alexametrics

Catatan: Polemik Pajak Bakso Son Hajisony, Bunuh Diri Jika Hengkang

Catatan: Polemik Pajak Bakso Son Hajisony, Bunuh Diri Jika Hengkang
Catatan: Polemik Pajak Bakso Son Hajisony, Bunuh Diri Jika Hengkang dari Bandar Lampung

Bus wisatawan saat parkir di depan gerai Bakso Son Hajisony Jalan Pramuka, Bandar Lampung. LAMPUNGPRO.CO/AMIRUDDIN SORMIN

Minggu, 25 Juli 2021       271 Views      Amiruddin Sormin      EKBIS BANDAR LAMPUNG (Lampungpro.co): Bagi  pecinta kuliner yang lama tinggal di Jawa, sebenarnya rasa Bakso Son Hajisony itu biasa-biasa saja. Di berbagai kota di Jawa, rasa seperti Bakso Son Hajisony itu mudah didapatkan.


Itulah mengapa ketika pertama kali bertugas di Lampung, saya belum tergoda mencoba sensasi bakso yang banyak dibahas para pencinta kuliner. Namun suatu hari, mata saya tertumbuk pada sebuah kalimat di meja Bakso Sonhaji Sony bertuliskan 'Makan bakso jadi enak karena pakai saos dan kecap itu biasa. Namun bakso enak tanpa saos dan kecap, itu baru luar biasa,"

Kalimat itu saya baca di gerai Bakso Sonhaji Sony di Jalan Radin Inten, Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung, usai meliput aksi unjuk rasa di Bundaran Tugu Adipura. Tertarik dan setuju dengan kalimat itu, saya pun memesan satu mangkok karena penasaran ingin membuktikan kalimat itu. 

Ternyata benar, tanpa saos dan kecap, Bakso Sony, layak dapat jempol. Dari situlah, saya jadi penggemar bakso yang kini memiliki 18 cabang di Bandar Lampung dan sekitarnya itu. Tamu-tamu yang datang dari Jakarta pun beberapa kali saya ajak mampir sambil berseloroh, "Kalau nyari ayam goreng ngapain lu jauh-jauh ke Lampung."

Sebagai jurnalis yang pernah menjadi redaktur halaman ekonomi bisnis harian tertua di Lampung, saya belum pernah mewawancarai langsung H. Sony, pemilik bakso ini. Namun saya mengikuti kiprahnya lewat cerita kawan-kawan, berita media, dan melihat langsung bagaimana perkembangannya. 

Info yang saya dapat dari semula satu gerai di Jalan Wolter Monginsidi. Kemudian, beternak sapi sendiri dari sebelumnya membeli daging sapi, sehingga di gerai Bakso Son Hajisony 1, selain dapat menikmati bakso, juga ada penjualan aneka tetelan, jeroan, tulang, dan bagian-bagian sapi yang tak digiling jadi bakso.

Selain menambah gerai, produknya pun tak sebatas bakso kuah. Mulai menjual bakso beku beserta bumbu rahasianya, mpek-mpek, hingga otak-otak yang bukan berbahan daging sapi. 

Perlahan, Bakso Son Hajisony pun berubah dari sekedar jajanan pengganjal perut, menjadi salah satu ikon kuliner Lampung. Setiap weekend dan long weekend, dereten mobil dan bus luar Bandar Lampung, menyemut di setiap gerainya. 

Terlebih sejak Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) beroperasi penuh dari Palembang ke Bakauheni pada 9 Maret 2019, mobil-mobil yang parkir didominasi berplat BH, BG, B, T, D, dan F. Nyaris tak terlihat yang berplat BE. 

Bakso ini pun bermetamorfosis jadi bagian dari wisata Lampung. Saya yakin di list kuliner para wisatawan ada nama Bakso Son Hajisony. Apalagi, netizen nyaris tak pernah bosan mengunggah dan mengulik bakso yang krenyes-krenyes ini di berbagai media sosial. Bahkan, ada yang 'membaptis' belum ke Lampung kalau belum makan Bakso Son Hajisony.

Dari latar belakang dan komunitas penggemar bakso inilah, saya termasuk yang yakin Bakso Sonhaji Sony tak akan hengkang dari Bandar Lampung, ketika manajemennya membentangkan spanduk pemberitahuan akan pindah keluar kota lantaran juru tagih Pemkot Bandar Lampung meminta pajak. Pundi-pundi Pemkot Bandar Lampung memang sebagian besar diisi dari pajak dan retribusi.

