Suara.com - Masa mudik Lebaran 2026 kini hampir usai sehubungan dengan Idulfitri yang jatuh pada 21 Maret 2026 berdasarkan ketetapan pemerintah.
Adapun tak sedikit pemudik yang telah sampai di kampung halamannya masing-masing untuk merayakan Lebaran 2026 dengan keluarga besar mereka.
Namun, arus pemudik belum sepenuhnya berhenti. Masih ada pemudik yang sedang dalam perjalanan ke kampung halaman.
Setelah libur Lebaran 2026 nanti usai, pemudik berbondong-bondong kembali ke perantauan untuk beraktivitas seperti bekerja dan menamatkan studi.
Alhasil, pemudik harus siap-siap dengan arus balik mudik, yakni kala pemudik kembali ke kota mereka merantau untuk mengadu nasib.
Puncaknya akan menghasilkan mobilitas dan kepadatan lalu-lintas yang luar biasa padat, sehingga para pemudik harus bersiap.
Lantas, kapan arus balik mudik Lebaran 2026 akan terjadi? Kapan puncaknya tiba?

Kapolri prediksi akan ada dua puncak
Berdasarkan keterangan resmi dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kakorlantas Irjen Pol Agus Suryonugroho, masing-masing dikutip Jumat (20/3/2026), arus balik Lebaran 2026 diprediksi tak jauh berbeda dengan arus berangkat mudik.
Prediksi menunjukkan bahwa akan ada dua puncak gelombang arus mudik.
- Gelombang pertama diprediksi jatuh pada hari Selasa dan Rabu, tepatnya tanggal 24 dan 25 Maret 2026. Waktu ini biasanya dipilih oleh pekerja yang masa cuti bersamanya telah habis dan harus segera kembali masuk kantor.
- Gelombang kedua diperkirakan terjadi pada akhir pekan berikutnya, yaitu tanggal 28 dan 29 Maret 2026. Periode kedua ini kemungkinan besar akan dipadati oleh masyarakat yang memiliki fleksibilitas waktu lebih lama di kampung halaman.
Pihak Korlantas Polri juga telah menyiapkan berbagai skema lalu lintas seperti sistem satu arah (one way) secara nasional.
Namun, perlu dicatat bahwa aturan ini bersifat fleksibel.
Jika kondisi jalanan terlihat mulai sepi atau melandai, petugas akan segera menghentikan rekayasa lalu lintas tersebut agar arus kendaraan dari arah berlawanan bisa kembali normal.
Berkat adanya dua puncak arus balik ini, diharapkan kepadatan di titik-titik lelah tidak terjadi secara ekstrem dalam satu hari yang sama.
Persiapan dan strategi menghindari macet puncak arus mudik
Kapolri Listyo Sigit dan Kakorlantas Agus Suryonugroho juga mengimbau agar pemudik menerapkan persiapan dan strategi untuk menghindari macet puncak arus balik mudik.
Salah satu strategi utama adalah dengan memanfaatkan kebijakan Cuti Tahunan tambahan atau sistem Work From Anywhere (WFA) jika instansi tempat bekerja memberikan izin agar bisa bekerja tanpa ke ke kantor.
Adapundengan mengambil cuti lebih panjang atau bekerja dari rumah di kampung halaman, perjalanan pulang bisa dilakukan di luar tanggal-tanggal sibuk (seperti di antara tanggal 26 atau 27 Maret).
Cara ini sangat efektif untuk menghindari kelelahan akibat macet berjam-jam di jalan.
Selain itu, pastikan untuk selalu memantau informasi terkini melalui kanal resmi kepolisian atau aplikasi navigasi.
Informasi mengenai pemberlakuan one way atau contraflow bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi di lapangan.
Selain mengatur waktu, kondisi fisik dan kendaraan juga harus prima.
Pastikan saldo kartu tol mencukupi dan bahan bakar terisi penuh sebelum memasuki jalur bebas hambatan.
Jika merasa lelah, segera beristirahat di rest area terdekat tanpa memaksakan diri.
Dengan mengikuti arahan petugas dan mengatur jadwal pulang secara cerdas, perjalanan kembali ke kota asal akan terasa lebih santai dan aman bagi seluruh anggota keluarga.
Jangan lupa juga untuk selalu mengecek kondisi kendaraan sebelum pulang, seperti tekanan ban dan air radiator kendaraan secara berkala demi kenyamanan serta keselamatan seluruh keluarga sepanjang perjalanan.
Kontributor : Armand Ilham