SUARA PEKANBARU - Dalam Islam dipandang istimewa pada pasangan yang sudah menghalalkan hubungannya dengan pernikahan yang sah.
Apalagi, menikah termasuk ibadah terlama yang dilakukan oleh setiap manusia. Tetapi, ada perselingkuhan di dalam pernikahan tersebut.
Selingkuh baik si pria maupun wanita yang sudah menikah, kerap kali membuat rumah tangga yang telah dibangun itu retak, bahkan berujung perceraian.
Selingkuh tak hanya dilakukan oleh pria, tetapi juga sering dilakukan oleh wanita. Perselingkuhan sering terjadi meski wanita dan pria itu sudah sama-sama menikah.
Oleh karena itu, penceramah asal Cirebon Buya Yahya menerangkan, penyebab wanita dan pria selingkuh meski sudah menikah.
Dalam kanal YouTube Al Bahjah TV, Buya Yahya mengungkapkan, selingkuh adalah perbuatan seseorang yang melakukan hubungan haram padahal ia sudah mempunyai pasangan yang halal.
"Selingkuh maknanya adalah melakukan hubungan haram, (padahal) sudah punya yang halal, Naudzubillah," ucap Buya Yahya.
Selingkuh merupakan perbuatan yang hina, dan akan terhinakan pula seseorang yang melakukan perbuatan tersebut.
Sebab, ia sudah memiliki hak yang halal dari pasangan yang menikahinya, namun tetap memilih melakukan yang haram dengan selingkuh.
Baik laki-laki dan perempuan, siapapun yang melakukan perbuatan selingkuh tersebut dianggap hina.
Baca Juga: Virgoun Klarifikasi Perselingkuhan, Inara Rusli Singgung Soal Pendusta dan Azab
"Terhinakan laki-laki seperti itu. Sudah punya (yang) halal di rumahnya, ternyata melakukan yang haram," kata Buya Yahya.
Seseorang yang sudah terikat perkawinan, tetapi selingkuh disebut telah melakukan zina muhsan.
Pelaku zina muhsan, kata Buya Yahya, baik laki-laki dan perempuan akan mendapat hukuman berat dari masyarakat maupun secara syariat, karena itu zina muhsan wajib dihindari.
"Sudah punya halal di rumahnya, ternyata melakukan yang haram. Namanya zina muhsan, dan kalau seandainya perlu ditegakkan hukum, maka dia dirajam sampai mati, dan dia mendapat kehinaan. Tapi kalau sudah dirajam di dunia, nggak dihukum lagi di akhirat," kata Buya Yahya. (*)