Wajar jika kemudian amat detil menghitung gemerincing keping demi keping rupiah yang masih ke kantong pengusaha melalui tapping box. Ini alat paling sahih yang diakui Pemkot Bandar Lampung, sementara pemilik Bakso Son Hajisony tak mengakuinya. 

Silang sengketa yang berujung penyegelan enam gerai itu pun berujung pada ancaman akan angkat kaki dari Bandar Lampung. Namun lagi-lagi saya melihat ini cuma 'gertakan' dan ancaman agar Pemkot Bandar Lampung bersedia menghitung pajak tanpa tapping box.

Mengapa saya yakin? Ya, itu tadi, Bakso Son Hajisony ini dibesarkan oleh aktivitas pariwisata. Dan, transit semua wisatawan di Lampung itu pasti Bandar Lampung, kemana pun destinasinya. Mau ke Pahawang, pasti menginap di Bandar Lampung dan saat itulah bakso ini jadi pilihan sebelum dan sesudah ke Pahawang agar sah disebut ke Lampung.

Itulah mengapa ada yang berani membangun hotel tertinggi se-Sumatera di Jalan Radin Inten. Saya yakin investornya pasti menghitung jumlah mobil yang parkir di depan semua gerai Bakso Son Hajisony, sebelum berani pinjam uang ke bank, karena saya tahu investor hotel ini rajin blusukan makan ke tempat-tempat seperti bakso ini.

Sayangnya, sejak awal Juli 2021 yang berujung penyegelan enam gerai, hingga tulisan ini diturunkan belum ada titik temu antara manajemen dan Pemkot Bandar Lampung, meski mediasi berulangkali dilakukan. Daripada angkat kaki, solusi terbaik menurut saya adalah berunding dengan dilandasi 'jangan ada dusta di antara kita'. 

Pindah tempat usaha itu bukan perkara mudah. Apalagi yang percaya setiap tempat ada 'hokinya'. 

Lihatlah Rumah Makan Begadang. Meski punya lima rumah makan dan satu restoran, tetap tak mau menutup Begadang 1 yang di Pasar Bambukuning yang susah parkirnya, karena dari situlah semua cerita Begadang yang juga ikon kuliner Lampung ini bermula. Pun manajemennya sepakat memakai tapping box, walau pernah disegel oleh Pemkot Bandar Lampung.

Menurut saya, lebih energi manajemen dicurahkan bagaimana menstandarkan rasa setiap gerai. Menstandarkan rasa kuah di gerai Bakso Son Hajisony 1 dan yang di Natar, misalnya. Atau yang dalam bahasa rekan jurnalis Ardiansyah, bagaimana agar rasa bakso sama selama 24 jam dan setiap saat. 

"Dulu beli siang, sore, dan malam rasanya beda. Padahal tempatnya sama. Dulu saya jadi quality control Bakso Sony. Setiap makan bakso maka saya kasih penilaian. Alhamdulillah sekarang range rasa antar gerai sudah tidak terlalu jauh," kata Ardiansyah.

Bagi saya, Bakso Son Hajisony bukan sekedar kuliner khas. Tapi aset yang harus dipelihara agar terus berkembang tak hanya di Lampung, tapi bisa bersaing di tingkat global. 

Kita membutuhkan Bakso Son Hajisony untuk mendobrak pasar global. Potensinya besar. Ingat orang Lampung ini bekerja di berbagai negara sebagai pekerja migran Indonesia di Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia, hingga Timur Tengah yang bisa dijadikan jembatan untuk mengarungi pasar global. 

Perbaiki mutu, kemasan, dan terutama pertahankan rasa. Gandeng e-commerce, buka website, aktifkan media sosial, dan bentuk komunitas untuk menembus pasar nasional dan global. Hindari berkonflik dengan pemerintah, karena konsumen amat peka dan sensitif dengan isu-isu pajak. Konsumen umumnya tak suka dengan perusahaan yang 'ngemplang' pajak dan merusak lingkungan.

Go! Bakso Son Hajisony. Berpikir dan bertindak seperti perusahaan global dengan tidak melupakan dimana akar tempat tumbuh. Meninggalkan Bandar Lampung, menurut saya, sama dengan cabut dari akar dan itu bunuh diri. Salam...(Amiruddin Sormin, Jurnalis tinggal di Bandar Lampung).
 

#bakso son hajusony # kuliner # kuliner khas # bandar lampung # pajak # pemkot bandar lampung # tapping box

Terkini