- PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia di Karawang tetap mempertahankan tenaga kerja manusia meskipun menerapkan otomatisasi secara bertahap.
- Perusahaan membekali karyawan dengan pelatihan keterampilan modern dan menerapkan sistem kerja inklusif tanpa membedakan latar belakang.
- Pabrik memanfaatkan alat bantu mekanis non-energi untuk meringankan beban fisik pekerja guna menjaga kualitas dan daya saing.
Suara.com - Penggunaan robotik dan sistem otomatisasi kian marak di industri otomotif global. Meski demikian, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) memilih untuk mempertahankan peran penting tenaga kerja manusia di lini produksi kendaraan.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, I Nyoman Winaya menjelaskan bahwa langkah otomatisasi di fasilitas manufaktur Toyota diterapkan secara terukur tanpa mengesampingkan pengembangan sumber daya manusia.
"Kami melakukan otomatisasi secara bertahap sesuai dengan kebutuhan proses produksi. Namun, di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa kemampuan dan kompetensi karyawan terus dikembangkan," ujarnya di Karawang, Jawa Barat, Rabu (30 September 2026).
Menghadapi dinamika industri manufaktur yang cepat berubah, para karyawan TMMIN dibekali berbagai keahlian baru. Pelatihan tidak hanya berfokus pada operasional rakitan fisik, tetapi juga mencakup penguasaan teknologi modern seperti pemrograman komputer.
Dalam operasional harian, pabrik Toyota menerapkan prinsip All Member All Process (AMAP). Sistem ini membuka peluang bagi seluruh anggota tim untuk berkontribusi di bermacam lini kerja sesuai tingkat kompetensi yang dimiliki.
Pendekatan ini diterapkan secara merata tanpa membedakan latar belakang usia, gender, maupun kondisi fisik. Fasilitas pabrik TMMIN kini tercatat menampung lebih banyak tenaga kerja wanita dibandingkan periode sebelumnya.

"Saat ini, jumlah pekerja wanita di TMMIN telah mencapai lebih dari 200 orang," kata Nyoman.
Guna mendukung efisiensi kerja bagi sumber daya manusia dengan beragam kemampuan, pabrik turut memanfaatkan inovasi mekanisme karakuri. Alat bantu mekanis non-energi ini dirancang untuk meringankan beban fisik pekerja saat merakit komponen kendaraan di lini produksi.
Melalui integrasi teknologi dan fleksibilitas tenaga kerja, manufaktur otomotif ini berupaya menjaga kualitas produksi sekaligus meningkatkan daya saing pekerja lokal.