- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak September 2026 dan menyebarkan hujan abu vulkanik abrasif.
- Pengendara motor wajib memakai kacamata pelindung khusus rapat tanpa ventilasi samping dan menghindari penggunaan lensa kontak.
- Pemotor juga harus menggunakan masker respirator N95 serta pakaian pelindung tubuh lengkap untuk mencegah iritasi.
Suara.com - Aktivitas vulkanik di Indonesia belakangan ini sedang mengalami peningkatan yang cukup masif. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terus menunjukkan aktivitas tinggi dan bertahan pada status Level III atau Siaga.
Gunung ini dilaporkan mengalami erupsi menerus dengan jenis letusan strombolian—yaitu letusan yang memancarkan pancuran lava pijar ringan disertai suara dentuman keras—sejak awal September 2026.
Dampaknya, hujan abu vulkanik intensif menyebar luas ke perairan Selat Sunda hingga wilayah Lampung. Bahkan, sisa-sisa abu tipis juga mulai membayangi langit Jakarta dan sekitarnya.
Pengendara Motor Wajib Waspada
Penggunaan Kaca Mata Khusus Sangat Dianjurkan

Bagi pengendara sepeda motor atau pemotor, situasi ini menjadi tantangan berat yang sangat membahayakan keselamatan di jalan raya.
Pemotor adalah kelompok pengguna jalan yang paling rentan karena langsung terpapar udara luar tanpa pelindung kabin kendaraan.
Paparan debu letusan ini tidak bisa dianggap sepele karena karakteristiknya yang jauh berbeda dari debu jalanan biasa.
Pusat Geografi Nasional Amerika Serikat menjelaskan bahwa abu vulkanik sebenarnya adalah tephra, istilah ilmiah untuk semua material padat yang disemburkan oleh gunung berapi ke udara.
Abu ini terbentuk dari serpihan kecil batu bergerigi tajam, mineral, dan serpihan kaca vulkanik yang sangat keras.
Berbeda dengan abu pembakaran kayu yang bertekstur lembut, abu vulkanik bersifat sangat abrasif. Istilah abrasif ini merujuk pada sifat bahan yang sangat kasar, keras, tajam, dan dapat mengikis atau merusak permukaan objek lain melalui gesekan langsung.
Selain itu, abu vulkanik juga tidak dapat larut di dalam air. Jika terhirup atau mengenai mata pemotor saat berkendara dengan kecepatan tinggi, efeknya bisa sangat merusak fisik organ tubuh.
Untuk melindungi penglihatan saat menembus hujan abu, pemotor sangat tidak disarankan hanya mengandalkan kacamata hitam biasa atau kaca helm (visor) yang longgar.
Perlindungan mata yang wajib digunakan adalah kacamata pelindung khusus berjenis kacamata google tanpa ventilasi samping (goggles without side vents).
Spesifikasi rapat tanpa lubang samping ini krusial agar partikel abu mikroskopis tidak menyusup dari sela-sela kacamata akibat terpaan angin kencang saat berkendara.
Hindari Pakai Softlens
Pakar kesehatan juga memberikan peringatan keras bagi pemotor yang biasa menggunakan lensa kontak atau softlens. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) sangat melarang penggunaan lensa kontak selama paparan abu vulkanik terjadi.
Hal ini dikarenakan partikel abu vulkanik yang tajam dapat menyelinap dan terjebak di belakang lensa kontak, yang kemudian akan menggesek kornea mata dan berisiko tinggi memicu luka atau kerusakan permanen pada mata.
Masker Khusus untuk Lindungi Paru-Paru

Selain mata, organ pernapasan adalah benteng krusial yang wajib dilindungi. Pemotor sering kali salah kaprah dengan memakai masker kain tipis atau masker debu biasa di jalanan.
Asosiasi Paru-paru Amerika (American Lung Association) secara tegas menyatakan:
"Masker debu biasa, yang dirancang untuk menyaring partikel besar, tidak akan membantu karena masker tersebut tetap membiarkan partikel kecil yang lebih berbahaya melewatinya".
Oleh karena itu, spesifikasi masker respirator yang wajib dipakai pemotor adalah masker N95 yang telah mendapatkan sertifikasi resmi dari NIOSH.
Respirator merupakan alat pelindung pernapasan khusus yang dirancang dengan kerapatan tinggi untuk menyaring partikel berbahaya di udara.
Saat menggunakan masker N95, pemotor wajib memastikan bahwa masker terpasang dengan sangat rapat dan menempel sempurna (sealed tightly) di wajah tanpa ada celah udara sedikit pun.
Jika terpaksa menggunakan masker dengan filter HEPA (penyaring partikel udara berefisiensi sangat tinggi), Anda harus ekstra hati-hati karena jenis ini cenderung sulit disesuaikan dengan bentuk wajah dan dapat membuat pemotor merasa lebih sesak atau sulit bernapas saat berkendara.
Jangan Lupa Lindungi Kulit

Sebagai perlindungan tambahan yang tidak kalah penting, lindungi juga kulit Anda dari iritasi akibat sifat korosif debu vulkanik.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyarankan pemotor untuk selalu mengenakan pakaian pelindung luar yang menutupi seluruh tubuh.
Kenakan jaket lengan panjang, celana panjang tebal, serta alas kaki yang kokoh seperti sepatu bot kulit guna meminimalkan paparan abu langsung ke kulit yang dapat menyebabkan gatal-gatal dan peradangan.
Dengan persiapan matang dan alat pelindung yang tepat, perjalanan berkendara di tengah ancaman abu vulkanik Anak Krakatau akan menjadi jauh lebih aman.