Suara Ponorogo – Di tengah sunyi dan sepi, dua orang nenek lansia memilih hidup di sebuah dusun terpencil tengah hutan, lereng pegunungan Kapur di Ponorogo, Jawa Timur.
Dua sosok nenek lansia, Mbah Situng (60) dan Mbah Bibit (55), menarik perhatian saat mereka memilih tinggal dalam sebuah rumah di dusun yang telah ditinggalkan oleh penduduknya sejak awal tahun 2000an.
Keputusan mereka ini diungkapkan melalui saluran YouTube "Jejak Richard". yang diunggah Kamis (27/8/23)
Mereka berdua, yang tengah melangkah pada tahap kehidupan yang membutuhkan perawatan dan dukungan, memilih untuk menetap di Dusun Mati, sebuah kawasan terpencil yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon.
Hidup di tempat terpencil ini, bagi mereka, adalah pilihan untuk bertahan hidup dengan mengandalkan pertanian demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kisah menarik ini semakin mengharukan ketika diungkapkan bahwa kedua nenek tangguh ini harus berjalan sejauh 700 hingga 1.000 meter, dengan melewati tanjakan dan turunan, untuk mendapatkan sumber air yang menjadi kebutuhan vital mereka.
Kehidupan yang keras dan tantangan yang harus mereka hadapi tidak mampu meruntuhkan semangat mereka untuk tetap tegar.
Mbah Bibit, salah seorang dari dua nenek lansia ini, berbicara tentang pilihan hidup yang mereka buat.
Ia mengungkapkan bahwa mereka tinggal bersama di rumah ini karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal lainnya.
Baca Juga: Kemenhub Bentuk Tim Tangani Isu Rangka Patah eSAF Motor Honda
"Saya tinggal di sini bersama saudara saya. Dahulu, kampung ini ramai penduduk, tetapi kini semuanya telah pergi. Hanya kami yang tersisa," tutur Mbah Bibit dengan lirih.
Dalam percakapan yang lebih mendalam, Mbah Bibit menekankan bahwa meskipun banyak warga dan pihak lain yang telah mendorong mereka untuk pindah, mereka tetap bersikeras bertahan.
Baginya, rumah ini merupakan satu-satunya aset berharga yang dimilikinya. "Entah enak atau tidak, yang pasti ini rumah kami sendiri. Kami dilahirkan di rumah ini. Meskipun sumber air jauh, tetapi itu tidak menjadi masalah besar," ujarnya dengan mantap.
Mbah Situng dan Mbah Bibit adalah contoh nyata bahwa nilai-nilai kekeluargaan dan rasa memiliki terhadap tempat kelahiran dapat menjadi pendorong kuat untuk bertahan dalam menghadapi segala cobaan.