi mobil itu, yang memantul tanpa meninggalkan penyok sedikit pun.
Keajaiban tidak berhenti di situ. "Dapur pacunya" dirancang untuk menenggak etanol murni yang disuling dari rami atau hasil pertanian lain, sebuah konsep yang kini kita kenal sebagai bioetanol.
Ford pernah berkata:
"Mengapa menggunakan hutan, yang membutuhkan waktu berabad-abad untuk dibuat... jika kita bisa mendapatkan produk yang setara dalam pertumbuhan tahunan ladang rami?"
Ucapan visioner Ford delapan dekade lalu kini terdengar sangat familiar dengan ambisi Indonesia mendorong Pertamax Green 95 dan program bioetanol lainnya.

Lantas, Mengapa Mobil Ini Lenyap?
Jika idenya begitu brilian dan relevan, mengapa kita tidak pernah melihat mobil ini di jalanan?
Jawabannya bukanlah karena teknologinya gagal. Mobil rami Ford gagal karena berhadapan langsung dengan "tembok" kepentingan raksasa industri yang merasa terancam.
- Jegal Regulasi:
"Marihuana Tax Act" tahun 1937 secara efektif membunuh industri rami di Amerika, padahal rami untuk industri sama sekali berbeda dengan ganja untuk rekreasi.
- Lobi Industri Raksasa:
Banyak sejarawan menunjuk lobi kuat dari industri perminyakan, industri plastik berbasis minyak bumi (seperti DuPont dengan nilonnya), dan industri kertas sebagai dalang utama di balik regulasi tersebut. Mereka melihat rami sebagai ancaman mematikan bagi bisnis mereka.
- Momentum yang Hilang:
Perang Dunia II akhirnya mengubur mimpi mobil nabati ini dalam-dalam, karena fokus industri beralih total ke produksi mesin perang yang rakus akan baja dan minyak bumi.
Pelajaran untuk Bioetanol Indonesia
Kisah mobil rami Ford adalah sebuah pelajaran mahal. Ia membuktikan bahwa inovasi energi bersih sehebat apa pun akan selalu berhadapan dengan kepentingan lama yang sudah mapan.
Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan ekosistem bioetanol—mulai dari pasokan bahan baku tebu hingga persaingan dengan industri lain—adalah gema dari pertarungan yang dihadapi Ford puluhan tahun silam.
Pertanyaannya kini, bisakah Indonesia belajar dari sejarah dan berhasil di mana Henry Ford pernah dijegal?