Oleh: Iverdixon Tinungki
Untuk meramaikan Sangihe Writers & Riders Festival (SWRF) 2021, berikut ini kami sajikan catatan perjalanan menyusuri jejak 9 kerajaan yang pernah berdiri sejak abad 15 di Kepulauan Sangihe Talaud.
Saya tak punya frasa lebih, untuk mendeskripsikan keindahan Biaro, ketika kapal yang kutumpangi melabuh di Sawangino pada 2013. Itu pertama kali saya sampai di Lamanggo, pulau Biaro, ditemani Opa Hersen Anise, seorang pelaut tua yang pernah mengemudikan kapal bertonase besar melayari route internasional. Tak ada tanjung dan terusan di berbagai benua yang tak pernah dilalui kapal yang dikemudikannya. Hersen Anise adalah salah satu dari ribuan anak-anak bahari Nusa Utara (Sangihe Talaud) yang telah membuat sejarah dalam mengarungi samudera di planet bumi.
Tentang perairan di depan Lamanggo, kata Opa Hersen, memiliki titik yang dalam. Menjadi tempat kawin ikan-ikan paus yang melintas kawasan itu. Dalam beberapa hari mengelilingi Biaro, berperahu menuju Tope dan Buang, saya jadi ingat catatan Brilman saat menumpangi sebuah kapal milik perusahaan Koninklijke Paketvaart Maatschappij (K.P.M) yang melintas di sana, di tahun 1927. Misionaris Daniel Brilman menarasikan pulau Biaro sebagai keindahan di bawah kaki langit yang mendatangkan suatu kenikmatan.