BANDUNG - Sikap dan kepemimpinan seorang kapten tim menjadi hal seru yang dibahas pada acara Persib Goes to Campus bersama Prodi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin 15 Agustus 2022.
Sebab, seorang kapten tidak hanya soal sosok, namun harus memiliki banyak hal penunjang kepemimpinannya di lapangan.
Mengangkat tema "Sepakbola dan Edukasi Politik: Teamwork, Leadership dan Fairplay", sarasehan menghadirkan dua pemain PERSIB, I Made Wirawan dan Kakang Rudianto. Keduanya merupakan sosok pemain yang pernah menyandang ban kapten.
Made merupakan salah seorang sosok yang kerap menyandang ban kapten PERSIB. Sementara Kakang dipercaya menjadi kapten saat membela Diklat PERSIB dan Tim Nasional U-19.
Menurut Made, di sepakbola profesional, sosok seorang kapten tidak lagi harus putra daerah. Dikatakanya, seorang pelatih akan menunjuk kapten yang siap dan mumpuni. Ia mencontohkan, selain dirinya, saat ini PERSIB punya sosok kapten lainnya yaitu Dedi Kusnandar, Achmad Jufriyanto, Victor Igbonefo, dan Marc Klok.
“Karena saat ini era profesional, maka tidak lagi memandang kedaerahan. Untuk kriteria, pelatih punya penilaian masing-masing dalam memilih seorang pemain menjadi kapten,” kata Made.
Menurut Dekan FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Ahmad Ali Nurdin, Ph.D., sebenarnya seorang leader harus punya ketenangan, selain jiwa kepemimpinan. Hal tersebut dimiliki Made dan Kakang. Dikatakannya, keduanya bisa keluar dari tekanan, membuat pemain tetap tenang dalam situasi sulit dan mampu mengambil keputusan secara tepat dan cepat.
“Made misalnya, saat gol (lemparan ke dalam Alfeandra Dewangga) kemarin. Bagaimana dia mengambil keputusan dalam hitungan detik, mau menangkap atau dilepaskan. Dia juga cermat. Melihat tidak ada yang mengenai bola, maka dilepaskan adalah keputusan tepat sehingga tidak menjadi gol,” jelas Ali.
Selain membahas sosok kepemimpinan di lapangan, diskusi juga menyinggung kesamaan antara sepakbola dan ilmu politik yaitu membutuhkan pemimpin untuk mencapai satu tujuan. Begitu juga dalam politik, ada peran wasit seperti halnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu).
Baca Juga: Beredar Video Tangis Brigadir J Sebelum Tewas Dibunuh
“Keduanya juga ada komentator. Sportivitas juga harus ada di politik. Jadi, mungkin nanti bisa ada penelitian terkait kesamaan ini,” ucap Ali saat memberikan sambutan.
Ia pun menyambut baik adanya acara PERSIB Goes to Campus. Ke depan, ia berharap bisa menjalin kerja sama dalam hal lainnya seperti penelitian dalam kaitan politik dan sepakbola dan sebagainya.
“Ini adalah bentuk kerjasama PERSIB dengan FISIP UIN. Ini bagus untuk mendekatkan juga PERSIB dengan mahasiswa sebagai bobotoh. Tapi tidak hanya itu, kita juga mengaitkan sepakbola dengan fakultas kami. kami bisa belajar seperti apa sepakbola, dan sebaliknya sepakbola juga bisa memahami bagaimana politik,” ucapnya.
Dalam pandangan Kepala Jurusan Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Asep Abdul Sahid, M.Si, sosok kapten menjadi hal vital dalam sebuah tim. Sebab, seorang kapten harus menjadi jembatan antar pemain hingga menghadapi tekanan dalam posisi terpuruk.
Ia pun sepakat adanya keasamaan sepak bola dan politik. “Idealnya memang harus ada sikap fairplay. Seperti halnya sepakbola, bermusuhan hanya 90 menit, maka politik pun ada batasan aturan yang ditetapkan, seperti halnya kapan waktu masa tenang dan lainnya,” ucap Asep.
Soal permusuhan 90 menit, Made punya cerita menarik. “Saya dulu dekat dengan Hariono. Namun, sebagai pemain, kita akan berjuang maksimal untuk masing-masing tim yang dibela. Kami tetap respect, tapi di atas lapangan akan bermain habis-habisan. Tidak melihat dia teman atau saudara. Setelah itu, 90 menit selesai, kami kembali biasa lagi,” ucapnya.