SUARA PEKANBARU - Niat I'tikaf di Bulan Ramadan, kapan boleh dilakukan? Allah SWT memberikan keleluasaan pada hambaNya untuk beribadah memanfaatkan bulan yang agung Ramadan.
Satu di antara amalan di Bulan Ramadhan adalah melakukan I'tikaf. Ibadah yang disunnahkan Nabi Muhammad ini adalah aktivitas berdiam diri di masjid.
Tujuan dari dilakukannya ibadah i'tikaf adalah mendapat pahala berlipat.
Untuk melakukan i'tikaf maka harus disertai dengan niat. Meski I'tikaf hukumnya sunnah, akan tetapi sangat dianjurkan.
Dalam buku Tuntunan Ibadah Ramadan dan Hari Raya karya R. Syamsul dan M. Nielda, disebutkan Nabi Muhammad selalu menjalankan ibadah i'tikaf.
Nabi Muhammad bisa melakukan ibadah i'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Dalam hadits dari Aisyah r.a.:
Artinya: "Bahwasanya Nabi SAW beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan sampai beliau dipanggil Allah Azza wa Jalla, kemudian istri-istri beliau (meneruskan) beri'tikaf setelah beliau wafat." (HR Muslim).
Dengan melakukan ibadah I'tikaf pada 10 malam terakhir Ramadan akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kemudian orang yang melakukan i'tikaf akan meraih keistimewaan lailatul qadar.
Niat Beri'tikaf
Dari mazhab syafi'i untuk melakukan i'tikaf harus diawali dengan niat.
Latin: Nawaitul I'tikafa fii haadzal masjidi sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Aku berniat i'tikaf di masjid ini, sunah karena Allah ta'ala." (*)